
Justin dan Alice mereka berdua benar-benar hanya bertengkar, dan Justin yang tidak tahan dengan tingkah wanita di depannya itu, dengan gemas mencubit pipi Alice.
Alice jelas saja merasa kesal dan menepis tangan yang ada di pipinya.
"Kamu itu benar-benar menyebalkan! Apa-apaan sih, pakai sentuh-sentuh segala,"
"Hah, Siapa juga yang mau menyentuhmu!"
Merasa jika pertengkaran itu tidak akan ada habisnya, keduanya segera memalingkan muka, lalu menatap kearah komedi putar, dimana sepertinya Al akan melewati mereka.
Alice yang paling pertama untuk mengambil ponselnya, bersiap untuk mengambil foto putranya itu, namun mana tahu jika ponselnya ternyata habis batrenya.
Alice langsung Segera menatap ke arah pria yang ada di sampingnya yang terlihat hanya menatap tenang sambil menunggu Al lewat.
Cukup gugup ketika menatap Pria menyebalkan itu, namun Alice merasa tidak punya pilihan lain, dirinya ingin mengabadikan momen dari Putranya itu, dan Al pasti juga akan senang jika difoto.
Jadi, Alice mulai menyentuh ujung kemeja Justin.
Justin yang tiba-tiba bajunya ditarik itu segera menata heran terutama setelah tahu seseorang yang memegang kemejanya adalah Alice.
"Apalagi yang kamu inginkan?"
"Pinjam ponselmu,"
Justin yang tiba-tiba dimintai sesuatu semacam itu jelas saja merasa curiga.
"Apa-apaan dengan meminjam ponselku?"
Mendengar kata-kata itu, Alice jelas merasa kesal karena pria di depannya itu tidak peka.
"Ponselku baterainya habis, Aku ingin memfoto Al," kata Alice dengan ekspresi wajah kesal.
"Kamu itu jika ingin meminta atau meminjam sesuatu pada seseorang melakukan dengan sopan, jangan memasang wajah jelek seperti itu,"
"Kamu itu berniat ingin meminjamkan nya atau tidak?"
Justin akhirnya merogoh saku di jaketnya, lalu segera memberikan ponselnya pada Alice tanpa pikir panjang.
Toh karena memang di ponsel itu tidak ada apa-apa.
__ADS_1
Alice segera menerima ponsel itu dengan senang hati itu bertepatan dengan Al yang mau lewat yang saat ini tengah melambaikan tangannya dengan ceria.
"Mama!! Mama!! Papa! Al disini!"
Mendengar suara Al, Alice langsung merasa senang dan segera membuat video dengan ponsel di tangannya itu.
Tidak lupa, mengambil beberapa foto juga.
Disisi lainnya, Justin menatap kearah wanita yang ada disampingnya, yang saat ini tengah tersenyum dengan ceria.
Hah, jadi wanita itu juga bisa tersenyum ceria semacam itu, yang terlihat cukup manis?
Tidak hanya memiliki wajah jelek ketika kesal?
Justin segera menggelengkan kepalanya berpikir jika mayang barusan dirinya pikirkan benar-benar di luar akal sehat.
Bagaimana dirinya bisa bilang wanita menyebalkan itu manis!
Tidak!
Jelas tidak ada yang manis sama sekali dari wanita itu.
Mana tahu sekarang tatapan mereka berdua bertemu.
Ya, kali ini Justin ketahuan jika dirinya menatap Alice diam-diam.
"Apa yang kamu lihat?"
"Aku tidak melihat apapun,"
"Itu, Al dari tadi memanggilmu kenapa kamu tidak melambaikan tangan ke arahnya, itu benar-benar tidak peka pada putra mu sendiri,"
Justin segara sadar lalu langsung memalingkan wajahnya dan menatap kembali ke komedi putar dimana Al berada, dan segera melambaikan tangannya kepada Putranya itu.
Hal-hal berlalu dengan cepat, dan mereka segera pindah ke wahana berikutnya.
Kali ini, wahana biang lala yang tinggi.
Setelah antri cukup lama, mereka bertiga segera naik ke biang Lala itu.
__ADS_1
Al yang ingin masuk duluan karena dia sangat bersemangat, segera berlari menuju ke salah tempat di biang Lala itu.
Alice jelas mencoba mengejar anak itu, takut nanti malah Al akan jatuh terpeleset atau sesuatu.
Namun mana tahu yang terpeleset malah Alice, sangat beruntung Justin menangkap Alice dengan sigap.
Tatapan mereka, bertemu lagi bertemu untuk sesaat.
"Kamu itu lain kali hati-hati,"
Alice jelas saja merasa malu segera membenarkan posisinya, dan langsung menuju kearah Al, bahkan tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada Justin, karena merasa terlalu malu.
Justin hanya bisa merasa heran menatap Alice pergi begitu saja, kemudian segera ikut berjalan untuk menyusul mereka.
Hari itu, mereka bertiga benar-benar sangat menikmati dan bersenang-senang di taman hiburan, terutama Al.
Justin, juga memerankan peran Ayah yang baik, yang menuruti semua permintaan Al.
Alice sendiri hanya bisa menatap Justin diam-diam dari tadi, melihat betapa perhatiannya Pria itu pada Al.
Dari sana, Alice mulai berpikir, mungkin saja Justin ini benar-benar menyayangi Al?
Mau bagaimanapun, Al tetaplah bagian dari darah dagingnya sendiri.
Jika terus seperti ini, Alice merasa tidak masalah untuk membiarkan Justin bertemu dengan Al?
Ya, itu adalah keputusan Alice hari itu.
Mana tahu, beberapa hari setelah hari itu, sejak Alice memberikan ijin pada Justin untuk bertemu Al, hal-hal tak terkira segera terjadi.
Ini dimulai, dari Justin yang saat itu menemani Al bermain, tiba-tiba mendapatkan sebuah telepon.
Alice awalnya, hanya lewat tempat dimana Justin menjawab telepon.
"Ya, Aku pasti akan membawa anak itu untuk melakukan pemeriksaan, jauh ini aku sudah mengamati jika anak itu memang memiliki IQ yang tinggi, namun untuk lebih akurat, memang sebaiknya melakukan pemeriksaan lebih lanjut, juga soal kesehatan dan imun anak itu, aku ingin tahu apakah dia memiliki kekebalan terhadap penyakit-penyakit tertentu sesuai dengan percobaan yang dulu Aku buat,"
Justin lihat sedang mengobrol dengan seseorang, tanpa sadar jika hal itu di dengar Alice.
"Tenang saja, secepatnya. Saat ini aku sudah mendekati mereka berdua, aku yakin setelah ini aku bisa membujuk Ibu anak itu agar mau membawa Al ke tempat pemeriksaan, dan aku akan tahu hasil dari penelitian berhargaku ini,"
__ADS_1