
Hari itu, Justin segera memasuki Rumah Sakit, agar urusannya di sana cepat selesai.
Sayang sekali ternyata urusan yang harus Justin kerjakan disana, lebih lama dari yang dirinya kira.
Butuh waktu kurang lebih hampir setengah lebih jam sampai dirinya selesai.
Awalnya, Justin cukup ragu karena urusan begitu lama jadi dirinya mengirimkan pesan Apakah tidak apa-apa jika menunggu lebih lama?
Namun, pesan yang Justin dapatkan bilang tidak apa-apa, karena Al memang ingin pergi bertiga.
Mendengar itu, Justin jelas merasa senang dan tidak sabar untuk menyelesaikan urusannya.
"Baik, aku pikir semua yang ada di sini sudah aku kerjakan. Lisa, kamu bisa pulang duluan ke Kantor menggunakan Taksi, Aku akan menaiki mobil ini."
"Tapi, Tuan Muda Justin... Apakah benar-benar tidak apa-apa untuk mengosongkan jadwalmu?"
Mendengar pertanyaan dari asistennya itu sekali lagi Justin berkata,
"Aku sudah bilang sebelumnya tidak perlu terlalu memikirkannya."
Lisa mau tidak mau merasa menyerah setelah Justin lagi-lagi mengatakan itu, dan segera permisi untuk pergi.
Sekarang, setelah Justin tinggal sendirian, dirinya mengecek ke arah jam tangannya.
Hah, memang ternyata ini lebih lama dari yang dirinya kira.
Jadi Justin cepat-cepat ingin pergi ke restoran di depan Rumah Sakit untuk bertemu dengan Alice dan Al.
Ya, Justin sendiri juga tidak mengerti kenapa dirinya sangat senang untuk bisa pergi dengan mereka berdua.
Perasaan aneh yang tiba-tiba datang itu tidak bisa untuk Justin mengerti.
Namun sayangnya, ketika Justin sampai di Restoran dirinya malah melihat orang menyebalkan yang saat ini sedang berbicara dengan akrab pada Alice dan Al.
Sial.
Kenapa Dokter Kevin itu ada disana?
Dirinya memang dengar kalau Dokter Kevin bekerja di Rumah Sakit didepan, namun untuk kebetulan bertemu di sana benar-benar menyebalkan.
Atau jangan-jangan, ini di segaja?
Justin jelas tidak senang dengan kedatangan orang itu.
Terutama setelah percakapan sebelumnya.
Tentang Dokter Kevin yang ternyata mencintai Alice.
"Hallo, Apakah kamu dan Mamamu menunggu lama?" Kata Justin sambil tersenyum kepada Al, ketika tiba di meja mereka.
Al yang melihat akhirnya Justin datang, segera memeluk Justin dengan ceria.
"Tidak apa-apa, yang penting nanti bisa pergi dengan Papa, Al sudah sangat senang sekali,"
Justin menatap ke arah anak dalam pelukannya itu lalu segera menggendongnya.
Al memang benar-benar sangat manis dan menggemaskan membuat dirinya sangat gemas.
"Hmm, tentu saja. Papa juga tidak sabar untuk pergi denganmu Mamamu, namun...."
Sekarang pandangan Justin beralih menatap seorang pria yang kehadirannya tidak Justin inginkan itu.
"Kenapa Dokter Kevin ada disini?"
Kevin yang dari tadi melihat kedatangan Justin, jelas merasa tidak senang, namun tetap menjaga ekspresinya yang tersenyum.
Dan berkata pada Justin,
"Aku bekerja di Rumah Sakit Depan, kebetulan jam praktekku sudah selesai, Aku rencana untuk mencari makan siang di sini namun mana tahu aku bertemu dengan Alice dan Al,"
Mendengar jawaban ramah itu, Justin lalu segera berkata lagi,
"Jadi begitu, aku berterima kasih padamu, karena kamu sudah menemani Al dan Alice selama aku tidak ada Namun kami berdua saat ini sibuk ingin pergi jadi Dokter bisa kembali mengurus urusan Dokter sendiri,"
Alice menatap ke arah dua pria itu yang entah kenapa menunjukkan aura permusuhan.
Benar-benar tidak mengerti dengan situasi.
__ADS_1
Terutama karena Justin bersikap aneh.
Alice juga tidak mengerti bagian mana yang aneh hanya saja sejak hari Justin bertemu dengan Dokter Kevin, perlakuan Justin padanya menjadi sedikit berbeda.
Ini semacam sedikit lebih ramah, dan lebih banyak tersenyum?
Alice mengakui jika pria bernama Justin ini cukup Tampan, ya kalau tidak kenapa Putranya Al bisa begitu tampan dan mengemaskan?
Ini jelas Gen Unggul dari Ayahnya, Justin.
Apalagi jika Pria itu tersenyum, senyumannya cukup untuk melelehkan hati banyak wanita di luar sana.
Hal yang sama yang kadang membuat Alice merasa salah tingkah.
Sebuah senyuman mempesona yang entah kenapa membuat dirinya berdebar.
"Aku sudah dengar dari Alice, soal rencanamu akan pergi dengan Alice dan Al untuk pergi jalan-jalan. kebetulan aku juga memiliki waktu luang itulah kenapa aku sebelumnya sudah bilang pada mereka berdua, Jika aku ingin ikut kalian pergi jalan-jalan."
Justin yang mendengar itu tiba-tiba menjadi semakin kesal.
"Ini adalah urusan Kami bertiga kamu jelas tidak perlu ikut."
"Tapi, Al bilang tidak apa-apa untuk Aku ikut? Benar begitu Al?"
Al yang ada dipelukan Justin, lalu hanya mengangguk dan berkata dengan senang.
"Ya, Al pikir lebih ramai lebih asik Mari kita pergi berempat pasti menyenangkan jika kita pergi berempat,"
Justin menatap ke arah wajah putranya itu yang terlihat sangat mengharapkan ini, sebuah wajah manis yang tidak bisa Justin tolak.
Hah.
Namun untuk pergi dengan orang tambahan semacam ini benar-benar menyebalkan.
Justin lalu segera menatap ke Alice, namun Alice yang ditatap Justin tiba-tiba itu, segera memalingkan wajahnya entah dengan alasan apa, dan berkata dengan canggung,
"Biarkan saja Dokter Kevin ikut, benar apa Al, lebih banyak orang pasti akan lebih menyenangkan,"
Ekspresi Justin jelas menjadi buruk setelah mendengar itu, apalagi setelah melihat wajah tersenyum dari Dokter Kevin yang menyebalkan itu.
Padahal harusnya hari ini menjadi momen yang berharga untuk mereka bertiga, untuk pergi jalan-jalan bersama setelah sekian lama.
"Baiklah, karena ini demi Al, Mari kita berempat segera pergi ke mobilku saja sudah aku siapkan di parkiran depan," kata Justin sambil mengelus rambut Al.
Al yang mendengar itu merasa senang.
"Yey! Jalan-jalan dengan Paman Doker dan Papa!"
Justin yang mendengar itu hanya pura-pura tersenyum, terus menggendong putranya itu.
####
Saat ini, mereka berempat telah tiba di salah satu Mall terkenal di Kota, selain tempat berbelanja, di sana biasanya ada berbagai macam wahana permainan, dan tentu saja, Al sangat senang ketika memasuki salah satu Arcade disana.
Hal menarik pertama yang Al lihat adalah sebuah mesin permainan claw machine.
Ya, ada beberapa mesin claw machine disana, salah satunya berisi hadiah mainan robot-robotan, sesuatu yang biasanya anak laki-laki sukai.
Yang satunya lagi, berisi boneka lucu-lucu.
Al sangat tertarik dengan berbagai mainan robot-robotan yang ada di mesin itu.
Justin menatap Al, yang terlihat menatap mesin itu,
"Apakah Al mau mainan disana?"
Al yang ditanya oleh Justin, lalu segera mengganguk.
"Iya, Pa. Al ingin kotak robot yang berwarna merah!"
Justin lalu segera mengambil kartu yang sebelumnya sudah didaftarkan itu.
"Mari, kita coba,"
Dokter Kevin melihat dimana Al akrab dengan Justin, jelas merasa terganggu, lalu segera bertanya Alice,
"Apakah tidak apa-apa mereka akrab seperti itu?"
__ADS_1
"Tidak apa-apa lagi pula ini kemauan, Al,"
"Aku cukup mengerti, semua anak pasti ingin melihat Ayah dan Ibunya bersama-sama, namun bagaimana denganmu Apakah kamu tidak merasa terganggu dengan kehadiran Justin? kamu pernah bercerita sebelumnya jika kalian berpisah dengan cara yang cukup buruk, dia pergi meninggalkanmu dulu,"
Alice yang ditanya itu, menjadi terdiam cukup bingung tentang bagaimana cara menjelaskannya.
Dulu dirinya hanya membuat dan mengada-ada cerita soal dirinya yang ditinggalkan Suaminya ketika hamil.
Padahal dalam kenyataannya dirinya belum menikah, dan soal Al kurang lebih hanya sebuah kesalahan.
Yah, tidak seperti dirinya pernah berhubungan semacam itu dengan Justin hingga menjadi Al atau sesuatu, hanya jika dipikir lagi hubungan antara dirinya dan Justin cukup aneh.
Al bisa dianggap sebagai anak dari mereka berdua, namun pada kenyataannya itu tidak benar-benar seperti itu.
Ya, seperti yang Alice tahu sebelumnya, sel telur pendonor alias Ibu Biologis Al tidak diketahui, Alice hanya kebetulan hamil karena kesalahan percobaan, Al Putranya namun bukan benar-benar Putranya, ini memang cukup aneh.
Dan, Justin tidak lebih dari seseorang yang mendonorkan Sel ****** nya, dan yang melakukan proses pembentukan Embiro dengan berbagai percobaan sebelumnya.
Apalagi, yang paling parah, baik dirinya dan Justin, sama-sama masih perawan dan masih perjaka sebelumnya.
Alice ingat, tentang pertemuan pertama mereka bagaimana Justin bilang sangat yakin tidak pernah berhubungan semacam itu dengan wanita manapun.
Begitu pula dengan dirinya, yang tidak pernah berhubungan semacam itu dengan Pria manapun.
Namun, dirinya dan Justin memiliki Al sebagai anak mereka.
Ini benar-benar tidak masuk akal, dan tidak akan ada yang percaya jika dirinya ataupun Justin tidak pernah berhubungan sebelumnya.
Hah, untuk dua orang yang tidak memiliki pengalaman semacam itu memiliki anak...
Ini benar-benar lelucon yang mungkin tidak ada orang yang akan percaya.
Jadi apa hubungan antara dirinya dan Justin sebenarnya?
Alice juga tidak mengerti.
Dan jelas, Alice tidak mungkin menjelaskan semua ini pada Dokter Kevin.
"Aku tidak apa-apa, ini semua demi Al."
"Kamu sungguh seorang wanita yang sangat baik."
Ketika mereka berdua mengobrol, Justin tengah memainkan permainan claw machine itu dengan susah payah.
"Papa, ke kanan sedikit ya itu di sana!"
Justin segera mengarahkan jangkar itu ke target yang Al mau, namun sayang sekali itu gagal.
Justin dan Al terlihat kecewa ketika menatap jangkar itu kosong.
"Yah... Padahal tinggal sedikit lagi," ungkap Al dengan kecewa.
Justin lalu segera mengelus rambut Al, dan menggesek kartu itu lagi.
"Tidak apa-apa mari mencobanya lagi," kata Justin dengan percaya diri.
Ya, Justin sebenarnya tidak pernah memainkan permainan semacam ini jadi dirinya juga tidak tahu apakah bisa atau tidak.
Pada putaran kedua ini, lagi-lagi Justin gagal, ini membuat Justin gemas sendiri, dan segera mencobanya lagi.
Saat putaran ketiga gagal, terdengar Dokter Kevin yang dari tadi menatap Justin gagal segera tertawa,
"Tuan Justin, Jika kamu tidak bisa menyerah saja, itu hanya membuang-buang,"
Mendengar itu, Justin jelas semakin terprovokasi,
"Tidak aku bisa melakukan ini kamu diam saja,"
Alice menatap Justin yang terlihat keras kepala itu dengan heran,
"Sudahlah, Justin kamu tidak perlu memaksa, nanti bisa beli mainan untuk Al di toko mainan,"
Mendengar Alice bahkan meremehkannya, membuat Justin menjadi semakin kesal.
"Diam-diam saja! Dan lihat apa yang akan aku lakukan!"
Ukh, dua orang itu malah asik mengejeknya seperti ini benar-benar menyebalkan.
__ADS_1
Justin benar-benar merasa kesal sekarang dan benar-benar mulai fokus pada permainan ini.
Sampai kemudian, putaran ke empat...