Terjerat Pesona Ilmuwan Tampan (Gila)

Terjerat Pesona Ilmuwan Tampan (Gila)
Episode 6: Pergi Kamu!


__ADS_3

Alice tentu saja merasa sangat kaget ketika dirinya bertemu dengan Justin, si Ilmuwan yang menurutnya gila itu, yang merupakan salah satu penanggung jawab utama dari Proyek percobaan rekayasa genetik itu.


Alice lalu menata Bagaimana putranya ada di gendongan, Pria itu, menjadi marah dan segera berkata,


"Apa yang Coba kalian lakukan kepada Putraku!! Al! Menjauh dari pria itu!"


Justin juga mendengar kata-kata kemarahan dari wanita itu, Yang sepertinya cukup gugup ketika bertemu dengan dirinya.


Jangan bilang, wanita ini juga tahu soal Percobaan itu?


Sebenarnya itu cukup wajar jika dia tahu, sebelumnya dia kan ikut terlibat donor juga, harusnya beberapa petugas lab sudah menjelaskan sebagian rencana penelitian secara garis besar, dan mungkin setelah gadis itu tahu hamil, dia juga pasti menjadi takut terlibat, itulah kenapa dia langsung melarikan diri.


Lihat ekspresi kepanikan, kecemasan dan ketakutan yang ada di wajah wanita yang ada di depannya itu!


Terlihat sekali jika wanita yang ada di depannya itu, sedang menyembunyikan sesuatu!


Justin lalu segera membawa bocah kecil itu ke dalam pelukannya dan berkata dengan penuh keyakinanan,


"Aku hanya ingin melihat Putraku ini! Jadi apa yang salah?"


Alice yang mendengar kata-kata tidak masuk akal dari pria yang ada di hadapannya itu lalu segera berkata lagi,


"Dia... Dia bukan Putramu! Dia adalah Putraku!"


"Apa? Mau bagaimanapun kamu melihat anak ini, Dia sangat mirip denganku, Apakah kamu tidak melihatnya! Bahkan orang lain yang melihat akan langsung percaya jika anak ini adalah Putraku kenapa kamu malah berkata tidak masuk akal?" Kata Justin lagi, dengan yakin.


"Itu hanya kebetulan saja mirip dengan mu! Dia benar benar tidak ada hubungannya dengan mu!"


"Jangan bohong kamu! Dia ini jelas adalah Putraku! kamu yang membawa dia dulu kabur dan pergi melarikan diri dari ku!"


"Jangan bicara Omong kosong, seolah-olah aku adalah penculik! Aku yang mengandungnya selama sembilan bulan, dan melahirkan dia, Aku adalah Ibunya!"


"Ya! Namun secara genetika kamu tidak memiliki hubungan DNA dengan anak ini!"


"Ja... Jangan bicara omong kosong! Al adalah putra ku!"


"Tidak! Anak ini milikku!" Kata Justin lagi, dengan nada keras kepala, terlihat begitu yakin soal anak yang ada digendongannya itu miliknya.


Alice yang mendengar itu jelas langsung menjadi marah, lalu mencoba menarik Al dari gendongan Justin, tentu saja Justin tidak membiarkan hal itu begitu saja dan kembali menarik, bocah kecil itu.


Dua orang itu juga mulai berdebat panjang.


Al yang menjadi bahan rebutan dari dua orang itu jelas aja menjadi bingung.


"Mama... Papa... Jangan seperti ini mari bicarakan baik-baik, Al tahu, kalian mungkin memiliki beberapa masalah, jadi tenang dulu oke?"


Ya, dari semua orang di situ hanya Al yang terlihat memiliki ekspresi begitu tenang dan santai.

__ADS_1


Berbeda dengan anak-anak kecil, yang biasanya akan menangis jika dihadapkan dengan situasi semacam itu.


"Kamu dengar? Lepaskan Putraku!"


Justin juga melihat bahwa berebut seperti ini tidak menyelesaikan masalah, jadi Justin lalu menurunkan Al dari gendongannya dan berkata dengan lembut pada anak itu,


"Namamu tadi Aleyster bukan? Al, dengarkan Aku, kamu adalah Putra Kandungku, Aku dan Mamamu, bimbang memiliki beberapa masalah orang dewasa, namun kamu harus yakin bahwa aku adalah, Papamu, oke?"


Alice juga melihat tentang bagaimana pria itu mulai membujuk putranya, dan merayu nya dengan kata-kata manis.


Alice jelas merasa jika pria itu begitu lirik sampai-sampai membohongi seorang anak kecil.


Alice sendiri tidak mengerti apa maksud dari pria itu sampai-sampai mengaku bahwa Al adalah Putranya.


Jangan bilang dia ingin membawa Al pergi?


Jelas Ini tidak bisa dibiarkan.


Alice lalu segera menarik Al kedalam pelukannya.


"Al, kamu jangan dengarkan dia,"


Lalu, Al yang tidak begitu mengerti soal pertengkaran mereka segera bertanya,


"Mama? Apakah dia Papaku atau bukan?"


Mendengar pertanyaan polos dari Putranya itu, Alice sejujurnya cukup bingung harus menjawab apa.


"Ya, dia adalah Papamu, namun seperti yang kamu tahu mama dan papa mu saat ini memiliki beberapa masalah, jadi mari sebanyak kita pergi saja,"


"Tapi Ma... Aku mau bertemu Papa,"


Alice lalu mulai menatap Pria itu,


"Ku tidak tahu apa maksudmu, namun aku jelas tidak akan memaafkanmu kalau sampai kamu membawa pergi Putraku!"


Justin awalnya ingin bersikap agresif, namun segera dihentikan oleh temannya, agar Justin tidak berbuat nekad karena kehilangan akal sehatnya.


Ya, Justin game merasa memang tidak ada hal yang baik jika membawa anak ini secara paksa.


Bagaimanapun juga, wanita itu yang merawat anak itu selama ini, dan anak itu, jelas menyayagi wanita itu sebagai Mamanya, tidak ada yang baik untuk dilakukan jika paksaan.


"Baik, kalau begitu beri aku waktu untuk berbicara denganmu untuk membahas semua ini,"


Alice terlihat tidak mendengarkan kata-kata Justin, lalu segera mengendong Al kedalam pelukanya, berniat membawa putranya itu pergi dari sana.


"Tidak perlu ada lagi yang perlu dibicarakan untuk saat ini aku minta kamu jangan dekat-dekat denganku ataupun putraku!"

__ADS_1


"Kenapa kamu ini tidak bisa berpikir dengan jernih dan masuk akal?" Kata Justin lagi, sambil memegang pergelangan tangan Aloce.


Alice yang mendengar itu jelas menjadi marah, dan menepis tangan Justin.


"Sudah aku bilang jangan menyentuh! Dasar kamu menyebalkan! Aku akan lapor polisi jika kamu berani menyentuh ku dan Putraku!"


"Kamu! Aku biarkan malah ngelunjak!"


Alice yang mendengar kemarahan pria di depannya itu langsung segera memalingkan wajahnya kemudian berlari pergi dari sana.


Justin bukannya tidak ingin mengejar, namun dirinya merasa memang sebaiknya memberikan waktu pada wanita itu untuk bisa berpikir jernih.


Lalu dirinya segera berkata pada temannya itu,


"Hey, Eric aku minta kamu segera temukan identitas dari wanita itu, pembukaan di mana dia tinggal bagaimana masa lalunya, mana dia bekerja, kok nya semua informasi dan data tentang wanita itu,"


Eric yang mendengar perintah dari teman sekaligus atasannya itu hanya bisa meng geleng-geleng kan kepalanya.


"Astaga... Apakah ini menjadi semacam drama percintaan, soal Istri kecil Pak Presdir yang kabur saat hamil? Lalu sekarang kamu mulai mengejar dia,"


Justin hanya bisa berkata marah pada temannya yang mengambil kesimpulan tidak masuk akal itu,


"Eric, kamu itu tidak mengerti apa apa,"


"Kalau kamu tidak menjelaskan bagaimana aku tahu?"


"Apakah kamu ingat Penelitiku gagalku enam tahu tahu soal Penelitian Rekayasa Genetik pada DNA Embiro?"


"Tentu saja aku masih ingat bagaimanapun juga gagalnya penelitian besar itu juga membawa kehancuran pada karir mu yang saat itu sedang bersinar,"


"Penelitian itu sebenarnya tidak gagal,"


Eric jelas menjadi bingung setelah mendengar kata-kata temannya itu.


"Maksudmu apa?"


"Kamu ingat, Aku juga pernah bercerita soal, penelitian terkahir itu yang gagal karena para peneliti tidak teliti, melakukan kesalahan sampai memasukkan embiro yang berharga ke orang yang salah?"


"Tunggu... Kamu mau bilang jika anak yang kita lihat itu adalah hasil dari Percobaan mu itu?"


"Itu benar sekali, aku yakin anak itu adalah bagian terakhir yang hilang dari penelitian ku,"


"Astaga ... Aku tidak mengira jika itu berhasil .... Jadi apa rencanamu sekarang?"


"Pokoknya kamu cari tahu dulu identitas wanita itu nanti akan aku lanjutkan rinciannya,"


Tujuan Justin sudah sangat jelas yaitu dirinya ingin mendapatkan anak itu kembali, sesuatu yang seharusnya menjadi miliknya dari awal.

__ADS_1


Namun, sekarang bagaimana cara dirinya meyakinkan ibu anak itu?


Sepertinya, wanita tadi sangat menyebalkan dan keras kepala, ini benar-benar membuat Justin pusing sendiri.


__ADS_2