Terjerat Pesona Ilmuwan Tampan (Gila)

Terjerat Pesona Ilmuwan Tampan (Gila)
Episode 36: Demi Al


__ADS_3

Keesokan harinya etelah kejadian yang menimpa Al, Al jatuh sakit, dia mengalami Demam tinggi untuk pertama kalinya.


Alice yang cemas jelas langsung menelepon Dokter Kevin untuk melihat keadaan Al, dan karena demamnya sangat tinggi, Al akhirnya di bawa ke Rumah Sakit.


Alice semalamam masih menagis memikirkan soal semua yang terjadi.


Al sendiri, belum sempat berbicara dengan Mamanya, karena dirinya pikir masih membutuhkan waktu agar Mamanya bisa berpikir lebih jernih.


Mana tahu, keesokan harinya Al malah jatuh sakit.


Setelah serangkaian pemeriksaan, Dokter Kevin segera keluar dari ruang priksa.


"Dokter? Bagaimana keadaan Al? Kenapa dia tiba-tiba sakit seperti ini?" Tanya Alice dengan cemas.


Dokter Kevin segera berkata dengan tenang,


"Ini hanya Demam biasa, ini hanya reaksi tubuh normal, aku tidak begitu paham juga Namun sepertinya ada beberapa zat asing dalam tubuhnya. ini membuatku penasaran sebenarnya apa yang terjadi kemarin? Kenapa kamu terlihat begitu marah pada Justin?"


Ketika sampai pada pertanyaan itu, Alice menjadi binggung harus menjawab apa.


Namun yang paling jelas, melihat keadaan putranya sekarang yang berbaring di ruang perawatan itu membuat hatinya sangat sakit.


Apa yang telah Justin lakukan pada Putranya?


Dirinya ingat sebelumnya, Al sempat menangis seperti itu dan sekarang dia jatuh sakit seperti ini.


Mau tidak mau, ini membuat Alice berpikir, soal Percobaan Gila macam apa yang Justin coba pada Al?


Kenapa semua ini harus terjadi pada Putranya yang malang?


Al bahkan baru anak berusia lima tahunan, namun dia sudah mengalami kejadian yang begitu terauomatis seperti ini.


"Aku... Aku juga tidak tahu, Justin mungkin melakukan sesuatu padanya, sekarang bolehkah Aku melihat keadaan Al?"


"Ya, masuklah saat ini Al masih dalam efek obat, dan dia sedang tertidur,"


Alice lalu segera memasuki ruangan itu dan menatap ke arah putranya yang saat ini memiliki wajah yang pucat.


Terlihat cukup menderita dalam tidur tenangnya.


Melihat itu, hati Alice menjadi sangat hancur dan terluka.

__ADS_1


Merasakan, hal apa yang dialami putranya itu.


Alice benar-benar tidak bisa menahan air matanya hingga dirinya segera mulai menangis.


"Ini... Ini karena aku tidak bisa menjagamu dengan baik dan bisa-bisanya tertipu oleh kebaikannya, hingga kamu menjadi seperti ini, maaf kan Mama,"


Dokter Kevin yang berada di situ tidak begitu mengerti tentang situasinya yang jelas sepertinya dirinya mengira jika Justin itu melakukan hal yang tidak-tidak pada Al.


Dan melihat Alice memiliki ekspresi begitu sedih dan terluka itu jelas membuat dirinya tidak tega.


Jadi, Dokter Kevin segera membawa Alice ke dalam pelukannya mencoba untuk menenangkan wanita itu.


Alice hanya bisa menangis di sana memikirkan semua ini yang benar-benar membuat dirinya sangat pusing.


####


Di Sore hari, Al baru saja mulai terbangun dan sadar, Alice yang melihat akhirnya putranya bangun itu jelas aja menjadi sangat lega.


"Al? Kamu akhirnya bangun?"


Al baru saja terbangun itu menjadi sedikit bingung karena bedanya terasa sedikit tidak enak dan juga dirinya yang berada di tempat yang asing.


"Al dimana Ma? Ukhh, kenapa badan Al terasa tidak nyaman?"


Al yang mendengar itu lalu hanya berkata,


"Umm, jadi begitu, Al kan istirahat yang cukup agar tidak membuat Mama Khawatir,"


"Kamu itu bicara apa? Tentu saja, tidak apa-apa membuat Mama Khawatir, lagipula Mama adalah Mamamu,"


Al yang menderita itu lalu segera tersenyum.


Ya, Al udah membaca laporan penelitian sebelumnya, tentang bagaimana percobaan itu awalnya dilakukan, dan terjadi kesalahan.


Mamanya, Alice telah menjadi korban dalam peristiwa itu.


Dirinya benar-benar menjadi beban untuk Mamanya setelah semua, yang mungkin menghancurkan masa depan Mamanya.


"Al... Al minta maaf..."


"Astaga, kamu ini bicara apa?"

__ADS_1


"Al... Selama ini telah menjadi beban untuk Mama..."


"Siapa yang beban? Kamu itu adalah putra ku tersayang, kamu bukan beban,"


"Tapi karena keberadaan Al, Mama memiliki hidup sulit, Al sekarang sudah tahu semuanya..."


Ketika Alice mendengar kata-kata putranya itu jantungnya seolah hampir berhenti karena kaget.


"Apa yang kamu katakan?"


"Al sudah tahu semuanya, jika... Jika Al awalnya adalah hasil dari suatu percobaan dan penelitian, dan karena kesalahan, akhirnya Mama menjadi korban, maafkan Al..."


Alice yang mendengar itu jelas merasa sangat syok.


"Al? Dari mana kamu mendengar omong kosong itu? Astaga, apakah Justin berbicara itu padamu?"


Ketika memikirkan hal ini, kemarahan Alice menjadi semakin parah.


"Tidak, Ma. Ini bukan salah Papa sungguh, Al tahu karena kebetulan membaca hasil penelitian sebelumnya ketika Al di bawa ke Laboratorium,"


"Al, hal-hal yang kamu baca itu hanya omong kosong,"


"Mama tidak perlu menutup nutupin ini lagi, Al sudah tahu semuanya,"


Alice lalu segera menatap kearah putranya yang memiliki penampilan murung itu, dirinya jelas segera memeluk anak itu.


"Al, kamu adalah putraku, apapun yang kamu lihat dan kamu baca sebelumnya, itu tidaklah penting, kamu adalah Putraku, itu adalah fakta penting yang harus kamu tahu, kamu mengerti?"


Al yang mendengar itu merasa sangat tersentuh lalu segera menangis dan memeluk kembali Mamanya.


"Al sebenarnya sangat takut ketika mendengar itu... Bahwa Al bukan Putra Mama... Jika Al hanya sebuah kesalahan yang membebani Mama..."


"Al, tidak apa-apa kamu jelas bukan beban, kamu juga bukan obyek penelitian, kamu adalah Putraku, Aleyster Ellison, Putra Kesayanganku, kamu tidak perlu memikirkan hal-hal lain, Mama sangat menyayangimu,"


"Papa... Papa juga mengatakan ini sebelumnya padaku, bahwa Aku adalah Putranya, bahwa dia juga sangat menyayangiku, bahwa Aku bukan objek penelitian lagi, bahwa Aku adalah Putra Kesayangannya... Aku senang, Mama juga menyayagiku, begitu pula Papa,"


Alice yang mendengar itu jelas merasa sangat kaget, Justin bilang itu?


Apakah itu lagi-lagi kebohongan yang lainnya?


"Kamu... Jangan dekat-dekat dengan Justin lagi, dia hanya mengatakan segitu banyak kebohongan,"

__ADS_1


Al melepaskan pelukan itu lain segera berkata,


"Tidak, Papa Al tidak seperti itu. Papa sangat menyayangi, Al. Al tahu, Papa pernah melakukan kesalahan, namun Al lihat sendiri bagaimana sekarang Papa sudah berubah, dia sudah benar-benar menyayangiku, Mama tidak tahu, tentang bagaimana kerennya Papa, ketika dia menghapus semua data soal Penelitian Rekayasa Genetika itu!! Dia menghancurkan semua data penelitian itu dan membuat orang-orang di Laboratorium marah! Dia bahkan sempat menentang Ayahnya sendiri, lalu memutuskan untuk pergi dari Rumah Keluarga Papa, hanya demi Al! Agar semua hal penelitian itu dibatalkan dan tidak lagi ada... Padahal, Al tahu, jika itu adalah sebuah penelitian yang sangat berharga untuk Papa, namun dia menghancurkan semua datanya demi Al, Papa sangat menyayangiku, dan Al juga sangat sayang dengan Papa..."


__ADS_2