Terjerat Cinta Anak Bos

Terjerat Cinta Anak Bos
DUAPULUH TIGA Lebih Baik Mencegah Daripada Mengobati


__ADS_3

Bian sangat geram dengan Gina kalau tidak dihalangi Raya mungkin saja ia sudah bertindak kasar padanya.


"Tolong jelaskan dengan sejelas-jelasnya, Gin. Apa maksud Pak Pras berkata seperti itu di telepon dan apa rencana kalian?" ucap Raya meninggi.


"A, aku di paksa, Ra,"


"Jelaskan yang benar jangan mengada-ada," ucap Bian emosi.


"Aku harus menikah dengan Fian kalo tidak dia akan membunuh ku," ucap Gina berbohong.


"Jelas-jelas tadi dia memanggil mu sayang, ada hubungan apa kalian haahh?" ucap Bian lagi semakin emosi dan sudah tidak sabar.


"Pak Pras sudah menikahi ku secara siri,"


Jawaban Gina menjadi pukulan keras bagi Bian, karena ibunya pun adalah istri siri dari Pak Pras.


"Hahaha, kau terkejut kan Bian, karena ibu mu pun hanya istri siri. Tapi gue akan memanfaatkan situasi ini,"


"Bian, Raya, tolong aku. Aku nggak mau terus menuruti kemauan Pak Pras. Dia akan menghancurkan keluarga ku kalo aku nggak nuruti kemauannya. Tolong aku," ucap Gina sambil pura-pura sedih dan menangis.


"Kita harus nolongin Gina, Bi," ucap Raya.


"Tapi aku masih belum percaya sama dia," jawab Bian.


"Coba kalo kamu di posisi Gina, dia melakukan itu semua karena ingin melindungi keluarganya,"


"Masalahnya bukan karena itu,"


"Lalu apa masalahnya?"


Bian diam seribu bahasa. Gina tersenyum melihat Bian tidak dapat berkata apa-apa.


"Kita pulang saja, nanti kita pikirkan bagaimana cara menolong, Gina," ucap Bian.


Raya mengangguk.


"Gina, kita pulang dulu. Kamu tenang aja kita pasti bantu kamu. Ganti baju mu kalo ada Bian kemari, dari tadi dia melototin kamu terus," ucap Raya sambil memelototi Bian.


Bian menepuk jidatnya, sedangkan Gina menunduk dan menutupi sebagian tubuhnya dengan tangan.


Bian dan Raya keluar dari rumah Gina dan langsung pergi.


Sampai di depan rumah Raya Bian membuka helmnya dan turun dari motor setelah Raya turun lebih dulu.


Pletaaakkkk....


"Aaaaaawwwww aaaawww," ringis Bian yang di jitak oleh Raya.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Bian yang tidak mengerti tiba-tiba Raya menjitaknya.


"Dasar cowok liat body sexy, body mulus gitu aja terus aja melotot tanpa kedip," cecar Raya.


"Aduh salah paham nih, bukan gitu, Raya,"


"Terus apa? Dari waktu masuk kamar Guna tuh mata terus melotot,"


"Ehehe yah rezeki kan nggak boleh di tolak," ucap Bian sambil tertawa.


Raya memukul pundaknya, Bian berlari menghindar, terjadilah adegan saling kejar mengejar di depan rumah. Tanpa mereka sadari sepasang mata sedang memperhatikan mereka.


Dalam hatinya Fian sakit melihat mereka terlihat begitu bahagia. Andaikan saja kemarin ia tidak mengatakan akan menikahi Gina. Tapi nasi sudah menjadi bubur, semuanya sudah terjadi.


"Ra, aku pulang ya. Oh ya besok pulang kerja aku ingin mengajak mu ke suatu tempat," ucap Bian.


"Kemana?" Raya penasaran.


"Besok kamu juga tahu, pokoknya besok kamu harus ikut aku, bye," memakai helmnya lalu pergi.


"Eh dasar hantu, maen pergi aja,"


Raya masuk ke dalam rumah.


Fian keluar dari mobil berjalan ke depan rumah Raya, tapi tidak berani untuk masuk. Ia hanya memandangi kamar Raya dari luar. Lampu kamarnya belum dimatikan tandanya Raya masih belum tidur.


"Fian,"


Fian berbalik, Raya sudah ada dihadapannya dan berjalan mendekat.


"Ka, kamu belum tidur?"


"Bibir kamu kenapa? Ayok masuk aku obatin dulu,"


Tangan Raya menarik lengan Fian berjalan masuk ke dalam. Raya menyuruh Fian duduk lalu ia pergi membawa kotak obat.


Tidak lama Raya kembali dengan kotak obat ditangannya.


"Baru aja kemaren diobatin sekarang udah luka lagi, kamu emang hobi yah terluka?" omel Raya.


"Aku rela terluka asal kamu yang selalu obatin luka ku," ucap Fian yang berhasil membuat pipi Raya merah merona.


"Mencegah lebih baik daripada mengobati," terucap begitu saja dari bibir Raya.


Fian tertawa.


"Ih malah ketawa, emang bener kan? Lebih baik mencegah terluka dari pada ngobatin luka,"

__ADS_1


"Bukan itu yang buat aku ketawa,"


"Terus apa?" Raya heran.


"Pipi kamu yang langsung merah waktu aku bilang itu tadi," mencubit kedua pipi Raya.


"Aaaaaaaah sakit, nanti jadi tambah merah kalo dicubit,"


"Biarin, biar kayak badut,"


"Aaaahhhh sakit, lepasin !! Kayak badut juga tapi kami suka kan?"


Fian melepaskan cubitanya lalu mengelus pipi Raya dengan lembut.


"Sakit?"


Raya mengangguk.


Fian mencium kedua pipinya.


"Masih sakit?"


Raya diam, matanya masih menatap Fian. Tubuhnya seakan kaku tak bisa bergerak, rasanya ia pasrah dengan apa yang dilakukan Fian padanya saat itu.


"Kok diam? Ngomong dong jangan diam terus," ucap Fian.


"Kenapa kamu selalu mencium ku tanpa ijin dulu sama aku? Emangnya aku apa, kamu cium terus seenaknya?" ucap Raya nyeroscos tanpa titik dan koma.


"Karena aku suka sama kamu, dan karena kamu adalah Raya," jawab Fian santai.


"Maksudnya?"


"Sudah ya, aku mau pulang. Terimakasih sudah ngobatin luka aku. Nanti kalo luka lagi aku ke sini," berdiri lalu berjalan keluar dengan santainya.


"Hey, dasar nyebelin," kesal sendiri.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Jangan lupa like comment n votenya ya.....


Dirumah aja ya....


Jangan lupa sering cuci tangan dan jaga kesehatan...


Klo memang harus keluar rumah wajib pake masker.


Semoga pandemi ini segera berakhir...

__ADS_1


Aamiinnn....


__ADS_2