
“Kenapa aku merasa kalo Pak Fian nggak bersalah, ya?” Raya.
“Malah bengong, mau pulang nggak?” sahut Bian pada Raya.
“Ayok, pulang,”
Raya dan Bian berjalan keluar kantor, mobil Fian baru saja keluar dari parkiran.
Bian mengantar Raya pulang dan langsung pergi lagi.
“Ada apa sama aku? Kenapa aku jadi mikirin Pak Fian, ya?” ucap Raya saat sudah berada di kamarnya.
“Tapi kalo Pak Fian yang bukan melakukannya kenapa dia mau bertanggung jawab?”
“Pak Fian kamu melakukannya atau nggaaaakkk,” Celoteh-celoteh Raya dalam kamarnya.
Sejak melihat kemunculan bosnya tadi dikantor Raya jadi terus teringat dengan bosnya itu padahal ia sendiri tengah bersama Bian. Raya memeriksa tasnya yang diberikan Fian tadi. Di dalamnya ada secarik kertas dari Fian.
Aku menyukai mu.
Aku tidak tahu dari sejak kapan.
Tapi hati ini selalu tertuju pada mu.
Tatapan mu, marah mu, jutek mu, dan juga senyum manis mu aku sangat suka.
Aku tidak pernah bertemu dengan gadis seperti kamu sebelumnya.
Dan ketika aku bertemu dengan mu ada yang berbeda dengan mu hingga membuat ku menyukai mu.
Aku tahu sekarang mungkin kamu membenci ku karena kejadian kemarin lalu.
Aku hanya ingin kamu percaya pada ku.
Kalau kamu percaya pada ku, aku sangat berterima kasih.
Ku tunggu kamu di Kafe Rainbow malam ini.
Alfian.
Setelah membaca secarik kertas itu Raya melihat jam tangannya sudah pukul delapan. Segera ia mengambil jaketnya dan di silangkannya tas di pundaknya. Tak lupa ia pamit pada ibunya dan dengan cepat menyetop tukang ojek di depan rumahnya.
Sampai di Kafe Rainbow Raya membayar ongkos ojeknya dan masuk ke dalam. Kafe itu Nampak sepi, seorang pelayan mempersilahkannya masuk dan mengantarnya ke tempat Fian berada. Rupanya kafe itu sudah di sewa Fian secara privat hingga tak ada satu pun tamu yang datang.
Fian memunggungi Raya, melihat sebuah lukisan yang terpajang di dinding.
“Pak FIan,” panggil Raya pelan.
Fian langsung berbalik dan melihat Raya dihadapannya. Tanpa pikir panjang lagi Fian langsung memeluk Raya.
__ADS_1
“Pak Fian,” ucap Raya lagi namun Fian semakin mengeratkan pelukannya.
Perlahan tangan Raya mengelus punggung Fian dengan lembut, Raya merasa ada beban yang sangat berat yang sedang di tanggung oleh bosnya itu.
“Aku merasa nyaman saat bersama mu,” ucap Fian setelah lama memeluk Raya dan tidak mengeluarkan sepatah kata pun.
“Pak, sepertinya aku nggak bisa nafas,” ucap Raya dengan kesusahan.
Fian melepaskan pelukannya dan memberikan Raya waktu menghirup oksigen untuk mengisi rongga paru-parunya.
“Maafkan aku,”
“Nggak apa,”
“Kamu percaya sama aku kan?”
“Entah lah, kejadian itu terjadi begitu saja. Lagi pula aku tidak punya bukti kalo Bapak yang melakukannya,”
“Percaya sama aku!” wajah Fian memelas.
“Terus untuk apa Bapak menyuruh saya ke sini?”
“Aku takut nggak ada kesempatan lagi untuk menyatakan perasaan ku,” ucapnya lirih.
Fian menggenggam kedua tangan Raya dan menatap kedua bola mata Raya.
Raya mencoba melihat tanda-tanda kebohongan di mata Fian tapi tak ada sama sekali hanya sorot mata yang tulus dan penuh cinta yang terpancar di matanya.
“Aku, aku,,,,” Raya menjadi gugup mendengar pernyataan Fian.
“Kamu nggak perlu jawab, aku hanya ingin kamu tahu saja tentang perasaan aku sama kamu selama ini,”
“Pak Fian, apa Bapak benar yang melakukannya?” Raya ingin memastikan.
Fian tersenyum tipis.
“Kamu nggak perlu tahu siapa yang sebenarnya melakukan itu, aku pasti akan bertanggung jawab sama Gina,” jelas Fian.
Tapi jawaban Fian bukanlah jawaban yang diinginkan Raya, ini sungguh teka-teki baginya. Raya melihat wajah Fian penuh dengan memar akibat pukulan Bian. Bian benar-benar memukulinya sampai babak belur.
“Pak Fian,”
“Hmmm,”
“Boleh aku obatin lukanya?”
Fian duduk di kursi di depan Raya.
“Aku ambil dulu obatnya,”
__ADS_1
“Nggak usah, kamu tetap di sini,” menari lengan Raya yang akan berbalik.
Fian menjentikan jarinya, seorang pelayan datang menghampiri mereka.
“Ada apa tuan,” ucap pelayan itu sopan.
“Ambilkan kotak obat,”
Pelayan itu mengangguk dan tidak berapa lama datang lagi dengan membawa kotak obat.
“Ini tuan kotak obatnya,” menyodorkan kotak obat itu dan Raya mengambilnya.
“Terimakasih,”
Pelayan itu mengangguk lalu pergi berlalu.
Fian masih duduk di kursinya, Raya membuka kotak obat itu lalu mengambil kapas dan meneteskan obat di atas kapas kemudian mengusapkannya pada pipi Fian yang memar.
“Awww,” rintih Fian kesakitan.
“Ma, maaf. Aku pelan-pelan ya,”
Raya lanjut mengusapkan obat lagi di pipi Fian. Raya memajukan bibirnya dan meniup-niup pipi Fian yang sedang ia obati. Fian yang sedari memandanginya tak tahan melihat bibir merah muda milik Raya.
Fian seketika berdiri memegangi dagu Raya dengan kedua telapak tangannya.
Cup
Fian mencium bibir Raya, sontak mata Raya melotot tak percaya dengan apa yang dilakukan Fian padanya. Fian terus menciumnya dengan lembut tapi menggoda, hingga Raya yang semula hanya diam kini terhanyut dalam permainan Fian.
Lama sudah mereka menikmati ciuman itu lalu Fian melepaskannya dan berbisik,,,,,
“Temani aku malam ini,”
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
like comment n vote yaa
oh ya...
liburannya di rumah aja yaa jangan kemana2.
klo pun harus keluar wajib pake masker.
dan jangan lupa sering2 cuci tangan.
semoga sehat selalu yaa....
🖤🖤🖤
__ADS_1