
Setelahnya tidak banyak yang terjadi, hanya saja saat ditengah-tengah berbelanja, Dokter Kevin mendapatkan telepon dari rumah sakit jadi dirinya harus segera pergi kesana, karena ada seorang pasien yang harus ditangani.
"Maaf ya, aku tidak bisa menemani kalian aku harus segera pergi untuk menangani pasien," kata Kevin jelas merasa sedikit kecewa karena harus pergi terutama karena dirinya membiarkan Alice dan Al bersama dengan Justin yang menyebalkan.
"Tidak apa-apa Dokter, aku tahu jika dokter sibuk," kata Alice terlihat cukup pengertian dengan pria itu
Justin yang mendengar kabar itu jelas merasa senang situ artinya sekarang waktu untuk hanya mereka bertiga untuk bersenang-senang.
"Benar, Dokter Kevin nah segera ke rumah sakit dan menangani pasien tidak baik begitu lama di sini sebagai dokter anda harus mengerti jika keselamatan pasien adalah prioritas utama," kata Justin yang sangat jelas memujukan kebahagiaannya.
Jadi, dengan terpaksa Kevin segera pergi dari situ.
Dan sekarang tinggal ada mereka bertiga.
Justin lalu mulai memikirkan tentang apa yang sekarang akan mereka lakukan?
Karena ini kebetulan hanya 3 orang benar-benar saat yang pas untuk membuat beberapa memory indah.
"Papa, Mama bagaimana jika kita pergi ke lantai atas? Aku lihat tadi di lantai atas sepertinya ada acara yang cukup menarik," kata Al tiba-tiba.
Justin yang mendengar itu jelas merasa itu adalah ide yang bagus.
"Ya, mari kita kesana," kata Justin, lalu mulai menatap ke arah Alice yang sepertinya tidak keberatan dengan hal itu.
Jadi mereka berdua segera menuju ke arah lift yang menuju lantai paling atas.
Awalnya, tidak ada yang aneh ketika mereka bertiga memasuki lift.
Sampai satu demi satu orang sudah keluar dari lift, dan sekarang hanya ada mereka bertiga.
Tepat ketika mereka sepertinya hampir sampai di lantai paling atas, lampu di lift tiba-tiba mati.
Alice sebenarnya cukup takut dengan kegelapan jadi dengan tiba-tiba mati lampu seperti itu membuatnya panik.
Alice segera memeluk seseorang yang ada didepannya.
Ya, siapalagi jika itu bukan Justin?
Alice yang takut itu memeluk Justin dengan begitu erat.
__ADS_1
Justin cukup terkejut dengan pelukan tiba-tiba itu.
Lalu segera memeluk Alice kembali, dan berkata,
"Tidak apa-apa sepertinya ini hanya lampunya yang bermasalah, lihat lift ini masih berjalan seperti biasa sampai di lantai atas. Al? Bagaimana denganmu apakah kamu takut juga?"
Al yang ada dalam kegelapan itu, hanya memegang baju Justin sedikit, terlihat tidak menunjukkan begitu banyak rasa takut.
"Al tidak apa-apa, Al gak takut dengan gelap lagipula ada Papa dan Mama di sini jadi tidak perlu ada yang dikhawatirkan,"
Alice akhirnya tersadar dari kepanikan nya itu setelah mendengar kata-kata itu.
Rasanya cukup canggung, dengan hal yang dirinya lakukan, saya bisanya dirinya memeluk seorang pria seperti ini.
Harunya memeluk putranya tadi.
Hal-hal ini terlalu memalukan.
Namun Alice coba tidak mengerti kenapa dirinya tidak segera melepaskan pelukan ini.
Itu karena pelukan itu, terlalu nyaman dan hangat.
Bergandengan tangan?
Hanya sebatas itu pengalaman Alice, dirinya tidak pernah berpelukan dengan laki-laki.
Jadi, berpelukan seperti ini dengan Justin merupakan hal yang sangat baru baginya.
Aroma maskulin dan wangi dari Justin, membuat Alice cukup betah dengan pelukan ini.
Apalagi, cara Justin yang mengurusi rambutnya sekolah mencoba menenangkan dirinya.
Ya, dirinya memang takut gelap, dan pelukan ini begitu nyaman, sangat nyaman ketika memiliki seseorang yang memeluknya seperti itu.
Sekarang Alice cukup mengerti kenapa teman-temannya selalu sangat senang ketika memiliki Kekasih atau Suami.
Memang, ada susu orang disiksa diandalkan seperti itu jelas merupakan hal yang baik.
Dan yang paling penting, dipeluk seperti ini terasa sangat nyaman.
__ADS_1
Sayangnya, hal itu tidak berlangsung lama karena pintu nggak segera terbuka ketika mereka berdua sampai di lantai paling atas.
Sekarang, Alice yang bisa menatap wajah Justin karena bahaya yang masuk dari luar segera merasa malu.
Dan langsung melepaskan pelukannya dengan canggung.
Justin wajah malu-malu itupun, menurutnya terlihat sangat manis.
"Semuanya sudah baik-baik saja mari kita keluarkan melaporkan kejadian tidak nyaman ini pada petugas,"
Alice yang mendengar itu hanya mengangguk dengan malu-malu mulai mengandeng tangan Al, dan mengikuti Justin keluar dari sana.
Sekarang, ketika Alice menatap Pria itu, jantung Alice merasa sangat berdebar-debar.
Hanya dengan pelukan kecil kenapa hatinya menjadi seperti ini?
Apakah ini karena dirinya memang merindukan sosok Pria?
Memang, dirinya tidak menjalin hubungan dengan siapapun sampai sejauh ini.
Bukannya dirinya tidak mau menjalin hubungan, namun dirinya cukup ragu, apakah akan ada seorang pria yang mau menerimanya.
Namun yang paling penting, Alice sangat takut soal masa depan Al, jika Al memiliki Ayah Tiri, apakah nanti Al akan senang?
Ada banyak pertimbangan ketika memikirkan soal sebuah hubungan.
Namun, ketika Alice diam-diam menatap ke arah Justin, rasanya hal-hal terasa lebih mudah.
Ya, itu karena Justin Ayah Biologis dari Al.
Jika itu Justin mungkin....
"Mama? Kenapa Mama dian saja ayo segera pergi mengikuti Papa?"
Suara kucil itu segera membiarkan lamunan Alice.
Pikiran bodoh yang baru saja terpikirkan itu segera dibuang jauh-jauh.
Itu benar, dirinya tidak boleh sampai terbawa perasaan pada pesona bodoh dari Ilmuwan gila itu, open memiliki wajah yang tampan tapi dia yang melakukan percobaan aneh-aneh seperti membuat anak jenius, jelas bukan orang yang normal, Ilmuwan gila.
__ADS_1