Terjerat Pesona Ilmuwan Tampan (Gila)

Terjerat Pesona Ilmuwan Tampan (Gila)
Episode 11: Keluarga Kecil


__ADS_3

Al yang tiba-tiba ditanya dan dituduh oleh Mamanya itu, segera menjadi terdiam dan sedikit gemetar.


Justin juga melihat tentang bagaimana Al di marahi oleh Mamanya itu, dan ketika melihat ekspresi wajah kecil itu menjadi pucat, perasan Justin menjadi tidak nyaman.


"Alice, Kenapa kamu itu malah memarahi anak kecil? Kamu ini, benar-benar, walaupun kamu membenciku kamu tidak boleh memarahinya seperti itu,"


Alice lalu segera kembali menatap ke arah Justin dengan ekspresi marah,


"Ya, aku mungkin salah karena memarahi Al, namun ini semua jelas salahmu yang mencoba membuat Al sampai berbohong seperti ini, kamu itu apa apaan sih benar-benar menyebalkan,"


Justin lalu hanya menghela nafas dan berkata,


"Bukankah itu karena kamu yang kelas kepala? Jika Al bilang dia ingin pergi Ke Taman hiburan tidak hanya denganmu namun juga denganku apakah kamu akan mengijinkan nya?"


Alice lalu segera menjawab dengan yakin,


"Tentu saja tidak, aku juga sudah bilang padamu sebelumnya kamu tidak perlu mencoba mendekati kami, tidak tahu apa maksud mu namun, aku tidak suka dengan caramu,"


Al taco arah dua orang itu yang sekarang malah bertengkar dan berdebat, tiba-tiba rasa bersalah karena sebenarnya semua ide ini adalah miliknya.


Dirinya mengira jika rencananya akan berjalan dengan lancar, dan keduanya bisa semakin dekat satu sama lain juga, namun ternyata belum apa-apa mereka berdua sudah bertengkar seperti itu.


Al yang merasa tidak tahan itu akhirnya segera angkat bicara,


"Ini Al yang memiliki ide itu, untuk pergi taman hiburan ini bersama dengan Papa ataupun Mama, semuanya adalah keinginanku dan rencanaku. Papa tidak pernah memiliki ide semacam itu, akulah yang berinisiatif untuk berbohong, jika Mama ingin marah, marahlah padaku jangan marah pada Papa Al,"


Alice tentu saja terkejut mendengar perkataan dari putranya itu, yang saat ini memiliki wajah yang terlihat sedih seolah ingin menangis namun juga menahan agar air matanya tidak keluar.


Alice jujur saja tidak tahu harus merespon apa, lalu hanya memeluk putranya itu dan berkata dengan pelan,


"Lalu kenapa kamu bisa memiliki ide itu?"


Al lalu akhirnya mulai berkata dengan jujur,


"Itu karena Al gak ingin seperti anak-anak lain bisa pergi ke taman hiburan bersama dengan kedua orang tuanya, Al ingin bisa bertemu Papa, pergi bersama-sama seperti ini dengan Mama juga, namun Mama sepertinya tidak akan menyukai ide ini,"


Alice bisa merasakan nada kesedihan dan kekecewaan dibalik kata-kata putranya itu.


Setelah pikir sejenak akhirnya, Alice mulai membuat keputusan,


"Baiklah mulai sekarang dika kamu memang ingin kita bertiga pergi bersama-sama kamu langsung bisa mengatakannya pada Mama, kamu tidak perlu berbohong lagi, Mama tidak akan melarang lagi kamu bertemu dengan Papamu,"


Alice merasa jika keputusannya ini mungkin adalah yang terbaik, Al saat ini masih kecil baru berusia 5 tahun, wajar untuk anak-anak sekecil ini ingin diperhatikan dan mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya.


Ya, dari Papanya juga.


Alice diam-diam menatap ke arah Pria yang ada di depannya itu yang sekarang terlihat menunjukkan senyum kepuasan.


Alice masih tidak tahu apa maksud dari pria itu namun dirinya jelas akan mengawasi nya lebih lanjut.


Untuk saat ini dan nanti ikuti dulu keinginan Putranya, asalkan dirinya mengawasi mereka berdua dirinya yakin tidak akan ada hal buruk yang akan terjadi.


Akhirnya mereka berdua mulai mengantri tiket, masuk ke dalam taman hiburan itu.

__ADS_1


Namun begitu mereka bertiga masuk, mereka disambut dengan kejutan kecil,


"Selamat, kalian bertiga adalah pengunjung ke 222 hari ini, jadi sebagai sebuah perayaan di hari pembukaan Taman Hiburan ini, kami memberikan hadiah berupa foto keluarga untuk kalian bertiga, kalian bisa memilih lokasi jang kalian mau di sekitar sini,"


Al paling begitu bersemangat ketika mendengar kata-kata dari salah satu petugas itu.


"Sebuah foto?"


"Itu benar, kalian bisa mengambil foto sesuka kalian,"


Al lalu segera menatap ke arah Mamanya dengan penuh semangat,


"Mama, mari kita berfoto bertiga,"


Alice sejujurnya terlalu malas untuk berfoto dengan Justin, namun karena dirinya tadi sudah bertekad agar menyenangkan Al, akhirnya Alice mau ikut berfoto bersama.


"Baiklah baiklah mari kita bertiga berfoto,"


Justin tak berkata banyak hanya mengikuti ke arah mereka berdua.


Ketiganya saat ini sudah memilih lokasi foto yang bagus.


Sang Fotografer, lalu mulai mengarahkan mereka bertiga,


"Itu untuk Tuan dan Nyonya, jangan jauh-jauh seperti itu, dan mencoba dekat lagi,"


Itu benar, saat ini jarak antara Justin dan Alice cukup jauh hingga hampir setengah meter.


Alice dengan malas segera berjalan ke samping berjalan lebih dekat kearah Justin, sampai bahu mereka saling bersentuhan.


Justin sebenarnya tidak menyukai acara seperti berfoto seperti ini karena sangat membosankan, di untuk mempercepat hal ini Justin segera merangkul mesra kearah bahu Alice.


Menerima sebuah rangkulan tiba-tiba, jelas di Alice menjadi cukup kaget.


Jantungnya tiba-tiba berdetak sedikit lebih kencang karena merasa cukup malu bagaimanapun juga ini adalah pertama kalinya dirinya berada dalam jarak sedekat ini dengan seorang pria.


Alice diam-diam menatap kearah pria yang ada di sampingnya yang saat ini memiliki ekspresi yang cukup dingin.


"Tuan dan Nyonya bagaimana jika kalian tersenyum sedikit? Sekalian sudah cukup bagus, Tuan bisa merangkul nyonya dengan lebih erat lagi, posisi si kecil juga sudah pas ada di tengah-tengah,"


Justin segera merangkul Alice lebih erat, membuat Alice menjadi semakin tidak nyaman, jadi Alice mencubit tangan Justin.


Justin cara menunjukkan ekspresi buruk ketika Alice tiba-tiba mencukupi tangannya itu, sayangnya saat itu kebetulan sang fotografer sudah mengambil foto.


"Setelah berikutnya,"


Ketika Fotografer mulai berhitung memberikan aba-aba, Justin yang merasa kesal itu segera mencubit pipi Alice, membuat Alice menunjukkan ekspresi yang buruk.


Sepanjang foto, ketawa orang itu saling menjahili satu sama lain seolah-olah tidak ingin kalah.


Sang Fotografer masak gak adegan alami seperti itu juga cukup bagus untuk diambil foto dan segera mengambil beberapa bidikan foto yang bagus.


Dan ketika sesi foto itu akhirnya selesai, baik Alice dan Justin akhirnya merasa lega dan segera menjauh satu sama lain.

__ADS_1


Al begitu semangat langsung segera bertanya hasil fotonya kepada sang fotografer.


Foto itu langsung dicetak begitu di jepret, hasil gambar itu segera diberikan kepada Al.


Al menatap kearah foto-foto itu dengan antusias.


Lalu, dibeberapa foto Al sedikit tertawa karena ada pose Alice dan Justin yang terlihat sangat lucu.


Justin lalu segera melihat juga ke arah hasil foto karena penasaran.


Tepat kesalahan satu foto, dimana Justin mencubit pipi Alice, dan Alice menunjukkan ekspresi wajah yang buruk yang terlihat jelek, membuat Justin tertawa.


"Aku mungkin akan mengambil hasil dari foto ini, apakah tidak apa-apa Al?"


Alice yang melihat ekpersi jeleknya itu, jelas merasa tidak senang,


"Jangan! Apa-apaan kamu mengambil foto ini?"


"Astaga, ekpersi mu..."


Alice yang ditertawakan oleh pria yang di depannya itu segera merasa kesal, lalu mulai melihat hasil foto lain.


Dan segera tertawa, ada foto dimana Justin menunjukkan ekspresi yang begitu aneh, apakah itu ketika tangannya dicubit?


Justin yang awalnya tertawa itu jelas segera menunjukkan ekspresi cemberut berniat mencoba mengambil hasil foto itu dari Alice.


"Hey, berikan hasil foto itu!"


"Tidak, tidak... Ini jelas mahakarya yang sangat bagus, sangat susah memiliki foto Justin Crownely yang memiliki ekspresi jelek seperti ini, astaga aku harus menyimpan foto ini di dompet untuk mengembalikan mood jika aku memilikimu buruk, sungguh ini sangat lucu,"


"Berhenti tertawa!"


Al melihat bagaimana kedua orang itu tertawa lepas seperti itu, menjadi sangat senang.


Setidaknya, walaupun awalnya kedua orang itu terlihat saling marah satu sama lain namun sepertinya sekarang sudah baik-baik saja.


Al hanya bisa berharap liburan kali ini, akan membawa kabar yang baik dan bisa mendekatkan mereka berdua.


Rasanya sangat menyenangkan bisa pergi bertiga seperti ini, seolah Al merasakan memiliki sebuah keluarga kecil yang lengkap, berisi Papa, Mama dan dirinya.


"Kalau begitu, Al akan mengambil foto ini,"


Kedua orang itu yang awalnya saling tertawa mengejek, segera melihat ke arah foto yang Al ambil.


Sejujurnya, itu adalah foto yang paling baik, dengan pose paling pas.


Foto, Keluarga berisi tiga orang, di mana semuanya bahagia dan tertawa senang.


Justin sendiri melihat foto itu, merasa cukup terkejut, dirinya bisa memiliki ekspresi sehangat itu?


Rasanya, seperti dirinya benar dengan memiliki sebuah keluarga.


Ini adalah perasaan yang baru untuk Justin.

__ADS_1


Membuat, Justin merasa aneh sendiri.


__ADS_2