Terjerat Cinta Anak Bos

Terjerat Cinta Anak Bos
TUJUHBELAS Rencana Gina


__ADS_3

Penampilan Gina nampak berbeda sesudah Raya dan Bian pulang dari rumahnya. Gina lebih segar dan sudah berganti baju dengan baju tidur sexy nya.


“Aku hanya ingin kalian salah paham sama Fian. Dengan begitu aku bisa menikah dengannya. Hahaha….”


Gina bercermin di cermin kamarnya ia memulaskan bedak dan memakai lipstick merah.


“Aku sudah muak melayani tua bangka itu, kalo bukan karena hutang orang tua ku, aku gak mau melayani nafsu busuknya itu,”


Sebuah mobil berhenti di depan rumah Gina, dan ternyata yang keluar dari mobil itu adalah Pak Pras. Pak Pras masuk ke dalam rumah setelah pembantunya membukakan pintu.


“Dimana dia?” tanya Pak Pras.


“Di kamar tuan,” jawab pembantu itu.


Pak Pras melanjutkan langkahnya menuju kamar Gina.


“Kau tidak menyambut ku?” ucap Pak Pras setelah membuka pintu dan masuk kamar Gina.


“Maaf sayang tadi aku sibuk berhias untuk mu, kan kalo aku cantik kamu juga suka,” jawab Gina dengan nada manja dan menggoda.


Gina melingkarkan tangannya di pundak lelaki paruh baya itu. Pak Pras mencium bibirnya dan mereka pun berciuman. Tangannya melayang menyusuri lekuk tubuh Gina yang lenjang. Kini ciuman itu berpindah ke leher Gina dengan penuh nafsu.


“Sayang, mandi dulu gih, tubuh mu berkeringat,” Gina menghentikan aktivitas Pak Pras yang sudah bernafsu.


Pak Pras berhenti dengan aktivitasnya dan memandang wajah Gina.


“Kau ingin aku mandi?”


Gina mengangguk.


“Mandikan aku,”


Pak Pras menggendong Gina sampai kamar mandi, kemudian melepas semua baju yang ia kenakan lalu berendam di dalam bathtub. Gina tahu tugasnya adalah mengeramasi Pak Pras dan memijat kepalanya.


Gina membasahi rambut Pak Pras dengan hati-hati lalu mengusapkan sampo pada kepalanya sambil memijat kepala Pak Pras. Lelaki paruh baya itu menikmati setiap pijatan Gina yang menghanyutkannya.


“Mereka sudah pulang?” tanya Pak Pras sambil menikmati pijatan Gina.


“Sudah, tadi sebelum kamu kesini, tadi aku sudah bilang di telepon,”


“Sebenarnya apa yang kau rencanakan, kenapa kau lari waktu itu?”


“Sayang, aku ingin lebih dekat dengan mu,”


“Maksud mu? Aku tidak mengerti,” mengerutkan dahinya.


“Nikah kan aku dengan Fian,” tegas Gina.


“Apa kau bilang,” berbalik marah pada Gina.


“Dengarkan aku dulu, jangan marah,”

__ADS_1


“Permintaan mu tidak masuk akal, aku tidak mungkin menikahkan mu dengan Fian anak ku,”


“Sayang, kalo aku nikah sama Fian aku akan tinggal bersama mu juga kan, kita akan sering bertemu dan juga akan lebih mudah untuk kita,”


“Aku masih tidak mengerti, kau itu istri ku walaupun kita menikah siri,”


“Iya aku tahu, maka dari itu kalo aku nikah sama Fian aku tidak akan di curigai istri mu,”


“Benar juga, tapi aku akan memikirkannya lagi nanti,”


“Iya sayang,”


Senyuman jahat menghiasi wajah Gina tanpa Pak Pras ketahui.


Selesai dengan acara mandinya, Pak Pras melanjutkan aktivitasnya yang sempat terhenti.


Gina terpaksa menikah siri dengan Pak Pras karena desakan orang tuanya yang sedang mengalami krisis di perusahaannya dan Pak Pras lah yang menolong mereka dengan Syarat Gina harus menikah dengannya. Dari mulai itulah Gina menjadi istri sirinya dan juga sekretarisnya Pak Pras.


-----------


Setelah pamit dari rumah Gina, Bian mengajak Raya untuk singgah di sebuah tempat makan. Bian merasa perutnya sangat lapar dan ingin memakan sesuatu begitu pula dengan Raya.


“Kita makan dulu ya,” ucap Bian setelah memarkirkan mobilnya.


Mereka masuk ke dalam dan memesan makanan.


“Kamu punya mobil terus ngapain juga naik bis?” tanya Raya memulai obrolan.


“Oh gitu,”


“Kenapa kita nggak cek cctv kantor aja ya, untuk mencari bukti,” ucap Bian tiba-tiba.


“Ah iya,”


“Habis ini kita ke kantor bentar ya,”


“Tapi kan ini masih jam kerja, bagaimana kalo kita nunggu kantor sepi dulu baru kita cari video cctv nya,”


“Ide bagus tuh, “


Pelayan datang mengantarkan pesanan mereka. Lalu mereka menyantap makanannya.


“Aaahhh aku kenyang banget,” ucap Bian sambil mengusap perutnya.


“Makannya cepet amat kayak yang abis ga di kasih makan sebulan,” ledek Raya.


“Hehe, aku belum makan dari pagi,”


“Pantesan,”


Setelah menunggu Kantor sepi mereka melancarkan rencananya mencari kaset video cctv sewaktu kejadian itu.

__ADS_1


Bian dan Raya menyusup le tempat pemantauan cctv gedung. Ada seorang petugas yang sedang berjaga di sana.


“Sore, Pak. Kita mau lihat rekaman cctv yang kemarin bisa?” ucap Bian dengan sopan.


“Eh Pak Bian dan Neng Raya, bisa bisa. Untuk keperluan apa Pak Bian?”


“Kemarin saya kehilangan barang saya, saya ingin memeriksanya saja.”


“Saya ambilkan dulu kaset rekamannya ya, Pak,” petugas itu mengambil kunci dan membuka sebuah lemari penyimpanan.


“Kenapa, Pak?” tanya Bian yang melihat petugas itu seperti kebingungan.


“Kaset cctv yang kemarin nggak ada, Pak,” jawab petugas itu kebingungan sambil terus mencari.


“BIasa di simpan dimana, Pak?”


“Di sini mengurut berdasarkan tanggalnya,” menunjukan tempat penyimpanannya.


“Berarti kaset itu hilang, Pak?” ucap Raya.


“Iya sepertinya begitu, Neng,”


BIan dan Raya hanya bisa pasrah lalu berpamitan pada petugas itu.


“BI, aku ke meja ku dulu ya, kemarin tas ku ketinggalan,”


Bian mengikutinya di belakang. Tapi saat sampai di mejanya Raya tidak menemukan tasnya.


“Kok tas ku nggak ada ya?”


“Cari lagi mungkin kamu lupa simpan dimana,”


Raya mencari tapi tetap tidak ada.


“Kamu cari ini?” terdengar suara seseorang.


Bian dan Raya memalingkan wajah ke arah sumber suara.


Fian berjalan mendekati kedua orang yang sedang mencari tas yang kini sedang berada di tangannya. Wajahnya masih memar bekas pukulan Bian yang bertubi-tubi waktu itu.


“Ini,” melemparkan tas ke arah Raya dan segera Raya menangkapnya.


“Kau,” Bian tersulut emosi namun Raya menahannya.


“Aku akan bertanggung jawab,” kemudian pergi meninggalkan BIan dan Raya yang masih diam mematung melihat Fian semakin menjauh dari pandangan mereka.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


like comment n vote nya ya


trimakasih 🖤🖤🖤

__ADS_1


__ADS_2