
Lelah berdansa Fian mengajak Raya ke sebuah ruangan seperti bioskop mini dengan sejumlah fasilitas mewah di dalamnya.
"Kamu suka nonton film apa?" tanya Fian.
"Aku lebih suka drama korea, lihat oppa oppa ganteng," jawab Raya sembari menunjukan barisan giginya.
"Kalo gitu jangan nonton drama korea,"
"Kenapa?"
"Aku cemburu, kamu lihatin oppa oppa ganteng," jawab Fian dengan nada kesal.
"Heudeuh lebaynya kelewatan,"
"Mau nonton apa?"
"Apa aja asal jangan film horor,"
"Okey,"
Fian menjentikan jarinya seketika layar besar di hadapan mereka menyala.
Layarnya bertuliskan "Warkop DKI Reborn"
"Aahh ini aku suka," sorak Raya.
"Sssstt jangan berisik," lagi lagi menggenggam tangan Raya.
"Lepasin,"
"Nggak,"
Raya membuang nafasnya, sedangkan Fian tersenyum menang.
Mereka menikmati film yang ditontonya, seringkali tertawa melihat tingkah lucu pemainnya. Hingga akhirnya film itu selesai juga.
"Kamu ngantuk?" tanya Fian karena ini sudah sangat larut malam.
"Nggak," jawab Raya singkat.
"Kalo gitu, ikut aku," ajak Fian.
Raya hanya mengikuti Fian kemana ia akan dibawa olehnya.
Fian membawanya ke balkon yang tadi, lalu mereka duduk menghadap keluar dengan pemandangan lampu kelap-kelip kota dan bintang bertaburan di malam yang gelap.
"Aku nggak mau malam ini berakhir," ucap Fian.
__ADS_1
"Kenapa?"
"Karena besok pasti aku mengantar mu, dan nanti aku akan menjadi milik orang lain. Dan kita akan berpisah. Kita tidak akan menikmati pemandangan ini lagi,"
"Nggak ada yang nggak mungkin selama kita masih bernafas,"
"Seperti kamu yang nggak mungkin menyukai ku, karena kamu sudah lebih dulu membenci ku,"
"Nggak ada yang tahu isi hati manusia, selain dirinya sendiri dan penciptanya,"
"Kenapa kamu berubah jadi bijak begini kalo malam-malam?"
"Emang kalo siang gimana?"
"Kalo siang kayak macan,"
Raya melirik Fian dengn ujung matany, bibirnya jadi maju beberapa senti ke depan tidak suka dengan ucapan Fian.
Fian sangat senang mengerjai Raya sampai membuatnya kesal dan marah padanya.
"Kalo bibir mu moncong begitu, kejadian di kafe tadi akan terjadi lagi," ucap Fian menggoda.
Raya ingat ketika tadi di restoran, saat Fian menciumnya dan akhirnya mereka berciuman.
"Aaaaarrgghh mungkin aku sudah gila gara-gara punya bos gila kayak dia," Raya.
"Diam lah, hanya untuk malam ini. Malam selanjutnya aku nggak akan mengganggu mu,"
Raya diam seribu bahasa, benarkah ini? Hatinya begitu tidak rela pria di sampingnya sekarang akan menikahi orang lain.
Lama melihat pemandangan malam dan tenggelam dalam perasaannya masing-masing, Raya merasa mengantuk dan akhirnya tertidur di dekapan Fian.
Fian mengusap lembut kepalanya beberapa kali, membiarkan Raya terus tertidur dalam dekapannya.
"Lagi tidur pun kamu tetap terlihat cantik seperti bidadari," mengecup kening Raya.
Raya semakin terlelap, Fian menggendongnya masuk kamar dan menidurkannya di tempat tidur. Melepaskan sepatunya lalu menyelimutinya.
"Jangan pergi," Raya mengigau sembaru mendekap tangan Fian dan akhirnya Fian duduk di sebelahnya.
Fian tetap terjaga sampai pagi menjelang, ia tidak mau menyia-nyiakan waktunya sedetik pun bersama Raya. Tangannya masih berada dalam dekapan Raya, walaupun terasa pegal tapi ia mencoba menahannya.
"Eeeuuumhhhh," Raya melenguh dan tanpan sadar menari Fian hingga Fian berada di atasnya sampai hidung mereka beradu.
Raya membuka matanya, terkejut melihat Fian berada di atasnya dan kini hidung mereka sedang menempel.
"Aaaaaarrrggghhh," mendorong Fian dengan keras.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan?" bangun dan memeriksa bajunya takut ada yang salah.
" Kamu yang menarik ku, cepat bangun terus mandi aku akan mengantar mu pulang," berdiri lalu pergi.
"Nggak terjadi apa-apa kan?" sambil terus memeriksa seluruh tubuhnya dan akhirnya bernafas lega.
Fian sudah siap dan menunggu Raya di meja makan. Dan tidak lama Raya datang bersama pelayan kemudian duduk di sampingnya.
Pelayan menghidangkan menu sarapan di meja, Raya di layani bak seorang putri.
"Kamu nggak suka sama makanannya?" tanya Fian.
"Makanannya enak, aku nggak biasa di perlakukan seperti ini. Biasanya aku buat sarapan bersama ibu," jawab Raya.
"Besok kamu akan membuatnya lagi dengan ibu mu," ucap Fian tanpa ekspresi sambil menikmati sarapannya.
"Hmmm," mengangguk.
"Tuhan, aku nggak bisa melepasnya begitu saja," Fian.
Fian frustasi sendiri.
Sarapan kedua insan yang sedang dilanda bimbang itu selesai dan mereka bersiap untuk pulang.
"Aahhh kenapa baru semalam sama dia aku sudah begini sih? Nggak, dia mau menikah dengan orang lain dan itu teman ku. Aku harus bisa mengontrol perasaan ku," Raya.
Pak supir sudah menunggu di depan pintu masuk, dan membukakan pintu mobil untuk mereka berdua.Keduanya masuk ke dalam mobil dan mobil pun melaju.
Rasa canggung diantara keduanya tercipta sepanjang perjalanan, tidak ada yang berbicara sepatah kata pun. Hanya Fian yang terus menggenggam tangan Raya dengan erat sampai mereka sampai.
"Sudah sampai, aku harus pulang," ucap Raya dengan berat hati.
Fian masih memegangi tangan Raya, begitu tak rela dan tak ingin melepas wanita yang sudah semalaman bersamanya. Namun Fian menguatkan hatinya dan melepaskan tangan Raya.
"Ingin mengucapkan sesuatu?" tanya Raya yang sama tidak ingin berpisah dengan Fian.
Fian hanya diam mendengar pertanyaan Raya, hatinya begitu sakit harus melepasnya begitu saja.
"Baiklah, hati-hati di jalan. Semoga bahagia dengan pernikahan mu," ucap Raya dengan sekuat tenaga mengucapkan hal yang tidak ingin diucapkan.
Raya keluar dari mobil dan langsung masuk ke dalam. Mobil Fian pun langsung pergi dan berlalu.
🌹🌹🌹🌹🌹
like comment n vote
terimakasih...
__ADS_1
🖤🖤🖤