Terjerat Cinta Anak Bos

Terjerat Cinta Anak Bos
DUAPULUH TUJUH Aku Terluka


__ADS_3

Raya berlari dan terus berlari, keluar kantornya dan tak tahu kemana, tidak ada arah tujuan. Kakinya berhenti di taman kota. Raya berjalan kemudian duduk di sebuah kursi yang mengarah ke depan air mancur.


Hatinya seperti tertusuk ribuan belati, sakit terasa sesak di dada. Seseorang menyodorkan tisu ke arahnya, dan itu adalah Bian. Raya meraih tisu itu lalu menyeka air matanya yang membasahi pipi sedari tadi.


"Larinya kencang amat, Buk? Untung aja aku pemenang lomba lari tingkat RT. Jadi bisa ngejar kamu." Raya melirik dengan ujung matanya disaat tangisannya mulai reda.


"Kenapa sih? Kok nangis sambil lari, nggak capek?" tanya Bian lagi supaya Raya bersuara.


"Ya udah deh, kalo mau mode silent terus aku pergi. Kan malas juga kalo harus bicara sama orang bisu nggak bisa ngomong. Jadinya cuap cuap sendiri kayak orang gila," Bian lagi sedikit memaksa Raya untuk bersuara.


Raya tak bergeming masih terisak dengan tangisnya. Namun saat Bian berdiri dan akan melangkahkan kaki, Raya menarik lengan Bian sampai terduduk lagi dan memeluk lengannya.


"Huaaaa huaaa hiks hiks," 😭😭😭😭 tangisannya bertambah keras.


"Sssttt nangisnya jangan keras-keras. Malu dilihat orang. Kayak anak kecil aja," Bian menggerutu.


"Huaaaaaa," 💦💦💦 semakin keras.


"Ehh iya iya, aku gak ngomong lagi tapi udahan nangisnya"


Raya mengeratkan pelukannya ke lengan Bian dan menyenderkan kepalanya di bahu Bian.


"Fian," terisak menyebutkan nama itu.


Bian melepaskan tangannya dan beralih memegang bahu Raya dengan tatapan penuh tanya.


"Dia menyentuh mu?" Raya menggelengkan kepala.


"Dia menyakiti mu?" Raya diam.


"Apa yang dia katakan atau lakukan sama kamu?" Bian seakan menginterogasinya.


Raya menggelengkan kepalanya lagi.


"Terus kenapa kamu sampai menangis begini dan menyebut namanya?" tanya Bian masih penasaran karena belum mendapatkan jawaban pasti.


"Ah sudah lah ayok, kita kembali ke kantor. Nanti di cari Pak Budi," menyeka pipinya yang basah karena menangis.

__ADS_1


"Eh jawab dulu," menahan Raya dengan tangannya.


"Aku udah ga apa-apa. Tadi aku cuma lihat dia di ruangannya bersama Gina sedang,,,,,,,," mengingat kejadian tadi. "Ah sudah lah nggak usah dibahas," menarik lengan Bian, mengajaknya kembali ke kantor.


"Mereka sedang apa?" Bian penasaran.


Raya tidak mau mendengarkan pertanyaan Bian, ia terus menarik Bian dan berjalan di depannya.


"Nih anak anehnya kumat," ejek Bian sambil terus berjalan mensejajarkan diri dengan Raya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Fian kamu kenapa, Nak? Muka mu pucat sekali," tanya Bu Mira khawatir dengan keadaan Fian yang baru saja datang dan bermuka pucat.


"Aku nggak apa, Mah," jawab Fian menoleh ke Bu Mira kemudian melanjutkan lagi langkahnya.


"Beneran nggak papa? Tapi muka kamu pucat sekali."


"Iya beneran, Mah. Fian ke kamar dulu mau mandi," berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.


"Ada apa sama anak ini?" Bu Mira.


Fian mengeringkan kepalanya dengan handuk. Saat ini ia marah sekali dengan Gina, untuk apa Gina melakukan itu padanya. Entah mengapa Fian ingin sekali bertemu Raya, mungkin karena seharian ini ia tidak bertemu dengannya.


Diambilnya jaket dari lemari, lalu memakainya tidak lupa kunci mobil yang ia simpan di atas nakas.


Mobilnya melaju menuju rumah Raya. Di depan rumah Raya Fian memandangi jendela kamar Raya. Namun sayang sepertinya Raya sudah tertidur, lampu kamarnya sudah padam. Hanya memandangi jendela kamarnya itu yang bisa Fian lakukan walau hatinya sangat rindu.


Bibirnya menyunggingkan senyum ketika tiba-tiba lampu kamar Raya menyala. Fian mencari ponselnya lalu cepat menekan no telepon Raya. Lama sekali teleponnya tidak juga di jawab. Tak habis usahanya, Fian mengirimkan pesan pada Raya.


"Belum tidur? Aku depan rumah mu."


Di dalam kamar.


"Ngapain si nih orang telepon jam segini? Ah malas dia tadi udah mesra-mesraan sama Gina sekarang nyari aku," ucapnya kesal sambil menutup teleponnya dengan bantal.


Tidak lama ponselnya berbunyi lagi, dengan malas Raya mengambil ponsel yang sudah ia tutupi dengan bantal.

__ADS_1


"Hah depan rumah? Isshhh ngapain si nih orang nekat banget. Mau ngapain juga nyari aku malam-malam begini. Udah ah biarin aja," melemparkan ponselnya ke kasur.


"Cepat turun aku terluka, aku nggak kuat."


Fian mengirimkan pesan lagi.


Raya membuka ponselnya lagi dan membaca pesan yang di kirimkan Fian.


"Giliran luka aja nyari aku. Giliran enak-enak sama Gina." Masih kesal.


"Tapi kasihan juga. Nanti kalo dia kenapa napa gimana," berubah pikiran.


Raya membawa kotak obat dan langsung turun dan menemui Fian di depan rumahnya. Pintu mobil di bukanya lalu masuk dan duduk di kursi sebelah Fian.


"Bagian mana yang terluka?" sambil membuka kotak obat menyiapkan beberapa kapas dan meneteskan obatnya.


Fian tak menjawab hanya memandangi Raya yang sedang mengomel dan menyiapkan obat untuknya.


"Pak? Woy..... Malah ngelamun. Lukanya dimana? Kenapa nggak minta si Gina aja sih yang obatin. Bukannya kalian lagi mesra-mesranya," gerutu Raya yang kesal bercampur cemburu.


Fian terkejut mendengar Raya mengatakan itu, rupanya Raya melihat kejadian tadi di ruangannya. Namun hatinya merasa senang karena melihat kecemburuan Raya yang menggerutu di depannya.


"Bapak Alfian mana yang mau aku obatin? Sebelah mana lukanya? Ehh malah melamun," sudah benar-benar kesal pertanyaannya tidak kunjung di jawab.


Fian menarik tangan Raya dan menempelkannya tepat di dada. Tatap matanya tak lepas dari Raya.


"Lukanya di sini,"


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Halo pakabar semua?


Gimana puasanya? semoga lancar ya....


jangan lupa like comment n vote nya


terimakasih

__ADS_1


🖤🖤🖤🖤


__ADS_2