Terjerat Pesona Ilmuwan Tampan (Gila)

Terjerat Pesona Ilmuwan Tampan (Gila)
Episode 22: Kesempatan


__ADS_3

Al juga mendengar tentang bagaimana Justin terlihat khawatir padanya.


Jadi, Al segera berkata pada Papanya itu,


"Al tidak sakit apa-apa, Papa. Hanya saja Mama itu, tidak jelas menyeluruh Al periksa dan di suntik, Al paling tidak suka disuntik,"


Justin yang mendengar kata-kata Al itu akhirnya merasa cukup lega lalu segera memeluk Al.


"Hah, kamu itu hampir saja membuatku khawatir. Untungnya kamu tidak apa-apa, namun lebih baik jika kamu menuruti apa kata Mamamu,"


"Tapi, Papa ... Al tidak ingin di suntik, itu sakit,"


Justin segera melepas pelukannya dan menatap Al, dan berkata,


"Tapi, Al kamu itu anak laki-laki, anak laki-laki tidak boleh takut dengan jarum suntik,"


"Tapi di suntik sangat menyakitkan! Pokoknya Al tidak mau!"


Justin juga melihat sikap Al yang keras kepala itu, lalu segera menatap ke arah Alice, dan segera berkata,


"Alice, sudahlah, Al tidak mau untuk periksa kamu jangan memaksanya,"


"Tapi.... Aku hanya ingin tahu kondisi Putraku," kata Alice pada Justin, lalu segera menatap lagi ke arah Al, mencoba untuk membujuknya.


"Al, ayolah ini Dokter Kevin yang akan melakukan pemeriksaan padamu jadi ini baik-baik saja,"


"Al tetap tidak mau!" Kata Al melihat sangat keras kepala.


Justin ketika mendengar nama Dokter Kevin jelas menjadi marah.


Justin lalu segera berkata,


"Hah, kamu itu aneh, padahal kamu tidak boleh membiarkan Aku memeriksa anak ini, namun sekarang kamu tiba-tiba ingin ke Rumah Sakit dan memeriksakan Al? Dan lagi, Dokter Kevin itu? Apakah kamu begitu percayanya pada Dokter itu?"


Alice yang mendengar itu segera marah dan berkata,


"Jelas Aku sangat percaya pada Dokter Kevin dan Aku tidak memiliki kepercayaan padamu! Entah apa yang akan coba kamu lakukan pada Al!"


"Sungguh, Aku benar-benar tidak memiliki niat buruk kamu itu tidak masuk akal!"


"Kamu itu yang tidak masuk akal!"


Al melihat bagaimana kedua orang itu lagi-lagi bertengkar.


"Papa, Mama jangan bertengkar seperti itu," kata Al lalu mengambil tangan Justin dan Alice, kemudian menyatukan tangan mereka.


"Al ingin, kita bertiga bisa bersama-sama, sama seperti teman-temanku lainnya yang memiliki keluarga lengkap, ada Ayah dan Ibunya, Al juga ingin setidaknya kalian tidak bertengkar di depanku,"

__ADS_1


Dua orang itu selalu segera saling pandang, kelas saja keduanya menjadi bingung dengan permintaan Al.


Dan ketika tangan mereka bersentuhanan, Alice merasa perasaannya menjadi aneh yang di dirinya segera menarik tangannya.


Namun Alice segera menahan Al yang saat ini terlihat memiliki ekpresi sedih.


Hah, memang dirinya tahu dirinya tidak bisa mempercayai Justin.


Namun mau bagaimana lagi?


Al sepertinya sangat ingin bisa melihat Papanya.


Baiklah, selamat dirinya benar-benar mengawasi mereka berdua dengan ketat, setidaknya Justin tidak akan bisa berbuat macam-macam.


"Hah, demi Al kali ini aku memberimu kesempatan lagi jadi jangan kamu mengecewakan ku lagi, kamu boleh untuk bertemu dengan Al,"


Justin yang mendengar kata-kata Alice entah kenapa menjadi sangat senang, dan secara refleks memeluk Alice dan Al yang ada di hadapannya.


Itu benar, Justin yang selama beberapa hari ini tidak melihat dua orang itu, moodnya menjadi sangat buruk, terutama setelah hari itu di mana dirinya melihat Alice dan Al sangat akrab dengan Dokter Kevin itu.


Hati kecilnya sangat marah ketika mereka berdua bersama orang lain dan tertawa seperti itu seolah keluarga bahagia.


Perasaan yang menurut Justin cukup tidak masuk akal.


Ya, dirinya cukup kurindukan mereka berdua.


Astaga...


Apa-apaan sih Justin ini?


Apakah orang ini sekarang mencari kesempatan dalam kesempitan?


Benar-benar menyebalkan!


Namun kenapa dirinya seolah tidak ingin lepas dari pelukan ini?


Al yang berada dalam pelukan mereka berdua itu, jelas aja merasa sangat senang dan menikmati kehangatan kecil itu.


Dengar rasanya sangat menyenangkan bisa bersama dengan kedua orang tuanya.


Namun tanpa mereka berdua sadari dari dalam mobil seseorang menatap mereka.


Ya itu adalah Lisa, Asisten Justin.


Jelas sekali di wajah cantik itu, ekpresi kemarahan yang jelas.


'Dasar wanita murahan, dia pasti memanfaatkan Putranya untuk mencoba mendekati Tuan Muda Justin, hal-hal ini jelas tidak bisa dibiarkan!'

__ADS_1


Itulah yang Lisa pikirkan saat ini, ya Lisa memang sudah memendam perasaan pada atasannya itu.


Namun sayangnya, Justin terlihat tidak tertarik memiliki hubungan dengan wanita manapun sejauh ini karena fokusnya hanya pada penelitian miliknya.


Lisa sudah bertekad akan mencoba mendapatkan Justin entah bagaimana caranya, mungkin dengan mencoba membantu Penelitiannya?


Lisa lalu menatap kearah anak yang mirip Justin itu, sepertinya dirinya akan mencoba membawa anak itu secepatnya ke Laboratorium.


Disisi lainnya, pelukan antara ketigaa orang itu tidak berlangsung lama karena Justin, latifa merasa malu dengan tindakan Implusitnya yang memeluk Alice.


"Ah, benar aku sebenarnya ada acara di Rumah Sakit ini, ini tidak akan berlangsung lama mungkin hanya 10 menit, jadi bagaimanakah kalian menunggu di Restoran depan? Nanti, Aku akan menyusul kalian, mari kita akan jalan-jalan setelahnya,"


Terlihat Al sangat senang ketika mendengar itu.


"Tentu saja!"


Dan akhirnya, Justin segera masuk ke dalam mobil, segera berkata pada asistennya itu,


"Lisa, tolong batalkan semua jadwalku siang yang ini,"


Lisa yang mendengar itu segera menjadi heran dan berkata,


"Tapi kenapa? Bukankah janji-janji itu cukup penting?"


"Pokoknya, batalkan saja aku punya urusan lebih penting,"


Lisa lalu mulai merebak apa itu,


"Apakah untuk bertemu dengan dua orang tadi?"


"Ya, aku akan menghabiskan waktu dengan mereka berdua,"


"Saya tahu, honda menghabiskan waktu dengan mereka untuk mendekati mereka agar bisa membawa Al melakukan pemeriksaan di Laboratorium kami, namun tidakkah terlalu berlebihan mendekatinya seperti itu?"


Justin itu jelas segera menunjukkan ekspresi tidak senang dan berkata,


"Diam, ini tidak ada hubungannya dengan pergi ke laboratorium, aku hanya ingin dekat dengan mereka. Pokoknya kamu lakukan saja perintah ku batalkan semuanya,"


"Tapi..."


"Lisa, lakukan saja apa yang aku mau,"


Mendengar perintah itu, Lisa jelas hanya merasa kesal dan menyimpan kemarahan di dalam hatinya.


Sial!


Gara-gara wanita sialan itu!

__ADS_1


Sebenarnya apa yang telah wanita sialan itu lakukan sampai membuat atasannya menjadi seperti ini?


__ADS_2