
Pada akhirnya, pagi itu Justin diam dan berhenti berdebat dengan Alice, karena hal-hal itu hanya membuatnya kesal saja, tentang bagaimana Alice sangat keras kepala bahkan jika dirinya menjelaskan alasannya, jadi mari lakukan pendekatan pelan-pelan subuh pakai dengan rencana awalnya.
Yah, walaupun dirinya sekarang hanya memiliki keinginan kecil untuk melanjutkan proyek itu.
Proyek itu, memang sesuatu yang sangat penting, namun Al juga hanya anak-anak, mungkin memang benar dirinya salah karena memperlakukan anak sekecil itu sebagai objek suatu penelitian.
Namun mau bagaimana lagi?
Sudahlah, Justin tidak ingin memikirkannya dulu.
Namun mana tahu, tepat ketika Justin sampai di tempat kerjanya, yaitu sebuah Laboratorium penelitian, Asistennya, Lisa bertanya padanya,
"Tuan Muda Justin, bagaimana soal pendekatan anda pada objek penelitian 014?"
Justin, yang ditanya itu jelas aja mengerti apa maksud Asistennya itu, dan tahu kode siapa 014 itu.
Namun ketika memikirannya, Al disebut dengan kode semacam itu, Justin tiba-tiba kesal.
Padahal awalnya dirinya sendiri lah yang memberi julukan itu, pada setiap data penelitiannya.
Ya, tentu saja secara diam-diam, dirinya lakukan beberapa pengamatan kecil pada perilaku Al, bisanya tentang apa saja yang bisa dia lakukan dan apa yang tidak bisa dilakukan.
Atau, sejauh mana anak itu bisa memahami sesuatu.
Hal-hal yang terkadang bisa terlihat ketika Al berbicara dan bertindak, mengamati nya dari dekat juga merupakan sebuah cara untuk mendapatkan data penelitian.
Dan semua itu, dicatat dalam sebuah laporan, dengan nama 'Objek Penelitian Rekayasa Genetika, 014'.
"Anak itu memiliki sebuah nama jangan pernah kamu menyebut hal-hal seperti objek penelitian 014,"
Lisa yang tiba-tiba kena marah itu jelas menjadi binggung.
"Tapi... Bukankah Tuan Muda sendiri yang menyebutnya seperti itu?"
Justin juga merasa bahwa apa yang dikatakan asistennya itu benar dirinya sendiri lah yang memberikan julukan itu.
Tapi, mulai sekarang sudah tidak ada julukan itu lagi.
Semakin Justin memikirkannya, sepertinya tidak baik untuk menjadikan Al objek penelitian.
"Aleyster Ellison, itu adalah nama anak itu, jangan kamu panggil dengan angka lagi,"
"Baik, saya mengerti. Akan coba saya terapkan, namun bagaimana dengan perkembangannya? Tuan Muda, belakangan anda belum memberikan hasil penelitian yang anda lakukan, bukankah seberapa hari lalu kalian pergi bersama?"
Justin yang mendengar itu segera marah.
"Aku hanya pergi untuk kepentingan ku sendiri tidak ada hubungannya dengan penelitian ku dan aku tidak akan melakukan penelitian lebih lanjut ke depannya soal anak itu,"
Lisa yang mendengar nada kemarahan dari Justin jelas menjadi bingung lagi.
"Maksud Tuan Muda apa?"
Justin lalu segera menghela nafas mencoba untuk menenangkan pikiran nya setelah berhasil mengambil keputusan yang paling sulit dalam hidupnya.
"project penelitian ini dibatalkan jangan kamu mencoba mengungkit-ungkit Penelitian soal anak itu di depanku lagi,"
"Tapi kenapa? Saat ini penelitian itu sudah berjalan dengan baik, hanya butuh sedikit data soal kesehatan anak itu, telah melakukan beberapa tes dan jika hasilnya berhasil Nama Tuan Muda pasti akan menjadi terkenal, anda akan bisa mendapatkan posisi yang dulu pernah anda dapatkan, dapatkan pengakuan dari semua orang terutama pengakuan dari Keluarga anda,"
__ADS_1
Justin yang mendengar itu, la sangat paham apa yang asistennya itu katakan.
Namun, hanya sekadar untuk mendapatkan pengakuan semua orang...
Apakah harus untuk mengorbankan seorang anak kecil?
Tidak, semakin Justin memikirkannya, Justin semakin bersalah menjadikan Al sebagai objek penelitian.
"Sudahlah, itu tidak penting lagi sekarang,"
"Tapi Tuan Muda,"
"Kubilang cukup soal itu!"
Lisa lalu segera tidak menentang apa yang dikatakan atasannya itu hanya segera berkata,
"Lalu, apa yang akan anda lakukan sekarang dengan Ibu dan anak itu?"
"Ini jelas adalah masalah pribadi ku soal hubunganku dengan mereka berdua mulai sekarang kamu tidak perlu lagi mencari tahu soal urusan urusan ini, beritahu juga hal ini kepada semua orang yang ada di Laboratorium. Aleyster Ellison, adalah Putraku," kaya Justin dengan tegas, lalu segera meninggalkan Lisa disana.
Ketika mendengar itu, Lisa semakin menjadi tidak senang.
Jelas, bunga merasa tidak terima bisa-bisanya Tuan Mudanya itu mengagap objek penelitian sebagai Putranya?
Bahkan walaupun, itu adalah Sel Tuan Mudanya yang di donorkan...
Namun sekali itu objek penelitian, akan tetap menjadi sebuah objek penelitian.
Sebenarnya apa yang terjadi sampai-sampai atasannya itu, mengambil keputusan sebesar itu?
Untuk membatalkan penelitian itu.
Ketika memikiran soal hal-hal ini, Lisa kemudian teringat pertemuan tempo hari dimana dirinya dan Atasannya itu bertemu dengan sepasang Ibu dan Anak itu.
Dirinya lalu ingat, tentang bagaimana Tuan Muda Justin itu, senyumannya di hadapan wanita itu.
Jangan bilang, Tuan Muda itu keputusan semacam itu karena wanita itu?
Wanita itu yang mempengaruhi Tuan Mudanya, bahkan mempengaruhi agar mengakui objek penelitian itu adalah Putranya, Putra mereka berdua.
Jangan jelas sekali, tujuan wanita itu untuk mendapatkan Tuan Muda Justin.
Hal-hal semacam ini jelas aja tidak bisa dibiarkan.
Tuan Muda Justin hanya bisa bersama dengan dirinya.
Tunggu saja, dia akan mencoba mencari cara terutama untuk mendapatkan data penelitian itu.
Penelitian ini harus segera tetap dilaksanakan sesuai rencananya.
Dengan pikirannya sendiri, Lisa merencanakan hal-hal yang tidak pernah akan dikira oleh Justin.
####
Siang itu, sesuai rencana Justin berencana untuk menjemput Al di sekolahnya, ini juga sudah mendapatkan persetujuan dari Alice sebelumnya.
Justin, buka merasa cukup senang untuk bisa mengantar jemput anak itu di sekolahnya.
__ADS_1
Namun jelas, Justin yang biasanya terkenal sebagai workholic, untuk meninggalkan Laboratorium saat jam kerja itu, menjadi perhatian dan rasa ingin tahu semua orang, karena hal macan itu jelas tidak biasa.
Lisa, yang jelas berasa sangat ingin tahu segera bertanya pada atasannya itu,
"Tuan Muda Justin ingin kemana?"
"Ah itu, Aku ingin menjemput Aleyster, aku sudah berjanji padanya untuk menjemputnya,"
"Tapi bukankah Penelitiannya dibatalkan?"
"Aku melakukan ini tidak ada hubungannya dengan penelitiannya. Kamu masih ingin membahas soal penelitian aku akan marah,"
Lisa yang mendengar nada dingin itu segera mengalihkan pertanyaannya.
Punya tiba-tiba memiliki sebuah ide.
"Saya jadi penasaran soal anak itu, kenapa anak itu bisa merubah pikiran anda, seperti apa anak itu?"
Justin yang mendengar itu jelas segera menunjukkan minatnya.
"Al adalah anak yang sangat lucu dan pintar, yah soal kepintarannya, sudah ada di laporan sebelumnya. Namun bukan itu yang membuatku berubah pikiran, ya bagaimana aku membicarakan nya, itu masihlah seorang anak berumur lima tahun yang mengemaskan."
Ada nada ceria saat Justin mengatakan hal-hal itu.
"Kalau boleh tahu, apakah Saya ingin berkenalan dengan anak itu, bikin dengan berbicara secara langsung dengan anak itu saya akan mengerti,"
Justin merasa ide itu tidak cukup buruk jadi dirinya segera berkata,
"Mari, ikut saja Aku menjemputnya, nanti kamu bisa mulai berbicara dengannya,"
Lisa yang mendengar kesetujuan Justin, jelas segera senang.
Karena bagian dari rencananya berhasil.
Setelahnya, menaiki mobil Justin mereka berdua segera tiba di depan sekolah Al.
Al tentu sudah menunggu untuk dijemput oleh Papanya.
Begitu Al melihat Justin, Al segera memeluk Papanya itu dengan ceria.
Lalu baru setelah mengatakan beberapa sapaan, Al menatap kearah seorang wanita yang memiliki wajah yang familiar keluar dari mobil itu.
Itu seperti rekan kerja Papanya sebelumnya?
Justin juga menyadari tentang Al yang menatap Lisa, jadi dirinya perkenalkan dua orang itu.
"Ini adalah Tante Lisa, rekan kerja Papa, hanya sedikit penasaran tentang kamu ketik apa-apa menceritakan betapa menggemaskan nya dan lucunya kamu,"
Al yang mendapatkan pujian itu segera merasa malu dan wajahnya sedikit memerah.
"Papa bisa saja,"
Lisa kera mengambil kesempatan itu untuk mengulurkan tangannya dan memperkenalkan diri.
"Salam kenal, Aleyster,"
Al menjawab dengan ceria,
__ADS_1
"Salam kenal juga Tante Lisa,"
Itu adalah sebuah pertemuan awal yang akan menghantarkan sebuah hal yang tidak akan pernah Justin kira.