Terjerat Pesona Ilmuwan Tampan (Gila)

Terjerat Pesona Ilmuwan Tampan (Gila)
Episode 24: Bersaing


__ADS_3

Justin benar-benar fokus untuk bermain dengan mesin mainan itu mencoba untuk mengambil robot-robotan yang Al inginkan, namun sangat sial bahkan di putaran keempat Justin gagal, dan itu ditertawakan oleh Alice, juga Dokter Kevin sekali lagi.


Al yang menatap Papanya gagal lagi itu, tidak menunjukkan ekspresi kecewa, hanya mencoba menghibur Papanya,


"Sudah, Papa. tidak apa-apa Nanti kita bisa membelinya di toko mainan, seperti yang tadi Mama katakan,"


"Tidak, tidak. Aku akan mencoba mendapatkannya," kata Justin lagi.


Dokter Kevin segera berkata,


"Sudahlah, jangan membuang-buang waktu untuk hal-hal seperti itu jika kamu tidak bisa,"


Justin jelas marah ketika diremehkan seperti ini dirinya tidak pernah diremehkan selama ini.


"Dokter Kevin sepertinya cukup percaya diri, namun apakah Dokter Kevin bisa melakukan permainan ini? Dari tadi sepertinya terus mengejekku,"


Mendengar provokasi itu, Kevin lalu mengeluarkan kartu permainan miliknya dan menggesek ke mesin itu.


"Mari lihat aku akan mencobanya," kata Dokter itu.


"Hah, pasti kamu juga akan gagal," kata Justin dengan percaya diri.


Kevin mengabaikan kata-kata makian itu dan segera menatap ke Al, dan bertanya,


"Mana mainan yang kamu inginkan?"


"Apakah tidak apa-apa Paman Dokter?"


"Tidak apa-apa aku akan melakukannya kamu sebutkan saja mainan apa yang kamu mau,"


"Emm, yang sebelah kanan berwajah biru?"


"Tentu,"


Ya, ini dilakukan oleh seorang profesional, dan benar saja Dokter Kevin benar-benar mendapatkan Mainan yang Al inginkan.


Al yang melihat Kevin memberikan kotak itu padanya jelas merasa sangat.


"Astaga, Dokter Kevin sangat hebat!"


Justin yang melihat bahwa dokter itu malah dipuji putranya segera marah dan berkata,


"Itu jelas bukan apa-apa, hpmh, ini hal mudah, aku akan mencobanya di mesin permainan di sebelah mungkin mesin itu saja yang tidak cocok untuk aku pakai,"


Justin segera mengecek kartunya ke mesin mainan disebelahnya yang berisi berbagai macam boneka, lalu segera bertanya pada Alice,


"Alice, mana boneka yang kamu inginkan?"


Alice yang awalnya hanya diam saja itu dan menatap mereka, jelas menjadi heran ketika dirinya tiba-tiba ditanya oleh Justin.


"Kamu bertanya padaku?"


"Memang menurutmu di sini ada wanita lain yang bisa aku tanya?"


"Sudahlah, lah kamu tidak bisa mengambil bonekanya jadi tidak perlu bertanya,"


"Kenapa kamu sangat menyebalkan, sebutkan saja boneka yang kamu inginkan Kenapa begitu sulit?"


Alice lalu segera menatap ke mesin boneka itu dan langsung memilih boneka secara acak.


"Boneka merah muda di sebelah kiri,"


Justin lalu melihat kearah mesin, dan mulai menggerakkan tangannya, dan berkonsentrasi.


Dan benar saja, itu gagal.


Alice yang menatap kegagalan Justin itu, ingin tertawa namun sekarang aku kasihan ketika melihat wajah kecewa itu.


Al juga melihat Papanya gagal, Al dari tadi memperhatikan ketika Papanya bermain juga ketika Dokter Kevin bermain, tunjukkan memikirkan tentang perbedaannya.


Lalu mulai menatap lagi kearah mesin boneka itu, ke susunan boneka-bonekanya.

__ADS_1


Lalu, Al tiba-tiba memiliki sebuah ide.


"Papa? Biarkan Al mencoba Permainan itu!"


Justin awalnya kesal, namun melihat ekspresi ceria Al, Justin segera merasa kembali senang.


"Tentu saja cobalah permainannya namun jangan kecewa jika kamu gagal,"


Al hanya tersenyum lalu segera menggosok kartun milik Justin ke mesin boneka.


Justin buka melihat ke arah putranya itu yang terlihat sangat fokus sekarang dan sudah mulai menggerakkan mesin itu.


Namun kemudian Justin cukup terkejut dengan gerakan Al.


Ya, Al terlihat tidak mencoba mengambil satu hal apapun!


Hanya mengetakan seolah random pada cakar mesin itu untuk menyentuh beberapa boneka yang tersusun tinggi disana, sampai beberapa boneka dalam mesin bergeser dan terjatuh kedalam kotak!!


Sudutnya pas, dan Al menjatuhkan beberapa boneka ke kotak keluar!


Astaga, Justin tidak pernah memikirkan ide semacam itu.


Dokter Kevin juga cukup terkejut dengan cara Al bermain.


Apalagi Alice, yang tidak mengira putranya memiliki bagus semacam itu.


Benar-benar anak jenius!


Al dengan bangga lalu mengambil tiga boneka di kotak dan memberikannya pada Mamanya.


"Lihat, ini hadiah untuk Mamaku tersayang," kata Al memberikan boneka beruang pada Mamanya itu.


Lalu boneka yang lainnya, Al bagikan pada Justin juga.


Justin jelas senang mendapatkan hadiah dari Al, namun dirinya segera menjadi dasar ketika Al memberikan boneka pada Dokter Kevin juga.


Sial.


Namun Justin jelas sekali tidak bisa mengeluh, hanya bisa memandang kekekalan di dalam hatinya.


Setelahnya mereka segera pergi ke permainan berikutnya.


Kali ini adalah permainan bola basket.


Dan sekali lagi, Justin mencoba menarik perhatian Alice dan Al, karena dirinya cukup hebat dalam bermain basket ketika masih di sekolah menengah.


Setidaknya, dirinya ingin terlihat keren sekarang.


Justin benar melemparkan beberapa bola ke ring.


Sayangnya, Dokter Kevin yang bermain bola basket di sebelah Justin juga tepat dalam memasukkan bola.


Dua orang itu, saling tatap penuh kemarahan satu sama lain, karena sepertinya dua orang itu memiliki rencana yang sama.


Keduanya, lalu segera terlibat permainan adu angka.


Al dan Alice awalnya merasa sangat kagum dengan mereka berdua, bisa memasukkan bola dengan tepat dan mendapatkan nilai sempurna.


Keduanya jelas sangat ahli dalam bermain permainan itu.


Sampai putaran berakhir, dan nilai keduanya sama.


Itu berlanjut sampai ke permainan berikutnya.


Permainan menembak zombie.


Keduanya menjadi asik bersaing satu sama lainnya, ingin terlihat keren.


Al kali ini menatap Mamanya dengan ekspresi heran,


"Mama, kenapa mereka berdua malah terlihat asik bermain semacam itu? Entah mereka ke sini untuk menemani Al bermain?"

__ADS_1


Alice jika menatap kearah dua orang itu yang sekarang bertingkah seperti anak kecil, yang terlihat bersaing satu sama lain.


Terlihat sangat lucu entah bagaimana caranya.


"Memang, mereka berdua benar-benar terlihat sangat lucu, kamu bergabunglah dengan mereka,"


Justin yang dari tadi melawan Dokter Kevin itu, jelass merasa kewalahan.


Dirinya tidak mengira, jika Dokter Kevin itu sangat hebat dalam permainan semacam ini.


Justin yang lelah itu, segera duduk di kursi dekat sana bersama Al.


Kevin masih menemani Al bermain.


Sampai tiba-tiba, Justin merasakan sebotol air dipipinya, itu membuatnya kaget.


"Kamu lelah? Minumlah dulu aku barusan membeli beberapa minum dari mesin minuman, kamu suka kopi hitam bukan? Itu untuk mu,"


Justin jelas merasa kaget ketika Alice tiba-tiba bersikap baik padanya.


Dan lagi, Alice sampai tahu minuman kesukaannya?


Padahal dirinya tidak pernah memberi tahu Alice?


"Dari mana kamu tahu aku suka kopi?"


"Kamu selalu membawa kaleng kopi atau minuman kopi setiap kamu mampir,"


Justin yang mendengar itu segera tersenyum dan berkata,


"Ternyata kamu cukup perhatian juga sampai memperhatikan apa yang Aku bawa,"


Ketika mendengar itu, wajah Alice menjadi memerah karena malu, mencoba mengelak berkata,


"I.. Itu hanya kebetulan saja, apa pula yang memperhatikanmu?"


Melihat Alice mengelak itu terlihat sangat lucu, membuat Justin menjadi gemas, dan mengusap pipi Alice.


"Ternyata kamu bisa bersikap menggemaskan juga,"


Alice yang mendapatkan sentuhan tiba-tiba itu jelas merasa kaget dan mundur.


"Kamu... Apa-apan itu!"


"Alice, kamu tidak perlu malu padaku. Lagipula, kita ini sudah memiliki seorang anak berdua, harusnya hanya beberapa sentuhan tidak masalah,"


"Kamu! Berhenti bicara omong kosong kita berdua bahkan tidak pernah berhubungan semacam itu!"


"Aku hanya bercanda kenapa kamu begitu sarius? Namun ini benar-benar aneh, Aku sendiri ndak mengira tiba-tiba memiliki seorang Putra,"


"Apalagi Aku, aku Sendiri juga kaget ketika tahu tiba-tiba hamil, padahal tidak pernah melakukan hubungan dengan siapapun,"


Justin lalu segera teringat sesuatu yang penting,


"Ah, benar kamu harusnya ikut Donor? Itu hanya bisa untuk wanita yang masih.... Yah... Jadi apakah kamu sampai sekarang belum pernah berhubungan?"


Alice yang tiba-tiba mendengar pertanyaan tidak tahu malu dari Justin itu, segera memukul Justin dengan tasnya.


"Berhenti bicara omong kosong!!"


Justin yang mendengar itu segera tertawa,


"Pfff... Astaga... Ternyata kamu masih sangat polos walaupun sudah memiliki anak,"


"Bagaimana denganmu? Aku dengar sebelumnya jika kamu tidak pernah melakukannya dengan siapapun,"


"Ya, itu benar. Aku sebenarnya orang yang cukup menjaga hal-hal ini, hanya untuk wanita yang akan Aku Nikahi nanti,"


"Aku cukup terkejut bisa mendengar kata-kata semacam itu dari seorang Pria yang mendonor sp*manya sendiri untuk bahan percobaan,"


"Ayolah, hal-hal itu jelas ada di bagian yang berbeda."

__ADS_1


__ADS_2