
Alice yang rasa sedikit terpesona pada Justin itu, segera kembali penjernih kan pikirannya, lalu segera mendorong Justin untuk menjauh dari dirinya.
"Kamu apa-apaan sih," kata Alice dengan kesal.
"Astaga, aku hanya ingin mengantarmu untuk ke Pendaftaran sekolah, Al apakah itu begitu sulit?"
"Ini jelas tidak ada hubungannya dengan mu sungguh kamu tidak perlu mengantarkan nya,"
Justin benar-benar merasa bingung sekarang tentang bagaimana membujuk wanita di depannya ini yang sepertinya memang berniat menjaga jarak dengan dirinya.
Sungguh menyebalkan, jika seperti ini rencana yang dirinya miliki pasti akan segera gagal.
Kenapa sih, wanita ini benar-benar menyebalkan?
"Mama, biarkan Papa ikut ya?"
Namun sebuah suara kecil, membuat dua orang itu langsung menatap kearah si kecil yang saat ini menunjukkan ekspresi memohon.
Jujur, Alice paling tidak bisa menolak permintaan dari Putranya yang lucu itu, apalagi setelah memiliki penampilan semacam itu.
Justin sendiri merasa sangat senang mendengar bocah kecil itu ternyata setuju dengan dirinya.
Anak itu, ternyata lebih penurut daripada yang dirinya kira daripada Ibunya yang keras kepala.
Namun ini hal yang baik setidaknya, tuk mendapatkan kepercayaan anak ini mungkin dirinya juga akan mendapatkan kepercayaan wanita itu.
"Baik, untuk kali ini saja, karena ini permintaan dari Al, kamu bisa mengantar kami namun jangan sampai kamu berbuat macam-macam,"
"Sungguh aku tidak akan melakukan hal apapun,"
Setelah itu, mereka segera berjalan menuju ke mobil Justin.
Pertama-tama, Justin membuka pintu belakang untuk mereka berdua.
"Al, kamu bisa masuk dulu ke mobil atau kamu ingin duduk di depan?"
Si kecil itu, terlihat menatap mobil mewah itu dari depan sampai belakang.
Merasa sangat kagum dengan mobil yang menurutnya terlihat sangat bagus itu.
"Al ingin duduk di depan!"
Justin lalu segera membuka pintu depan, dan biarkan aku tuk di sana lalu memasangkan satu pengaman untuknya.
Alice hanya menatap adegan itu dengan perasaan aneh.
Kalau dilihat-lihat memang dua orang itu benar-benar sangat mirip dan seperti seorang Ayah dan Anak sungguhan.
Dan lagi, Al terlihat sangat senang sekarang, jujur Alice sekarang tidak tahu harus bersikap seperti apa.
__ADS_1
"Hey? Kenapa kamu diam saja? Cepat masuk ke dalam mobil," kata Justin dengan dingin pada Alice jangka di tadi malah melamun di luar mobil dan tidak segera masuk.
Melihat ekpersi dingin yang tiba-tiba itu, Alice jelas merasa kesal, tadi sepertinya Pria itu sikap sangat ramah dan tersenyum padanya namun kenapa sekarang sikapnya begitu dingin?
Benar-benar Pria aneh!
"Iya iya tidak perlu terlalu buru-buru pula, hpmh," kata Alice lalu segera memasuki mobil.
Ketika mobil itu mulai berjalan, seperti kebanyakan anak kecil, Al terlihat sangat antusias melihat keluar jendela.
Menikmati perjalanan pertamanya itu dengan Papanya.
"Woah... Kota ini sangat besar dan indah... Begitu banyak gedung-gedung tinggi,"
Ya saat ini mereka memang berjalan menuju ke daerah perkotaan, yang penuh dengan gedung-gedung tinggi, hal-hal yang biasanya tidak bisa Al temukan di desa tempat dirinya dan Alice tinggal.
"Owh? Apakah ini pertama kalinya kamu pergi ke kota?"
Al yang mendengar pertanyaan dari Justin itu segera berkata,
"Emm, ini adalah pertama kalinya Al pergi ke kota. Sebelumnya ketika sampai di sini, Mama sempat mengajak aku jalan-jalan. Dan lagi, biasanya Al dan mama tinggal di desa, tidak menemukan hal-hal seperti ini,"
Justin menatap anak itu, yang menjelaskan semuanya dengan sangat runtut, merasa cukup terkejut, seperti dugaannya, anak itu sepertinya terlahir tidak hanya seperti anak kecil biasanya.
Mungkinkah ini Seorang anak jenius?
Jika seperti itu bukankah artinya percobaan miliknya itu berhasil?
Namun dirinya juga masih tidak begitu yakin, karena belum melakukan pengamatan dan penelitian lebih lanjut kepada anak itu.
Dan yang paling penting lagi, apakah anak ini memiliki kekebalan terhadap penyakit tertentu?
Ya, itu adalah ukuran paling penting dari penelitian yang dirinya buat, selain membuat gen unggulan untuk menjadikan DNA yang baik, yang bisa menghasilkan seorang anak dengan IQ tinggi, ini juga penelitian untuk membuat seorang anak kebal terhadap penyakit tertentu, dan juga menghilangkan gen bawaan penyakit turunan.
Namun dirinya rasa sekarang belum saatnya untuk menanyakan hal-hal semacam itu, takut-takut Ibu anak ini, kan menjadi semakin agresif dan marah, itu hanya akan menambah perkara yang merepotkan.
"Jadi begitu, mari kapan-kapan Al, Papa ajak jalan-jalan bersama Mamamu untuk pergi berkeliling kota, Papa tahu tempat-tempat yang indah dan bagus di kota ini,"
Al jang mendengar itu jelas menjadi sangat senang dan berkata,
"Benarkah Papa?"
Justin yang melihat sikap ceria itu segera tersenyum dan berkata,
"Tentu saja, itu jika Mamamu mengijinkan nya,"
Alice memilih untuk tidak membalas apa-apa.
Hah, tidak habis pikir jika Pria itu sangat hebat dalam merayu putranya.
__ADS_1
Dan tidak lama sampai mereka berdua tiba di depan salah satu TK yang hendak Al masuki.
Ketika sampai di depan TK, Al langsung membaca papan nama TK itu dengan ceria,
"Taman Kanak-kanak Matahari, wah tempat ini terlihat sangat bagus,"
Justin menatap anak itu, yang sepertinya baru saja membaca papan nama TK itu dengan heran.
Hmm, jadi di umurnya segini dia sudah lancar untuk membaca?
"Al, kamu bisa membaca itu?"
Al yang ditanya oleh Justin lalu segera menatap ke arah Justin, kemudian mulai menjawab dengan bangga,
"Tentu saja, Al sudah bisa membaca dengan baik bahkan sudah bisa menulis dan berhitung,"
Alice mendengar putranya itu malah membicarakan rahasia yang harusnya hanya ada diantara mereka berdua pada Pria asing lasagna merasa marah lalu menyengol Putranya, untuk memberikan kode agar Al tidak mengatakan apapun.
"Al, kamu jangan mengatakan banyak hal aneh pada orang asing,"
Al lalu menatap Ibunya itu dengan ekspresi heran,
"Tapi dia buka orang asing, Ma! Dia adalah Papa Al, jadi tidak apa-apa untuk membagikan rahasia kecilku kepada Papa, benar bukan Papa?"
Justin yang mendengar itu lalu segera tersenyum kepada putranya itu,
"Tentu saja, Papa gak ingin tahu lebih banyak tentang mu, Al cara bercerita apa saja padaku,"
"Al, dengarkan apa kata Mama, jangan berbicara apapun pada pria itu!" atau Alice lagi mencoba untuk membujuk putranya itu.
"Tapi kenapa Ma? Dia kan Papaku,"
Alice sejujurnya bingung harus menjawab apa, hanya bisa menghela nafas dan membiarkan hal itu terjadi.
Dan sekarang Alice menatap Justin yang sepertinya terlihat begitu senang itu, karena dibela oleh Al, tatapan Justin menujukan sedikit ejekan kepada Alice, yang membuat dirinya menjadi semakin kesal.
Tidak lama sampai mereka memasuki TK itu, dan mereka segera menuju ke ruang kepala sekolah.
Sang Kepala Sekolah cukup kaget ketika melihat tiga orang itu datang, karena sebelumnya, menurut data yang di kirimkan oleh Ibu calon anak didiknya itu, Ayah dari anak itu sudah meninggal.
Lalu siapa Pria itu?
"Ibu Alice, kalau boleh tahu siapa pria yang ada bersama Al itu?"
Sampai Akhirnya dan Justin akhirnya memasuki ruangan, dan Kepala sekolah hanya bisa wajah melihat pria yang datang itu, dengan anak itu.
Bahkan tanpa mendengar jawabannya pun dirinya sudah tahu kesimpulannya.
Namun yang menjawab bukan Alice, namun Al.
__ADS_1
Al berkata dengan penuh semangat,
"Dia adalah Papa ku, Al sekarang punya seorang Papa!"