
Jalanan yang mulai sepi karena hari sudah hampir tengah malam. Namun Fian memacu terus mobilnya dengan kecepatan penuh memecah jalanan kota. Hingga sampai di pekarangan rumah Gina. Kali ini Fian akan membuat perhitungan dengannya.
"GINA, KELUAR KAU," teriaknya menggedor pintu.
Karena mendengar suara kebisingan dari luar dan memanggil namanya Gina pun keluar.
"Kau sengaja kan, membuat Raya salah paham pada ku? Dasar perempuan licik," sentak Fian saat Gina sudah membuka pintu rumahnya.
"Hahaha, bagus lah kalau dia salah paham. Itu berarti bisa memuluskan rencana ku untuk memiliki mu," ucap Gina dengan tertawa jahatnya.
"Dasar licik," sentak Fian lagi.
"Licik? Papah mu yang sudah mengajarkannya pada ku," Guna tak mau kalah.
"Sebenarnya apa mau mu?" Fian masih meninggikan ucapannya.
"KAU,"
"Apa yang kau mau dari ku?"
"Aku ingin kau menjadi milik ku, menikah dengan ku,"
"Aku tidak mau menikah dengan manusia licik seperti mu,"
"Kau menikah dengan ku atau aku bunuh Tisya. Bukankah Tisya kunci dari pertikaian kau dengan adik mu, Bian?" memunculkan senyuman liciknya.
Fian terkejut ketika nama Tisya disebut. Selama bertahun-tahun Fian mencarinya tapi tak kunjung menemukannya dan sekarang ia mengetahui keberadaan Tisya dari orang yang sangat licik seperti Gina. Gina pasti sudah merencanakan semua ini untuknya.
"Dimana Tisya?"
"Kau mau tahu? Tentu saja aku nggak membiarkan mu mengetahuinya secara cuma-cuma,"
"Apa yang kau mau?"
__ADS_1
"Besok pagi aku akan menjawabnya di kantor,"
"Kenapa harus di kantor?"
"Supaya gadis yang kau sukai melihat kita bersama, hahahahaha," tertawa jahat.
"Orang gila,"
"Ya, aku gila karena mu. Karena kamu nggak pernah melihat ku, karena kamu selalu mengabaikan ku. Dan sekarang aku nggak mau seperti itu lagi. Kau harus menjadi milik ku. Kalau tidak aku juga akan menyingkirkan gadis bodoh yang kau sukai itu. JADI JANGAN PERNAH MACAM-MACAM DENGAN KU. JAUHI DIA ATAU DIA AKAN BERNASIB SAMA SEPERTI TISYA," ancaman Gina menusuk hati Fian sangat dalam.
Flashback
Suatu hari para pebisnis sukses berkumpul merayakan keberhasilan salah satu rekannya yang beehasil membuka bisnis besar di kota besar.
Gina kecil dan Fian kecil bertemu dan bermain di jaga oleh para pengasuh mereka. Ketika mereka sedang asyik bermain datang Tisya di tengah-tengah mereka. Fian memang tidak pernah mau bermain dengan Gina dan seringkali mengabaikannya ketika Tisya datang.
"Tisya, ayok kita bermain. Aku bawa mainan satu lagi buat kamu," ajak Fian kecil pada Tisya yang masih seumuran dengannya.
"Assyyiikkk.... Ayok kita main ke sana," menunjukan telunjuknya ke taman.
Fian mencari Bian ke rumah tapi Bian tidak ada di rumah.
"Mah, Bian dimana?" tanya Fian.
Bu Mira tak menjawab pertanyaan Fian, karena setiap kali mereka bertemu pasti akan terjadi perkelahian.
"Mah?"
"Iya, Nak,"
"Bian dimana? Tenang saja aku nggak akan mengajaknya berkelahi lagi," kata Fian serius.
"Benarkah?" meyakinkan.
__ADS_1
"Iya, Mah. Sekarang beri tahu Fian, Bian ada di mana?"
Bu Mira menuliskan sebuah alamat di secarik kertas lalu di serahkan pada Fian.
"Makasih, Mah." Mencium pipi Bu Mira kemudian pergi berlalu.
Saat itu Bian baru saja selesai mandi, ada suara ketukan dari luar. Bian segera membukakan pintu dan ternyata itu adalah saudara tirinya
"Mau apa kau ke sini. Aku sedang malas adu jotos dengan mu," Bian menatap sinis ke arah Fian.
"Ada yang tahu keberadaan Tisya. Dan juga aku akan menjelaskan permasalahan lima tahun lalu yang membuat kita menjadi bertengkar seperti ini," jelas Fian.
"Dimana Tisya? Siapa yang tahu keberadaan Tisya. Bukan kah semuanya sudah jelas. Kau yang sudah menghancurkan hidupnya," emosi Bian mulai naik.
"Gina, dia tahu Tisya dimana. Jujur sebenarnya yang memperkosa Tisya adalah Papah. Aku menutupi kelakuannya karena dulu aku sangat membanggakannya." ucap Fian menyesal.
"Papah? Jangan bercanda kau?"
"Iya benar, Papah yang melakukannya."
"Sekarang dimana Tisya?" Bian semakin tidak sabar.
"Aku harus menukar informasi itu dengan menikahinya," ucap Fian lirih.
"Maksud mu kau harus menikahi Gina? Memang aku sudah curiga, Gina merencanakan sesuatu," ucap Bian mengingat kejadian di rumah Gina.
"Aku akan menikahi Gina untuk mendapatkan informasi itu. Anggap saja itu untuk menebus kesalahan Papah padanya. Tapi aku minta sesuatu pada mu Bian,"
"Apa itu?"
"Jaga Raya untuk ku. Aku sangat menyayangi dan mencintainya," ucap Fian dengan sungguh.
🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1
to be continued