
Alice dan Justin, segera tertawa bersama setelah perdebatan aneh yang mereka bicarakan.
Ya, dari sini ketika Justin melihat Alice tertawa seperti ini, membuat jantungnya sedikit berdebar, senyuman dan tawa dari wanita itu benar-benar cukup untuk memikat hati, ya Alice jika tersenyum dan tertawa seperti itu terlihat sangat cantik.
Berbeda ketika wanita itu marah yang benar-benar menyebalkan.
Alice tentu saja segera menghentikan tawanya itu dengan canggung karena merasa pria yang ada di hadapannya itu dari tadi menatap ke arahnya.
Ya, Alice yang dari tadi ditatap oleh Justin merasa salah tingkah sendiri, tatapan mata Justin, yang hanya menatap kearahnya dan dari pantulan bola matanya, hanya ada dirinya.
Situasi yang benar-benar membuat dirinya berdebar.
Siapa wanita di dunia ini, yang tidak akan merasa berdebar jika ditatap oleh seorang pria seperti Justin yang sangat tampan ini?
Pesona yang benar-benar mematikan dan tidak bisa dirinya tahan.
Semakin kesini, Alice sedikit sadar bahwa Justin memang masih sangat perhatian pada Al, seperti barusan yang berusaha keras untuk mendapatkan robot mainan untuk Al, atau ketika Justin panik ketika tahu Al akan ke Rumah Sakit.
Hal-hal itu memang terlihat sangat kecil namun jelas menunjukkan kepedulian dan ketulusan tertentu.
Namun, Alice juga ingat, bagaimana Justin berniat menjadikan Putranya bahan Percobaan itu.
Ketika mengingat hal-hal soal penelitian, rasa benci di hati Alice muncul, dirinya jelas masih cukup takut dengan pria yang ada di hadapannya ini karena dirinya sekarang benar-benar merasa terlalu terpesona oleh Pria itu, dengan semua tindakan kecilnya dan senyumannya itu.
Alice segera memalingkan wajahnya dan kembali menatap ke arah Al yang sepertinya sudah selesai dengan permainannya itu.
"Hah, Al lelah Ma," keluh anak itu, lalu segera memeluk Mamanya.
Alice keluhan dari putranya itu segera memberikan air minum lain kepada putranya.
Al meminum jus jeruk itu dengan senang hati.
Kemudian, tidak lama Dokter Kevin bergabung dengan mereka untuk duduk dan istirahat.
Dan jelas saja, Alice memberikan air minum juga pada Kevin, hal ini jelas membuat Justin merasa tidak senang sama sekali.
Membuat Justin, merasa jika perlakuan Alice padanya, tidak spesial, dan Alice masih memperlakukan dirinya seperti orang luar.
Ketika memikirkan hal ini, Justin juga merasa jadi bingung, kenapa dirinya memiliki perasaan rumit seperti ini?
Tidak suka tentang Alice memperlakukan dirinya sama seperti orang lain?
Dirinya yang ingin diperlakukan spesial oleh wanita itu.
__ADS_1
Namun jika dipikirkan lagi apa haknya untuk bisa mendapatkan perlakuan spesial itu?
Dirinya dan Alice tidak memiliki hubungan apapun.
Jika dipikirkan lagi hubungan mereka berdua memang cukup aneh.
Mereka adalah orang tua Al, namun tidak benar-benar orang Tua Al.
"Papa, Papa... Mari temani Al untuk menukarkan hadiah ke konter,"
Mendengar kata-kata itu, Justin segera tersadar pada lamunan nya.
"Tentu saja, mari kita segera ke sana,"
Sebenarnya, ada rasa tidak nyaman ketika meninggalkan Kevin dan Alice berdua saja.
Namun, Justin tidak memiliki pilihan lain.
Harusnya fokusnya adalah pada anak ini, bukan pada Ibu anak ini.
Semakin memikirkan hal ini semakin membuatnya pusing.
Al diam-diam menatap ke arah Justin, yang saat ini memiliki wajah yang kecewa, apalagi ketika Justin menatap kearah belakang di mana ada Dokter Kevin dan Mamanya.
Tidaknya dirinya mempelajari ini agar bisa mendekatkan Mama dan Papanya.
"Papa, apakah Papa cemburu melihat Mama dan Paman Dokter?"
Pentanyaan itu, segera membuat Justin cukup terkejut.
"Cemburu? Apa yang kamu katakan, Al? Papa tidak cemburu sama sekali, dan lagi kenapa kamu bisa berpikir seperti itu?"
"Al sudah memperhatikan dari tadi cara Papa yang tidak senang ketika melihat mereka berdua dekat, benar-benar tertulis di wajah Papa jika Papa tidak senang, bukankan itu artinya Papa cemburu? Jika Papa cemburu, itu artinya Papa menyukai Mama?"
Itu adalah kesimpulan dari seorang anak yang polos.
Namun, ketika Justin memikirkan ini dirinya juga sedikit bingung.
Ya, apakah dirinya benar-benar cemburu?
Untuk apa dirinya cemburu?
Apakah ada sebuah alasan yang layak untuk dirinya cemburu?
__ADS_1
Dirinya menyukai Alice?
Wanita aneh itu?
Ini jelas tidak memungkinkan?
Tapi jika membayangkan Alice sama dengan orang lain seperti itu memang membuatnya tidak nyaman.
Ini adalah sesuatu yang tidak pernah dirinya dapatkan.
Perasaan yang cukup aneh...
Apa ini cinta?
Dalam hidupnya, dirinya hanya fokus tentang hal-hal di laboratorium hal-hal soal belajar dan semua penelitian miliknya tidak pernah memiliki waktu untuk memikirkan apa itu cinta.
Cinta adalah sesuatu yang tidak pernah dirinya perhitungankan saat ini.
"Papa? Papa menyukai Mama?"
Justin mendengar suara itu segera keluar dari lamunannya dan berkata,
"Entahlah, Aku juga tidak mengerti hanya sedikit merasa kesal ketika mereka berdua dekat, dan lagi kenapa kamu begitu dekat dengan Dokter Kevin itu? Papa juga benar-benar cemburu melihat Putra Papa satu-satunya, bersama orang lain seperti itu, kamu benar-benar terlihat sangat akrab dan bahkan lebih akrab dengannya daripada denganku,"
Al yang mendengar keluhan dari Papanya itu segera tertawa dan berkata,
"Apa? Papa tidak perlu khwatir, di hatiku hanya ada Papa satu-satunya, Paman Dokter Kevin memang sangat baik namun dia tidak akan pernah bisa menggantikan posisi Papa dihatiku, dan Papa tenang saja, Paman Dokter dan Mama juga tidak memiliki hubungan apapun. Mamaku dan Aku adalah milik Papa, dan Papa adalah milik kami,"
Kata-kata itu, terlihat begitu sederhana namun itu cukup menyentuh hati Justin.
Justin lalu segera memeluk anak itu karena merasa sangat senang.
Ya, pada akhirnya Al hanyalah seorang anak kecil yang juga memiliki perasaan.
Hah...
Tidak bagus jika dirinya membawa anak ini terlibat dalam sebuah penelitian.
Rasanya tidak etis, anak ini juga memiliki kehidupan bebasnya...
Namun bagaimana sekarang?
Hal-hal ini, membuat Justin merasa sangat ragu.
__ADS_1