
Fian datang menghampiri kedua gadis yang sedang bersi tatap di depan ruang kerjanya.
“Sedang apa kalian? Pagi-pagi sudah bergosip,” Fian menggelengkan kepala melihat kedua gadis di depannya.
“Selamat pagi, Pak,” sapa Gina dengan menyibakan rambutnya ke belakang telinga.
Raya menganggukan kepalanya melihat kedatangan bosnya itu.
“Pagi,” jawab Fian singkat lalu lansung masuk ke dalam ruang kerjanya tanpa memperdulikan kedua gadis itu.
“Inget ya lo harus bantuin gue, okey,” ucap Gina sembari menyubit pipi Raya dan langsung pergi.
Raya menyimpan tasnya di meja dan langsung menuju pantry untuk membuatkan bosnya kopi seperti biasanya. Raya membawakannya ke ruangan Fian dan meletakkannya di meja lalu ia kembali ke tempat duduknya.
Fian menyeruput kopinya perlahan menikmati setiap tetesan kopi yang masuk ke mulutnya. Tersenyum dan membayangkan si pembuat kopi itu. Rasanya manis, pahit, dan bahagia, itulah yang Fian rasakan.
Kopi itu membawanya ke dalam lamunan di pagi hari. Bayangannya Raya membelai lembut pipinya, memeluknya dalam seakan hanya Fian dan Raya. Membuat Fian senyum-senyum sendiri melamunkan dirinya dengan Raya.
Raya yang ketika itu masuk ke ruangan Fian bermaksud mengembalikan sweater yang di pinjamkan Fian padanya tempo hari terheran-heran dengan kelakuan bosnya yang tersenyum sendiri seperti orang yang tidak waras. Raya bergidik melihat tingkah bosnya itu.
“Pak, Pak, Pak Fian,” panggil Raya yang membuyarkan Fian yang sedang berfantasi ria.
“Ah, hmmm, ya,” terkejut melihat Raya sudah berada di hadapannya memandangnya penuh kengerian.
“Bapak, baik-baik saja?” tanyanya meyakinkan dirinya.
“Saya baik-baik saja. Ada apa?” jawab Fian.
“Ini sweaternya, Pak. Sudah saya cuci. Terimakasih sudah meminjamkannya.” Menyimpan paperbag di meja.
“Oh ya, sama-sama,”
“Bapak, Butuh sesuatu?”
“Siapkan dirimu untuk hari ini, karena hari ini akan banyak pekerjaan yang harus kita selesaikan. Sepertinya kita harus lembur,”
“Baik, Pak,”
__ADS_1
“Lanjutkan pekerjaan mu,”
Fian meraih paperbag yang tadi di simpan Raya di mejanya selepas Raya keluar dari ruangannya. Membuka dan mencium sweaternya. Lalu membuka jasnya dan memakai sweater itu dengan senyuman merekah di wajahnya.
Sedangkan Raya merasa ngeri melihat kejadian yang baru saja dilihatnya.
“Tuh orang udah gila kali ya, senyum-senyum sendiri nggak jelas. Gina, Gina, kok kamu malah suka sama orang nggak waras kayak dia sih,” mengasihani temannya yang sangat terobsesi dengan bosnya yang menurutnya tidak waras.
Benar saja banyak pekerjaan yang harus diselesaikan Raya, sampai-sampai ia lupa bahwa ia melewatkan makan siangnya. Jam makan siang sudah terlewatkan, cacing di perutnya mulai demo meminta asupan makanan.
Fian menghampirinya masih dengan mengenakan sweater yang di bawa Raya tadi.
“Raya, kamu sudah makan siang?” tanya Fian pada sekretarisnya yang masih berkutat dengan keyboard dan layar monitornya.
“Belum sempat, Pak,” jawab Raya yang terperangah melihat Fian memakai sweater yang dibawanya.
“Ya sudah kalo gitu,” berlalu meninggalkan Raya yang masih mematung melihat keanehan bosnya.
“Emang ngeselin tuh orang. Udah tau aku belum makan, suruh istirahat kek, huh,” gerutu Raya.
Teringat ia masih mempunyai biskuit di tasnya, untuk mengganjal perutnya yang terus keroncongan minta di beri makan.
Asik dengan biskuitnya, Raya mencium sesuatu yang enak. Mencium aroma makanan yang lezat yang biasa ia makan di kantin dekat kantornya.
“Gara-gara belum makan jadi halusinasi nyium bau ayam geprek,” keluhnya lagi.
Baunya semakin dekat dan terus ia mengendus-endus indera penciumannya sampai terhenti di suatu titik belakangnya.
Ternyata Bian di belakangnya membawakan bungkusan yang beraroma lezat itu. Bian menyodorkannya pada Raya.
“Belum makan kan? Nih aku bawain,” ucap Bian.
Raya dengan cepat menyambar bungkusan yang berisikan nasi paket ayam geprek dan es the manis di dalamnya.
“Kalo makanan cepet banget, jangan makan di sini,” ucapnya lagi.
Bian menarik tangan Raya dan mereka berjalan menuju pantry, Raya mengikutinya karena ia sudah sangat lapar. Tidak hanya itu Bian menggenggam tangannya sepanjang jalan menuju pantry. Tanpa berkedip Raya terus memandangi tangannya yang di pegang Bian.
__ADS_1
Mereka duduk di meja makan, lalu Bian membukakan bungkusan makanan untuk Raya. Raya semakin senang dibuatnya, Bian begitu perhatian padanya.
“Makan lah, nanti kamu kelaparan bisa bahaya,”
“Makasih, kamu nggak makan?”
“Aku sudah makan tadi,”
“Oh, bahayanya kenapa kalo aku kelaparan?”
“Ya kamu bisa mati,”
“Emang kenapa kalo aku mati?”
“Kalo kamu mati ……..” kalimat Bian terhenti.
“Kenapa?”
Raya menatap Bian seakan berharap Bian menjawab apa yang ia tanyakan dengan jawaban yang ia harapkan. BIan pun balas menatapnya dengan tatapan yang Raya tak dapat mengartikannya.
“Ayo cepat makan, kalau bos kamu kembali dan melihat mu tidak ada di meja mu bisa di pecat kamu nanti,” ucap Bian menyudahi adegan tatapannya.
“Iya, makasih ya sudah membawakan aku makanan,” ucap Raya lalu menyantap makanannya dengan lahap.
Bian tersenyum melihat Raya yang sedang menikmati makanan yang ia bawakan.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Halo semua...
maafkan baru UP dan hanya 1 episode aja ya...
Karena kesibukan yang lumayan padat dan akhirnya harus merasakan sakit jg...
Oh ya readers jg jaga kesehatan ya...
jangan lupa like comment n vote nya
__ADS_1
jadikan favorit jg biar dpt notif setip UP trbarunya....
makasih semua 🖤🖤🖤