Terjerat Cinta Anak Bos

Terjerat Cinta Anak Bos
DUAPULUH DUA Kecurigaan Bian


__ADS_3

"Menjijikan,"


"Fian," Gina terkejut.


"Sedang apa kau di sini?" Pak Pras sama terkejutnya.


"Tadinya aku kesini untuk melihat keadaan mu yang sudah ternodai oleh papah ku sendiri dan akan bertanggung jawab atas perbuatannya. Tapi, melihat kejadian barusan ternyata kalian memang sudah biasa melakukannya. Lantas kenapa waktu itu kau berpura-pura seperti sudah ternodai?" ucap Fian marah.


"Dia yang memaksa ku,"ucap Gina membela diri.


"Jangan bersandiwara lagi aku sudah muak," meninggikan suaranya pada Gina.


"Dan kau, aku sangat menyesal menjadi darah daging mu. Untuk memanggil mu papah saja aku sangat tidak ingin. Apa kau pantas di sebut papah dengan kelakuan mu yang seperti ini?" ucap Fian pada Pak Pras sambil menunjuknya.


"Jaga ucapan mu, Fian," ucap Pak Pras marah.


"Mau sampai kapan, Pah? Mau berapa wanita lagi yang akan kau nodai, mau berapa masa depan lagi yang akan kau hancurkan? Ingat lima tahun lalu gadis yang sangat di cintai anak mu kau buat hancur juga. Kau sudah menghancurkan Tisya, dan membuat kesalah pahaman antara aku dan Bian. Apa kau masih tidak puas?" ucap Fian lagi.


Plaaaakkkk.........


Pak Pras menampar Fian, tidak terima dengan ucapan Fian padanya. Karena tamparan yang sangat keras membuat ujung bibir Fian terluka dan sedikit berdarah.


Gina masih diam membisu, sedang mencari cara agar Fian masih mu menikahinya.


Fian mengangkat kepalanya saat sudah diam beberapa saat setelah tamparan keras dari papahnya.


"Aku tidak akan bertanggung jawab atas perbuatan mu lagi. Aku tidak akan menikahinya," ucap Fian kemudian pergi masuk ke mobilnya lalu menancapkan gasnya.


Pak Pras tidak menoleh ke arah Gina lagi, ia langsung masuk mobilnya dan menyusul Fian di belakang.


Sedangkan Gina masuk ke dalam rumahnya dengan perasaan sangat kacau karena Fian melihatnya bersama Pak Pras dan tidak jadi menikahinya.


Sementara itu Bian dan Raya baru saja sampai rumah Gina. Raya mengetuk pintu dan dibukakan pintu oleh pembantunya


"Gina mana, Bik?" tanya Raya setelah dipersilahkan masuk.


"Ada di kamarnya, Neng,"

__ADS_1


"Gina udah makan belum, Bik?"


"Udah, Neng,"


"Ya udah, kita langsung ke kamarnya aja ya, Bik,"


Pembantu itu pergi, Raya dan Bian berjalan ke kamar Gina yang ada di lantai dua rumahnya.


"Aaaaaaarrrrrgggghhhhh,"


Suara teriakan dan pecahan kaca terdengar dari kamar Gina. Raya dan Bian mempercepat langkahnya.


"Sialaaaaaaaaannnnn,"


Suara Gina terdengar lagi.


Raya dan Bian membuka pintu kamar Gina yang tidak di kunci, kamar Gina sudah acak-acakan pecahan kaca dimana-mana.


Raya secepatnya menghampiri Gina dan mendekapnya.


"Tenang, Gin. Ada kita di sini. Kamu harus tenang. Pak Fian akan bertanggung jawab sama kamu, Gin," ucap Raya menenangkan Gina.


Raya semakin prihatin dengan keadaan Gina, ia merasa sedih karena apa yang menimpa Gina sama persis dengan yang menimpa Kakaknya dulu.


Lain dengan Bian, ia merasa aneh dengan penampilan Gina yang memakai baju tidur sexy dan tanda merah di lehernya. Tapi semua itu di tepisnya melihat Raya yang sangat sedih dengan keadaan Gina saat ini.


Bian memanggil pembantu rumah Gina untuk membereskan kamar Gina.


Raya membawa Gina ke luar kamar sambil terus mendekapnya.


"Sial, gue masih pake baju sexy lagi. Dari tadi tuh mata si Bian lihatin gue muluk." Gina.


"Gin, kamu mau minum? Biar aku ambilkan," tawar Raya.


Tapi Gina tidak menjawab ataupun bereaksi dengan tawaran Raya.


"Ra, kamu ambilkan minum buat Gina, biar aku yang jagain dia di sini," ucap Bian.

__ADS_1


"Ya sudah, Gin, duduk dulu di sini ya. Aku ambilkan dulu minum," ucap Raya lembut.


Gina masih tetap diam.


Raya pergi ke dapur untuk mengambilkan minum.


Tinggal berdua saja Gina dan Bian di ruangan itu. Bian terus saja memperhatikan Gina dan menaruh curiga pada penampilannya.


"Aku curiga sebenarnya Gina gapapa, aku harus cari tahu." Bian.


Raya kembali dengan segelas air untuk Gina kemudian meminumkannya pada Gina.


Pembantunya sudah selesai membereskan kamar Gina, Raya membawa Gina kembali ke kamarnya.


Raya membantunya duduk di tempat tidur dan menyelimutinya.


Tidak sengaja Bian terpentok meja rias di kamar dan di sana Bian melihat jam tangan milik Pak Pras tergeletak begitu saja.


"Ini kan jam tangan, Papah. Aku yakin ada yang nggak beres sama Gina," Bian.


Ponsel Gina berdering tertera Prastian di layar ponselnya. Bian melihatnya dan semakin curiga.


"Gin, Pak Pras telepon. Aku angkat aja ya," ucap Bian sengaja dan menekan tombol speaker.


Gina terkejut bukan main.


"Halo sayang kita harus bicarakan lagi rencana kita."


Terdengar suara Pak Pras bicara di ujung telepon. Raya, Bian dan termasuk Gina mendengarnya dengan sangat jelas.


Semua orang di dalam kamar terkejut. Raya tidak percaya dengan apa yang ia dengar barusan.


"Kamu merencanakan apa, Gina?" ucap Bian geram.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


like comment n vote

__ADS_1


terimakasih


__ADS_2