
Setelah mengantarkan Gina, Bian mengantarkan Raya pulang. Dalam perjalanan pulang Raya menangis teringat apa yang dialami kakaknya dulu dan sekarang temannya yang bernasib sama dengan kakaknya.
Bian mengusap pipi Raya yang dibasahi air mata.
"Kenapa kamu menangis?"
"Aku, aku, hiks hiks,"
"Sudah lah, Gina sekarang memang sedang tidak baik tapi aku yakin dia tidak akan melakukan hal yang bodoh, jadi kamu nggak usah khawatir," ucap Bian berusaha menenangkan Raya yang menurutnya khawatir pada Gina.
Raya mengangguk dan menghapus air matanya.
"Tidak akan ku biarkan keluarga mereka hidup tenang. Setelah Kak Rani lima tahun lalu dilecehkan Pak Pras, sekarang Gina yang di lecehkan anaknya. KELUARGA B****B," Raya.
"Ra, sudah sampai. Lebih baik besok kamu nggak usah kerja dulu. Temani Gina, dia butuh dukungan biar nggak berlarut dalam kesedihannya," saran Bian.
"Tapi kita harus meminta pertanggung jawaban si bos b******k itu atas perbuatannya sama Gina, Bian,"
"Aku yang akan melakukan itu, tugas kamu adalah membangkitkan semangat Gina lagi biar dia nggak terpuruk lebih dalam,"
"Jangan biarkan dia kabur dari tanggung jawabnya,"
"Akan aku pastikan dia bertanggung jawab atas perbuatannya,"
"Sudah malam, aku masuk ya,"
"Jangan nangis," mengacak-acak rambut Raya sambil menyunggingkan senyumnya.
Raya membuka pintu mobil dan keluar dari sana, Bian melajukan mobilnya setelah Raya masuk ke dalam rumah.
Bian sudah jauh meninggalkan halaman rumah Raya sedari tadi. Fian baru saja sampai di depan rumah Raya dan masih duduk di belakang kemudinya.
__ADS_1
Fian tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Berkali-kali ia memukul-mukul stir mobilnya kesal. Melihat ke jendela kamar Raya yang lampunya masih menyala menandakan Raya masih terjaga.
Fian melihat ke sampingnya tas Raya yang masih tertinggal di kantor tadi ia bawa. Tapi sungguh sangat berat untuk keluar dari mobil. Akhirnya Fian memutuskan untuk pergi dari rumah Raya menancapkan gasnya tanpa arah tujuan.
Paginya.
"Kamu nggak kerja?" tanya ibu yang melihat anaknya keluar kamar dengan masih mengenakan pakaian tidur.
"Nggak, Bu," jawabnya singkat.
"Kenapa?"
Raya langsung memeluk ibunya.
"Bu, teman Raya bernasib sama seperti Kak Rani, dan Raya melihat dengan mata kepala Raya sendiri," jelas Raya.
"Maksud mu, teman mu menjadi korban pelecehan bosnya?" tanya ibu lagi.
Dari awal Raya memang tidak memberitahukan bahwa ia bekerja di tempat yang sama dengan almarhumah kakaknya pada ibunya.
"Kamu harus berhenti bekerja disana, ibu nggak mau kamu sama seperti almarhumah kakak mu dulu," pinta ibu.
"Tapi, Bu. Raya ingin membalas perlakuan orang-orang yang udah jahat sama perempuan. Raya ingin balas dendam, Bu,"
"Raya, balas dendam itu nggak baik. Biarkan tuhan yang membalasnya. Tuhan lebih tahu balasan yang tepat untuk mereka. Tapi tetap inu nggak mau kamu masih bekerja di sana," ibu merasa khawatir pada Raya.
"Bu,"
"Ibu nggak mau kehilangan anak ibu lagi," mengusap kepala Raya lembut dan membelai rambutnya.
"Raya belum bisa terima atas apa yang sudah menimpa Kak Rani, Raya ingin membalaskan semua perlakuan mereka sama Kak Rani." ucapnya menggebu-gebu.
__ADS_1
"Ibu tetap nggak mengizinkan mu. Memang kamu kerja di tempat yang sama dengan kakak mu? Bukannya kamu kerja di kantor teman mu?" ibu penasaran dengan penuturan Raya tentang balas dendam.
Pertanyaan ibu membuat Raya terhentak, tapi memang Raya harus jujur pada ibunya.
"Iya, Raya kerja di tempat Kak Rani dulu. Maafkan Raya sudah bohong sama ibu. Raya cuma ingin balas dendam aja sama mereka yang sudah menyebabkan Kak Rani pergi meninggalkan kita, Bu," akhirnya Raya mengutarakan alasannya ia bekerja di sana.
"Mulai sekarang kamu harus berhenti kerja di sana. Lupakan balas dendam itu, biarkan kakak mu beristirahat dengan tenang. Kita hanya perlu mendoakannya," pinta ibu lagi.
"Maafkan aku, Bu. Tapi aku nggak bisa membirkan mereka hidup tenang begitu saja." Raya.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Bian mencari Fian ke rumahnya dan saat ia melihat Fian, ia langsung melayangkan tinjunya terus-menerus. Fian tak bisa lagi menghindar atau pun melawan.
Bu Mira menjerit histeris. Pak Pras yang saat itu terkejut mendengar jeritan istrinya segera melihatnya.
Lagi, lagi, dan lagi perkelahian Fian dan Bian tak dapat terhindarkan. Fian sudah tidak berdaya lagi, Pak Pras memisahkan anak-anaknya.
"Ada apa lagi dengan kalian ini? Tak bisakah kalian memberi ketenangan di rumah ini?" ucap Pak Pras kesal dengan ulah anak-anaknya.
"Nggak akan aku beri ampun kalo Raya yang jadi sasaran budak nafsu mu," ucap Bian penuh amarah pada Fian yang sudah terkulai di lantai.
"Ada apa ini, Nak," tanya Bu Mira pada Bian.
"Gara-gara wanita kalian saling adu jotos seperti ini? Selalu saja gara-gara wanita," bentak Pak Pras.
Bian langsung pergi tanpa menghiraukan perkataan yang terlontar dari orang tuanya. Pak Pras mengangkat Fian dan membawanya ke rumah sakit.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
jangan lupa like comment n vote nya ya....
__ADS_1
terimakasih....
🖤🖤🖤