
"hantu" Bian langsung segera berlari masuk ke dalam rumah mengikuti Raya.
Ibu juga yang mendengr teriakan anaknya segera berjalan menuju sumber suara teriakan.
"hantu apa nak?" tanya ibu yang keheranan melihat hanya ada Raya dan tamunya yang sedang ketakutan memegangi gagang pintu rumahnya.
"itu hantunya" jawab Raya menunjuk ke arah Bian yang masih ketakutan memegang gagang pintu.
"cakep begini kok dibilang hantu, liat tuh masa hantu sampai ketakutan gitu dikira dianya hantu" ucap ibu dengan sedikit tertawa.
Bian yang sadar bahwa yang disebut Raya hantu itu adalah dirinya seketika melepaskan gagang pintu yang dari tadi ia genggam.
"ayo duduk sini, nak" ajak ibu pada Bian.
"Raya ambilkan minum untuk teman mu" perintah ibu lagi pada Raya.
Raya bergegas ke dapur mengambilkan minuman yang tadi sudah dibuatkan ibu dengan beberapa cemilan.
"siapa nama mu nak?" tanya ibu.
"Fabian tante, teman kerja Raya" jawabnya ramah.
Segelas minuman dan dua toples cemilan di letakan Raya di atas meja, kemudian ia duduk di sebelah ibunya.
"silahkan diminum, ibu ke belakang dulu" ucap ibu mempersilahkan Bian dan pamit meninggalkan mereka berdua.
__ADS_1
Raya tergelak mengingat kejadian hantu tadi yang membut Bian ketakutan bukan main. Bian tersenyum malu karena tingkahnya, tapi ia merasa senang melihat Raya tertawa lepas karenanya.
"udah ketawanya" ucapnya melihat Raya terus tertawa.
"kamu hantu tapi takut sama hantu, hahaha" jawab Raya.
"aku, hantu?" Bian tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Raya.
"iya kamu kek hantu suka tiba-tiba muncul di depan aku" jawab Raya menghentikan tawanya karena perutnya sakit dari tadi tertawa.
"kok berhenti?" kata Bian.
" capek ketawa terus" jawab Raya lalu meminum air dari gelas yang tadi ia siapkan untuk Bian.
"eh ini kan minuman kamu, biar aku buatkan lagi, tunggu, tenang aja disini gak ada hantu kok, hantunya cuman kamu jadi gak usah takut" ucap Raya dengan sedikit menahan tawanya kemudian ke dapur untuk membuatkan minuman lagi untuk Bian.
"terimakasih" ucap Bian kemudian meminum minumannya.
"ada keperluan apa kamu kesini? ah tidak kamu ngikutin aku?" tanya Raya heran Bian tahu alamat rumahnya.
"nih, tadi ketinggalan di bis, di panggil-panggil kamu malah pergi, jadi aku ikutin aja" jawab Bian sembari menyerahkan tas warna merah muda ke depan Raya.
"oh iya aku lupa, makasih ya" ucapnya
"dasar ceroboh" kata Bian sembari mengacak-acak rambut Raya.
__ADS_1
"siapa suruh tiba-tiba muncul kayak hantu jeruk purut" rutuknya.
"yang tiba-tiba muncul siapa? aku kan biasa naik bis juga" ucap Bian tak mau kalah.
Percakapan itu berlanjut hingga akhirnya mereka menjadi dekat satu sama lain.
Pagi itu Raya sedang mempersiapkan beberapa berkas untuk persiapan meetingnya.
Seorang pria tampan berpostur tinggi tegap rambutnya yang hitam legam dengan manik mata yang kecoklatan memakai jas warna gelap dengan kemeja dan dasi warna senada memasuki gedung perkantoran.
Semua karyawan menatapnya tanpa berkedik, karyawan wanita ada yang histeris melihat ketampanan pria itu.
Gina, menghampiri pria itu lalu memandunya memasuki ruang meeting. Semua para petinggi dan staff kantor di kumpulkan termasuk Raya dan Bian.
"perkenalkan ini adalah Alfian Adiwijaya anak dari Pak Prastian Adiwijaya, yang mulai hari ini akan menjabat sebagai wakil direktur perusahaan. Selama Pak Pras tidak hadir keputusan berada di tangan Pak Fian," jelas Gina memperkenalkan seseorang yang menjadi pusat perhatian sedari tadi.
Alfian Adiwijaya adalah anak dari istri pertama Prastian Adiwijaya. Ia kembali ke tanah air karena permintaan ayahnya untuk meneruskannya memimpin perusahaan.
Sedangkan Prastian sendiri kini tinggal bersama istri keduanya yang ia nikahi secara siri. Dari istri keduanya ia mempunyai seorang putra yaitu Fabian Adiwijaya. Tapi Bian memilih untuk menjadi karyawan biasa di perusahaan ayahnya. Dan menutupi jati dirinya sebagai anak dari Prastian Adiwijaya. Karena pernikahan kedua Pak Pras pun tidak di ketahui publik, dan sengaja tidak di publikasikan.
Selesai meeting dan perkenalan wakil direktur pagi itu semua karyawan kembali ke ruangannya masing-masing.
Fian dan Bian bertemu di depan pintu mereka saling bertatapan dengan tatapan menantang satu sama lain.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
__ADS_1
jangan lupa like comment n vote nya ya readers... terimakasih 🖤🖤🖤