Terjerat Pesona Ilmuwan Tampan (Gila)

Terjerat Pesona Ilmuwan Tampan (Gila)
Episode 35: Ketahuan


__ADS_3

Setelah Al beretemu dengan Justin, Al menjadi merasa lega, karena setidaknya Papanya Justin, tidak akan memperlakukan dirinya seperti orang-orang yang ada di laboratorium.


Apalagi, Papanya sudah janji agar hal seperti ini tidak terjadi lagi.


Hal pertama yang Justin lakukan adalah dirinya bersama Al yang ada digendongannya, kembali ke tempat penelitian sebelumnya dilakukan.


Al melihat bagaimana, Papanya itu satu demi satu mulai menghapus data yang ada di komputer, mulai mencari dokumen-dokumen yang sudah tercetak untuk dimasukkan ke dalam sebuah tas.


Tidak hanya itu,bahkan dia melihat ke setumpukan kartu memory, yang berisi tentang data-data penelitian dan segera menghancurkan semuanya.


Termasuk, data yang ada di mesin scanner sebelumnya.


Tidak cukup sampai di sana, Justin juga mulai menghancurkan, beberapa botol-botol untuk penelitian yang ada di ruangan itu.


Al yang melihat pemandangan itu jelas merasa cukup gugup.


"Papa... Apakah benar-benar tidak apa-apa untuk menghancurkan semuanya?"


Justin lalu tersenyum dan memeluk putranya itu,


"Tidak apa-apa. kamu harus yakin semua data soal penelitian ini sudah tidak akan ada lagi juga penelitian ini sudah selesai sampai di sini jadi kamu tidak perlu takut lagi di masa depan,"


Al yang mendengar itu benar-benar merasa tersentuh.


Ya, dirinya sudah membaca beberapa hal soal penelitian itu, dan berdasarkan data dan informasi yang ada dirinya tahu bahwa penelitian itu adalah sesuatu yang sangat penting untuk Papanya Justin.


Sesuatu yang sudah lama diteliti dan sesuatu yang sangat berharga.


Namun, demi dirinya Papanya ternyata rela untuk mengorbankan penelitian itu.


"Papa... Papa adalah yang terbaik!" Kata Al dengan sangat senang.


Jelas, beberapa orang segera datang ke ruangan itu karena mendengar keributan.


Terutama Lisa, juga ada Ayah Justin di sana yang merasa cukup kaget dengan tindakan Justin.


"Tuan Muda Justin? apa yang barusan Anda lakukan pada semua data penelitian ini?"


Mendengar kata-kata Lisa itu, Justin segera menampar asistennya itu.


"Lisa! Aku tidak mengira kamu melakukan semua ini di belakangku! Bukankah aku sudah bilang padamu sebelumnya untuk melupakan semua penelitian ini? Namun sekarang apa yang Aku lihat? kamu malah mengambil anak ini dan melakukan penelitian secara diam-diam padanya! Aku sangat kecewa padamu!"


"Tapi Tuan Muda.... Ini semua demi kebaikanmu!"


"Diam! Kamu tidak tahu apa-apa soal kebaikanku! Aku hanya obsesimu sendiri saja yang memang sangat menginginkan penelitian ini bukan?"


"Bukan, Bukan seperti itu Tuan Muda...."


Ketika Lisa mencoba untuk menenangkan atasannya itu, Ayah Justin yang ada di sana segera berkata dengan marah.


"Justin? Apa yang baru saja kamu lakukan? Penelitian ini Bukankah ini penelitianmu yang sangat penting? Apa kamu malah menghapus semua data penelitian itu padahal jelas sekali, penelitian itu berhasil, data itu, harus di presentasikan di depan semua orang!"


Justin lalu menatap ke arah ayahnya itu dan segera berkata,


"Tidak. Aku tidak akan pernah mempublikasikan soal hasil penelitian ini. Penelitian ini berakhir sampai di sini,"


"Justin! Kenapa kamu menjadi tidak masuk akal? Apakah kamu tidak ingin kembali mendapatkan jabatan dan pengakuan dari Keluarga mu hah?"


Justin yang mendengar kata-kata ayahnya itu hanya segera menghela nafas lalu berkata,


"Aku sadar selama bertahun-tahun aku berada di keluarga ini, keluarga di mana pencapaian adalah yang sangat penting, di mana kehangatan waktu dan kebersamaan keluarga itu adalah hal yang tidak penting, Keluarga yang sangat dingin, sungguh jika aku memikirkannya sejak aku masih kecil, Aku merasa sangat lelah dengan keluarga ini... Kasih sayang yang selalu aku inginkan itu hanya fatamorgana. Aku sudah cukup muak dengan semua ini,"


Ayah Justin itu, segera menatap ke arah putranya dengan ekspresi tidak percaya.


"Apa maksudmu hah?"


Justin lalu segera berkata sekali lagi,


"Aku sudah muak denganmu Ayah! Apakah anda tidak mengerti? Tuan Abraham Crownely?"

__ADS_1


"Justin! Kamu beraninya berkata tidak sopan padaku!"


"Aku sungguh sudah tidak peduli lagi!" Kata Justin, lalu segera keluar dari ruangan itu dengan ekspresi puas di wajahnya.


Al menatap pada Papanya Itu yang sekarang menunjukkan sebuah senyuman hanya bisa menatap heran.


"Apakah benar tidak apa-apa, Papa menghancurkan semua data itu dan pergi seperti ini? Dan Orang Tua itu..."


"Tidak apa-apa. papamu ini selalu ingin sedikit memberontak seperti ini sekali-sekali kepada Kakekmu yang menyebalkan itu,"


Ya, Justin akhirnya merasakan sedikit kepuasan setelah berani menentang Ayahnya itu dalam 29 tahun hidupnya.


Rasanya sangat lega ketika dirinya Akhirnya bisa mengutarakan isi hatinya.


Itu benar dirinya sudah tidak peduli lagi soal Apa itu kebanggaan keluarga reputasi keluarga ataupun omong kosong lainnya yang selalu Ayahnya katakan.


Yang dirinya inginkan, awalnya hanya sebuah perhatian dan kasih sayang dari sebuah keluarga.


Namun, Keluarganya, tidak benar-benar bisa memberikannya sesuatu yang seperti itu.


Namun ketika dirinya bertemu dengan Al dan Alice, dirinya menjadi sedikit menyadari tentang Apa itu sebuah keluarga.


Yang disebut Keluarga, adalah orang-orang yang selalu ada disisimu, tidak peduli apapun kamu, memberikan kehangatan tanpa pamrih, juga memberikan kasih sayang tidak terbatas.


"Al, sekarang kamu adalah Keluargaku,"


"Tentu, Papa. Papa tidak usah sedih, Al akan selalu berada di sisi Papa!"


Kedua orang itu segera menuju ke lantai bawah untuk keluar dari sana.


Mereka segera menuju masuk ke mobil Justin, jelas berniat membawa Al kembali ke rumahnya.


Al sempat lupa jika dirinya yang pernah menelepon Mamanya.


Namun begitu mereka pergi, Alice yang diantar oleh Dokter Kevin itu, tiba di Laboratorium.


"Dimana kalian menyembuyikan Putraku!"


Lisa yang awalnya masih menjadi begitu sedih karena dimarahi Justin itu, dapat laporan dari orang-orang di bawah tentang adanya keributan.


Lisa mulai memeriksa ke arah kamera CCTV.


Tempat ketika dirinya menatap wajah wanita tertentu dirinya menjadi marah.


Lisa segera mengambil data-data penelitian yang tersisa yang dirinya miliki.


Lisa jelas memiliki beberapa rencana.


Jika Justin tidak bisa menjadi miliknya maka wanita itu juga tidak bisa memiliki Justin.


Dirinya akan memastikan bahwa wanita itu pasti akan membenci Justin.


Dan benar saja, Lisa segera turun dan segera menjalankan rencananya.


"Kemana kalian menyembunyikan Putraku?"


Lisa dengan ekspresi dingin segera berkata,


"Kita tidak pernah menyembunyikan apapun. Tuan Muda Justin lah awalnya ke tempat ini,"


"Ya! Juga tahu itu sekarang mana Putra ku!"


"Mana Aku tahu? Tuan Muda Justin kembali membawanya pergi setelah melakukan beberapa penelitian pada anak itu, lihat selama ini Tuan Muda selalu melakukan penelitian pada anak itu sejak mereka bertemu," kata Lisa sambil melemparkan beberapa dokumen ke arah Alice.


Alice lalu mulai membaca berapa ha dalam dokumen itu yang memang benar saja, disana tes setiap laporan soal tindakan Al selama ini ketika bersama dengan Justin.


Bahwa Justin ternyata diam-diam selama ini di setiap interaksi mereka selalu meneliti perkembangan anak itu.


Hal itu, tulis jelas dan dijadikan sebuah laporan yang benar-benar tersusun secara rapi.

__ADS_1


'Objek Penelitian 014, dia ternyata anak yang memiliki IQ yang tinggi, belakangan aku memberikan sebuah mainan kecerdasan untuknya, Puzzel yang cukup rumit dan dia berhasil menyelesaikannya dengan cepat,'


Alice ingat, juga Justin kadang-kadang akan memberikan hadiah putranya.


Hanya dia hanya berpikir jika Justin mungkin hanya ingin membuat putranya senang.


Namun dirinya tidak pernah mengira ada maksud lain di balik hadiah-hadiah itu, bentuk tidak lain adalah bentuk dari penelitian yang sedang dilakukan.


Semakin Alice memikirannya, dirinya jelas menjadi semakin sedih.


Dirinya tidak mengira, jika Justin itu sampai seberani itu melakukan penelitiannya.


Jadi apakah yang dia lakukan selama ini benar-benar hanya tipuan?


Dan lagi, Justin benar-benar memanfaatkan kepolosan dari putranya yang selalu menginginkan sosok seorang ayah, dengan cara mendekati anak itu dan menipunya secara diam-diam.


Hati Alice begitu hancur setelah itu.


Sampai kemudian, telepon Alice segera berbunyi, itu adalah telepon dari Al.


"Al? Kamu dimana?"


"Al sudah di Rumah, tadi Papa yang mengantar Al ke Rumah. Al sekarang sudah tidak apa-apa,"


Alice yang mendengar itu masih memiliki perasaan cukup rumit.


"Al, jangan kemana-mana, Mama akan segera pulang ok?"


Ya, mungkin putranya benar-benar sudah ditipu dan dimanfaatkan oleh Justin entah bagaimana.


Walaupun, tadi putranya sempat menelepon karena ketakutan lihat sekarang putranya terlihat baik-baik saja.


Apakah Justin sudah menipu putranya dengan kata-kata manisnya?


Dokter Kevin yang menunggu di mobil jelas merasa khawatir jadi dia segera keluar dan menuju ke arah Alice, yang saat ini telah pergi dari depan Laboratorium itu, jadinya merasa sangat kesal hanya menatap lab itu saja.


"Alice? Bagaimana? Apakah Al disana?"


"Al sudah di Rumah, kalau tidak merepotkan Apakah kamu bisa mengantarku ke rumah?"


"Tentu saja,"


Dengan itu, mereka segera kembali ke Rumah Alice.


Ketika Alice sampai di Rumah, Alice segera menarik Al dari pelukan Justin, lalu segera menampar Justin.


"Aku sudah tahu semuanya soal semua penelitian yang kamu lakukan diam-diam pada Putraku! Tambahkan hari ini kamu sampai membawanya sampai laboratorium!"


Justin yang tiba-tiba ditampar itu jelas berusaha untuk menjelaskannya.


"Alice, ini tidak seperti apa yang kamu lihat,"


Alice lalu segera melemparkan dokumen-dokumen hasil penelitian yang diberikan oleh Lisa sebelumnya.


Justin menatap kearah dokumen-dokumen itu dengan ekspresi tidak percaya.


Bagaimana bisa hal itu sampai ke tangan Alice?


"Alice, memang benar aku pernah melakukan pengamatan dan meneliti Al sebelumnya tapi..."


Alice yang mendengar pengakuan itu segera mendorong Justin keluar.


"Aku gak mau melihat wajahmu lagi aku ngga men kamu pergilah sekarang sebelum aku menjadi begitu marah sungguh aku tidak ingin perlihatkan kemarahan ku kepada Al!"


Dokter Kevin tidak begitu mengerti tentang apa yang terjadi, namun dia melihat tentang bagaimana Alice marah, jadi dia mencoba untuk menarik Justin agar menjauh dari rumah mereka.


"Lepaskan! Kamu jelas tidak ada hubungannya dengan semua ini!"


"Justin! Biarkan Alice untuk menenangkan dirinya! Kamu sebaiknya pergi saja sekarang! Banyak hal yang tidak lalui hari ini!"

__ADS_1


__ADS_2