
Raya bangkit dari terjatuhnya di bantu Vira yang melihat adegan ia terjatuh menabrak Fian yang ada di depannya tadi.
"dasar cowok sombong" decak Raya kesal.
"sudah ayok kita masuk"ucap Vira melihat temannya kesal dengan tingkah Fian.
"tuh kan apa gue bilang ganteng ui kalau sombong tidak ada yang di harepin dari dia" masih kesal.
Setibanya mereka di ruangan Bian masih berkutat dengan papan keyboard dan layar monitornya.
Raya membawa bungkusan nasi yang sempat terjatuh tadi tapi isinya masih utuh walaupun kotaknya agak penyok.
"ini aku bawakan makanan tapi aku tadi jatuh jadi aja agak penyok, kamu beli makan siang sendiri aja,"
Bian meraih kantong berisi makanan tadi dari tangan Raya dan membukanya. Walaupun isinya sudah tidak seperti semula, Bian memakannya.
"aku lapar" ucap Bian
"tapi nggak makan di sini juga kali, sana ke pantry" ucap Raya.
"ah biarin tanggung" jawab Bian.
"hadeuuuuu" Raya menggelengkan kepalanya.
Bian terus melahap makanan yang di bawakan Raya untuknya sampai habis tak tersisa.
"lapar, Pak" goda Raya.
__ADS_1
"lapar sama doyan kayaknya" imbuh Vira.
"terimakasih ya" ucap Bian sambil memcubit dagu Raya.
"apaan si" yang dicubit menghalau tangannya.
Bian berdiri lalu pergi dari ruangan menuju pantry untuk mengambil minum. Bian melihat Fian sedang berbicara dengan beberapa karyawan, ia memandanginya sebentar lalu melanjutkan langkahnya menuju pantry.
Keluar dari pantry Fian sudah ada di depan Pantry seperti sedang menunggunya.
"tidak akan ku biarkan kamu mengambil dan merusak perusahaan ini, cepat atau lambat kau harus keluar dari sini dan juga bawa keluar ibu mu dari rumah ku" ancam Fian, suaranya pelan tapi sangat tegas dan penuh kemarahan.
"tidak ada yang akan mengambil perusahaan mu tuan, dan ibu ku papa yang membawanya ke rumah mu bukan kemauan ibu ku, jadi jangan takut aku mengambil perusahaan mu karena aku juga tidak menginginkannya, dan tolong jaga bicara mu tentang ibu ku karena kalau aku hilang kesabaran aku tidak segan untuk membunuh mu" ucap Bian membalas ancaman Fian.
Kemudian Bian pergi meninggalkan Fian yang masih mematung penuh kemarahan dalam dirinya.
πΈπΈπΈ
Raya dan Bian terlihat datang bersamaan, mereka memasuki pintu utama gedung.
Sebuah mobil mewah berhenti di depan gedung, keluarlah Fian dari mobil itu kemudian masuk ke dalam.
Fian melihat Bian dan Raya berjalan beriringan di depannya sambil sesekali mereka melepaskan senyum di antara keduanya. Bian sering kali mencuri pandang ke arah Raya.
"bukan kah itu gadis yang menabrak ku kemarin" ucap Fian dalam hati.
Raya dan Bian tidak sadar bahwa Fian memperhatikan mereka.
__ADS_1
"rupanya Bian menyukai gadis itu, hah?" ucapnya lagi dalam hati.
Raya dan Bian sudah memasuki ruangan mereka. Fian pun melanjutkan langkahnya menuju ruangannya.
"Gina, tolong ke ruangan saya" perintahnya saat melewati meja Gina.
"baik, Pak" jawabnya.
Fian memasuki ruangannya dan berlalu di balik pintu.
"mati aku, belum dapat sekretaris buat dia" ucap Gina dalam hati kemudian masuk ke ruangan Fian.
"iya, pak, ada yang bisa saya bantu?" ucapnya sopan.
"aku sudah punya pilihan, siapa yang akan jadi sekretaris ku" tegas Fian.
"siapa pak? boleh minta no kontaknya? buar secepatnya saya hubungi orang yang akan jadi sekretaris bapak" pinta Gina
"ikut aku" perintah Fian sembari berjalan keluar ruangannya dan Gina mengikutinya dari belakang.
Fian berhenti di depan ruangan Raya, Gina mengerutkan dahinya heran mengapa Fian berhenti disana.
Fian berjalan hingga sampai di depan meja Raya, semua orang dalam ruangan itu menyapanya kecuali Bian yang serius memandang layar monitornya.
"aku mau dia menjadi sekretaris ku" ucap Fian menunjuk dengan jari telunjuknya pada Raya.
π·π·π·π·π·π·π·
__ADS_1
terimakasih sudah membaca.
jangan lupa untuk like comment n vote mya yaa....