
Fian kembali dari makan siangnya namun tidak menemukan Raya di meja kerjanya. Fian menyimpan sebuah bungkusan di meja Raya. Ia sengaja membelikan makanan untuk sekretarisnya itu. Setelah menyimpan bungkusannya ia langsung masuk ke ruang kerjanya.
Pekerjaan yang menumpuk karena proyek barunya dan ini adalah proyek pertamanya yang ia tangani semenjak masuk dalam perusahaan ayahnya. Fian menginginkan proyek yang ia tangani sukses dan berhasil. Fian terus fokus dengan tumpukan berkas yang ada di mejanya.
Sementara itu Raya yang baru saja menghabiskan makan siangnya bersama Bian di pantry. Rasanya Raya masih ingin berlama-lama bersama Bian kala itu, namun ia ingat dengan pekerjaannya yang masih belum di selesaikan.
“Hari ini kamu lembur?” pertanyaan yang Bian sudah tahu jawabannya tapi tetap ia tanyakan.
“Sepertinya iya, masih banyak yang harus diselesaikan hari ini,” jawab Raya.
“Yah, nggak ada teman duduk di bis dong nanti,”
“Teman buat digangguin maksud kamu,”
“Hahaha,”
“Dasar hantu pengganggu,”
Bian semakin tertawa mendengar makian
Raya padanya.
“Aku mau lanjutin kerja, dan makasih makanannya,” Raya segera melangkah meninggalkan Bian yang masih duduk di pantry.
Sesampainya di meja kerjanya, Raya melihat ada bungkusan makanan di sana lalu membukanya. Bungkusannya berisikan makanan cepat saji burger, kentang goreng dan minuman bersoda.
“Makanlah, kamu pasti belum makan,” suara Fian mengejutkan Raya yang masih bertanya-tanya dalam hatinya tentang bungkusan itu.
“Tapi saya baru selesai makan, Pak,” jawab Raya.
“Bru selesai? Tapi kan kamu belum keluar membeli makanan. Sudah lah jangan malu-malu makan saja,” paksa Fian.
“Saya beneran sudah makan, Pak,”
__ADS_1
“Makan dimana?”
“Di pantry, Pak,”
“Ya sudah buang saja kalo kamu sudah makan,” membawa bungkusan itu dan akan dibuangnya ke tempat sampah tapi Raya mencegahnya.
“Jangan di buang, Pak. Kan mubadzir kalo dibuang. Nanti saya makan untuk makan malam saja. Terimaksaih sudah membelikan saya makanan,” ucap Raya.
“Ya terserah kamu saja,” Fian kecewa ia terlambat membawakan makan siang untuk Raya dan langsung masuk ke ruangannya lagi.
“Bos yang aneh,” Raya.
Raya melanjutkan kembali pekerjaannya supaya cepat selesai dan ia cepat pulang. Malam sudah larut namun Fian dan Raya masih asik dengan pekerjaan mereka.
Raya melihat arlojinya sudah menunjukan pukul Sembilan malam. Rasanya sudah cukup ia bekerja hari ini dan ia akan meminta izin untuk pulang duluan pada bosnya. Raya masuk ke ruangan Fian tapi si empunya ruangan tidak ada.
Raya memutuskan untuk pergi ke toilet untuk membasuh mukanya yang sudah kusam karena kesibukannya hari ini.
Benar saja ia melihat Gina sedang menangis sesenggukan di dekat mejanya dengan keadaan yang mengkhawatirkan. Bajunya sudah acak-acakan, rambutnya, dan penampilannya sudah tidak karuan lagi. Ditambah lagi dengan air matanya yang terus mengalir karena tangisannya yang terus menerus.
Tapi yang sangat membuatnya terkejut adalah ada Fian di sana yang sedang membuka resleting sweaternya.
“Bapak sedang apa?” teriak Raya mengejutkan Fian pada saat itu.
Raya segera meraih Gina dan menghalangi Fian berbuat sesuatu pada temannya itu.
“Ini nggak seperti yang kamu lihat, Raya” membela diri.
“Ini sudah menjadi bukti bahwa anda itu seperti apa,” bentak Raya pada Fian sembari menunjuk Gina yang masih terus menangis.
“Bukan seperti itu,” ucap Fian lagi berusaha meyakinkan tapi Raya langsung membawa Gina pergi.
Fian kesal dan menendang dinding di dekatnya.
__ADS_1
"Aaarrghh,"
Raya membawa Gina keluar dari gedung kantornya. Berusaha mencari taxi namun tak kunjung ada.
Sebuah mobil sedan putih mendekati mereka. Kaca bagian depan terbuka di dapatinya Bian yang berada dalam mobil itu.
"Cepat, masuk lah," ajak Bian.
Tidak berpikir lama Raya dan Gina langsung masuk ke dalam mobil yang di kendarai Bian.
Fian mencoba mengejar Raya dan Gina tapi setelah sampai di depan gedung ia tidak mendapati mereka di sana.
"Sial, kemana mereka? Semoga saja Raya tidak salah paham tentang ku," ucap Fian sambil terus melayangkan pandangannya mencari keberadaan Raya dan Gina.
Di dalam mobil Gina terus saja menangis. Raya merangkulnya dan mencoba menenangkannya.
"Gue udah gak suci lagi, Ra. Hiks... hiks.." air matanya terus menerus membasahi pipinya.
"Dasar cowok kurang ajar," maki Raya.
Bian yang menyetir di depan pun ikut terbawa emosi, ia menggenggam erat stir mobilnya menahan amarahnya.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Haloo readers....
weekend nya di rumah aja yaa baca novel toon...
jangan lupa tinggal kan jejak kalian dengan like comment n vote nya....
terimakasihh.....
🖤🖤🖤
__ADS_1