
Hari segera berlalu dalam sekejap, dan Al sudah memulai hari-harinya taman kanak-kanak yang baru.
Yah, walaupun cukup membosankan ketika di TK, karena tidak ada hal menarik yang menumbuhkan minat Al.
Saat jam Istirahat, Al mulai berbicara dengan teman-teman barunya itu, yah masih cukup asik juga bermain dan berbicara dengan mereka.
"Al, Al apa kamu tahu? Akhir pekan lalu, Papa dan Mamaku, mengajakku pergi ke taman hiburan, disana sangat menyenangkan, lihat ini foto yang aku ambil bersama mereka berdua," kata seorang anak lalu mulai menunjukkan sebuah foto kecil yang ada di tempat pensil nya.
Al lalu menatap foto keluarga yang indah itu.
Dulu di sekolah lamanya, teman-temannya yang lain juga sering bercerita tentang bagaimana mereka pergi bersama ke taman hiburan, atau pergi menonton film ke bioskop bersama dengan kedua orang tua mereka.
Jujur, Al selalu merasa cukup diri, saya pergi bertiga dengan keluarga lengkap seperti itu.
Bukannya dirinya tidak puas hanya dengan Mamanya, namun dirinya selalu memiliki keinginan agar bisa seperti anak-anak lain.
Tepat ketika Al memikiran itu, Al lalu menatap kearah smart watch di tangannya.
Al baru saja ingat, sejak bertukar telepon dengan Papanya tempo hari, Papanya lalu memberikan dirinya hadiah jam tangan ini yang bisa digunakan untuk menghubungi papanya kapan saja.
Tentu saja, Mamanya awalnya tidak setuju dengan hal-hal semacam itu, namun berkat paksaan Al, Alice mau tidak mau menerimanya.
Benar!
Bukankah Papa bilang, jika dirinya menginginkan sesuatu dirinya bisa memintanya?
Sekarang dirinya juga memiliki seorang Papa, jadi videonya juga ingin menikmati hari hari yang indah dan pergi bersama-sama seperti teman-teman lainnya.
Papanya buka pernah berjanji sebelumnya ingin mengajak dirinya jalan-jalan, namun masalah utamanya adalah bagaimana dirinya harus membujuk Mamanya?
Jika Mamanya tahu, pasti Mamanya tidak mengijinkan dirinya pergi.
Lalu, sebuah ide tiba-tiba muncul di benak Al.
"Sebentar ya teman-teman aku ingin menelepon Papaku dulu,"
"Tentu, saja Al! My juga sudah melihat foto Papamu yang begitu Tampan itu, sungguh kalian berdua sangat mirip,"
Memang, sejak masuk ke sekolah barunya, Al selalu memamerkan foto Papanya yang ada di jam tangannya ini.
Ya, Al sangat senang karena mulai sekarang tidak akan ada lagi anak-anak yang menyebut dirinya tidak memiliki Ayah!
Sejak lama, Al sudah sangat kesal ketika teman-temannya di sekolah menyebut dirinya tidak punya Ayah, dan hal-hal jelek semacam itu, itu membuat dirinya sangat sedih.
Namun, Al tidak berani menceritakan hal-hal semacam itu kepada Mamanya, takut Mamanya cemas, karena Al tahu, Mamanya itu sudah sangat kerepotan dengan mengurus pekerjaannya, dan mengurus rumah, Al tidak ingin lebih merepotkan nya dengan urusan yang dirinya memiliki.
Itulah kenapa, Al ga sangat ingin cepat tumbuh dewasa agar bisa membantu Mamanya.
__ADS_1
Namun, saat ini tidak apa-apa, ada baiknya masih menjadi anak kecil seperti ini.
"Hallo, Al ada apa kamu tiba-tiba menelepon? Bukankah ini masih jam kelas?"
Suara Pria dewasa balik telepon mulai terdengar dari jam tangan itu.
"Papa, Al memiliki sebuah keinginan,"
"Apa itu? Katakan kepadaku aku akan menuruti semua yang kamu mau!"
"Emm, Papa bagaimana jika akhir pekan ini, kita ke Taman Hiburan?"
Di ujung telepon, Justin terdiam terlihat sedang berpikir, tentang apa yang akan dirinya lakukan sebagai jawabnya.
Dirinya memang ingin dekat dengan Al, namun membujuk Mama anak itu, akan sangat merepotkan, lagi dengan sikap keras kepalanya itu.
"Papa tidak keberatan, namun Al tahu sendiri, Mama Al seperti apa, apakah dia mengijinkan untukmu pergi?"
"Tentu saja Mama akan mengijinkan! Al sudah memiliki rencana untuk itu,"
"Apa itu?"
"Nanti Al akan mengajak Mama dulu ke Taman Hiburan, nanti Papa muncul di Taman itu, jadi kita bertiga bisa pergi bersama-sama, karena kita sudah berada di tempat itu, Mama jelas tidak bisa menolak,"
Justin yang mendengar itu, sedikit terkekeh.
Kenapa bisa dirinya tidak memikirkan cara semacam itu?
"Pfff.... Itu ide yang sangat bagus,"
"Tentu, saja, jika seperti ini kita pasti berhasil,"
"Ya, Putra Papa memang yang terbaik,"
Begitulah panggilan itu akhirnya ditutup.
Al yang memikirkan jika intinya itu cukup bagus bahkan Papanya setuju, jelas saja merasa senang.
Sekarang langkah berikutnya adalah membujuk Mamanya.
Jadi, sepulang sekolah, Al langsung berbicara pada Mamanya yang menjemputnya itu.
"Mama, Al memiliki permintaan,"
Alice yang menggandeng putranya itu jelas menjadi heran dan segera bertanya,
"Apa itu Al?"
__ADS_1
"Bagaimana jika akhir pekan ini kita ke Taman Hiburan?"
"Huh? Kenapa tiba-tiba?"
"Semua teman-teman Al, datang ke tempat itu dan mereka menceritakan betapa hanya taman hiburan baru yang baru buka itu, Al ingin kesana seperti mereka,"
Alice lalu mulai menatap ke arah ponselnya, sedang mengecek jadwal yang dimilikinya.
Sepertinya akhir pekan ini kosong, tidak ada jatwal Les Privat, memang ini karena dirinya baru pindah, jadi belum memiliki siswa yang Les Privat padanya.
"Tentu saja, mari kita pergi berdua akhir pekan ini,"
"Benar Ma?"
"Tentu saja sayang,"
Al terlihat sangat senang lalu memeluk Mamanya, merasa rencananya berjalan dengan mulus.
Alice tentu saja tidak curiga sedikitpun dengan permintaan tiba-tiba dari putranya itu.
Sampai saat akhir pekan, dan Alice bersama Al sampai di depan pintu gerbang Taman Hiburan, Alice menjadi sangat terkejut karena melihat wajah yang familiar.
Benar!
Itu Justin?
Kenapa bisa dia ada di sini?
Wajah Alice yang awalnya menunjukkan senyum bahagia jelas langsung berubah menjadi murung setelah melihat wajah itu.
"Alice dan Al? Kalian ada di sini? sungguh kebetulan sekali, Aku tidak sengaja lewat sini, karena ada beberapa pekerjaan disekitar sini," kata Justin, bertingkah seperti dirinya benar-benar hanya lewat sana.
Namun jelas, Alice tidak percaya dengan ucapan pria yang ada di depannya itu.
"Justin! Aku yakin kamu berbohong! Kamu pasti yang merencanakan semua ini, yang membujuk Al agar Aku membawanya ke sini,"
Justin yang dituduh itu segera bersikap pura-pura bodoh dan berkata,
"Apa? Aku benar-benar tidak tahu apa-apa hanya kebetulan lewat,"
"Sudahlah, kamu jangan berbohong!"
"Mama, sudah jangan marah pada Papa! Mari kita bertiga segera masuk ke taman hiburan saja, yah kebetulan Papa disini, bisa sekalian ikut menemani Al!"
Alice lalu menatap ke arah putranya yang memiliki ekspresi polos itu.
"Al, jawab Mama Apakah kamu berbohong padaku soal keinginanmu pergi ke taman hiburan? itu sebenarnya Ide dari Papamu? dia yang membujukmu dan merayumu agar mengatakan itu dan berbohong pada Mama?"
__ADS_1