
Alice yang mendengar kata-kata putranya itu jelas merasa bingung dan juga merasa cukup kaget.
Dirinya tidak pernah mengira jika Justin akan bisa melakukan semua itu.
Menghapus data penelitiannya yang berharga?
Apakah orang itu si ilmuwan gila itu benar-benar melakukan hal itu?
Ataukah itu hanya sebuah tipuan baru?
"Mama, Mama harus percaya dengan apa yang aku katakan, dari awal Bukan Papa yang mengajakku ke Laboratorium, namun asisten Papa yang jahat itu yang membawaku ke sana, Papa benar-benar tulus menyayangiku, Mama harus yakin, jangan marah dengan Papa oke?"
Alice mendengar kata-kata putranya itu masih terus terdiam karena dirinya tidak tahu harus bersikap seperti apa.
Apakah dirinya benar-benar salah paham?
"Tapi Al..."
"Mama... Al benar-benar yakin, kalau Papa sudah berubah, Papa mungkin pernah melakukan kesalahan di masa lalu, namun dia sekarang mencoba untuk memperbaikinya, jadi maafkan Papa oke?"
Alice memutuskan untuk diam dulu karena dirinya masih membutuhkan banyak berpikir untuk semua ini.
Al juga tidak buru-buru untuk memaksa Mamanya itu.
Al hanya meminta ijin Mamanya untuk memberi tahu kabar pada Papanya, namun Alice masih tetap keras kepala dan belum mengizinkan Al untuk bertemu Justin.
Al juga menjadi lebih hati-hati untuk tidak menentang Mamanya, takut nanti Papanya yang malah akan disalahkan.
Al benar-benar tidak mengerti soal hal-hal dan urusan orang dewasa.
Namun jika dipikir-pikir lagi, sebenanya Mama dan Papanya tidak pernah memiliki hubungan yang dekat mereka dari awal adalah orang asing satu sama lainnya.
Hal ini membuat Al tiba-tiba merasa sedih.
Setelah semua, dirinya hasil dari suatu percobaan, bukan benar-benar anak mereka yang ada secara alami.
Yang itu artinya, Papa dan Mamanya masihlah orang asing, bahkan sampai saat ini.
Namun, awalnya Al ingin mencoba mendekatkan mereka kembali karena berpikir di masa lalu mereka memiliki sebuah hubungan.
Namun setelah hubungan masa lalu ini terungkap, Al menjadi merasa rumit.
Apakah benar untuk dirinya mencoba menyatukan mereka berdua?
Namun dirinya, sangat menyayangi mereka berdua dan ingin mereka berdua bersama-sama.
Hah, Al yang memikirkan masalah tentang orang tuanya itu benar-benar merasa pusing.
Lalu segera membuka ponsel yang Alice berikan, untuk mendapatkan beberapa informasi yang tidak Al tahu.
Misalnya....
Tentang cara agar Papa dan Mamanya berbaikan?
####
Dan begitulah, hari-hari segera berlalu, sudah beberapa hari sejak Al berada di Rumah Sakit.
Justin tentu saja tidak tahu jika putranya itu sampai terbaring di rumah sakit.
Justin masih mengurusi konsekuensi dari apa yang dilakukannya dengan merusak data-data penelitian dan menghapus semua itu.
Ada pertengkaran dengan Ayahnya yang membuat hidup Justin menjadi sedikit rumit.
Belum lagi membereskan semua kekacauan yang ada juga, bagaimana Justin mulai lebih fokus pada penelitian barunya.
Dan masalah Alice dan Al bahkan belum juga selesai.
Sekarang, Justin yang merasa sangat pusing itu segera menuju ke Sekolah Al, berharap dirinya setidaknya bisa melihat anak itu dari jauh tidak apa-apa.
Ini bisa memberikan ketenangan untuk hatinya, gua setidaknya di dunia ini dirinya memiliki putranya yang berharga yang sangat dia sayangi.
Namun ketika Justin sampai di sekolah, Justin tidak melihat tanda-tanda Al keluar dari sekolahnya.
Segera, Justin mulai bertanya kepada salah satu Ibu-ibu disana.
"Ah? Pak Justin? Apakah Ibu Alice tidak memberi tahu Bapak jika Al sakit? Bukankah kalian suami istri Kenapa kalian tidak saling menghubungi?"
Justin cukup terkejut ketika mendengar kabar jika putranya itu sakit.
__ADS_1
"Aku dan Istriku sedikit mengalami pertengkaran, yah bias masalah semacam itu sering terjadi. Baik, Makasih atas informasinya Aku akan segera pergi,"
Justin segera pergi dari tempat itu dan sekali lagi mencoba untuk menghubungi Alice.
Namun jelas, nomor Justin di blokir oleh Alice, tidak diangkat sedikitpun seberapa banyak dirinya mengirim pesan.
Dan untuk Al...
Al juga nomor teleponnya mati dari kemarin, mungkin segaja di matikan oleh Alice agar dirinya tidak bisa menghubungi anak itu
Namun Justin menjadi sangat khawatir ketika tahu bahwa putranya itu jatuh sakit.
Sebuah ketakutan tiba-tiba mulai muncul.
Apakah itu Karena penelitian sebelumnya?
Dirinya juga baru tahu dari salah satu bawahannya tentang apa yang mereka lakukan pada Al saat di laboratorium.
Selain melakukan beberapa pemeriksaan kesehatan mereka juga ingin menguji soal sistem kekebalan Al.
Beberapa obat tertentu, dimasukkan ke dalam tubuh anak itu untuk mendapatkan data yang diinginkan.
Obat-obatan yang dimasukkan mungkin bukanlah sesuatu yang memiliki dampak besar, namun Al masihlah seorang anak yang bahkan belum berusia 6 tahun.
Walaupun seharusnya dia sedikit berbeda dengan anak-anak lain namun setelah dilakukan dan diberikan berbagai obat semacam itu bisa saja itu malah mempengaruhi kesehatannya dan berdampak buruk padanya.
Bagaimana ini?
Bagaimana jika sebenarnya hal yang sangat buruk terjadi pada putranya?
Justin tiba-tiba merasa sangat bersalah ketika memikirkan ini.
Jelas, dirinya merasa sangat ceroboh dan tidak waspada hingga semua hal buruk itu terjadi pada Al.
Justin benar-benar dilanda kepanikan.
Lalu, Justin mulai memikirkan lagi ke mana kira-kira Al berada.
Bagaimana jika mengecek ke Rumah Alice dulu?
Ya, mungkin Alice kebetulan ada di rumah?
####
Kebetulan, Al sudah diizinkan untuk pulang.
Al terlihat sangat senang karena sudah boleh pulang, karena Al tidak suka di rumah sakit di mana Dirinya harus diinfus dan minum obat.
Saat ini, mereka akhirnya tiba di depan rumah Alice.
Alice membiarkan Al masuk ke dalam lebih dulu.
Al yang penurut segera masuk lebih dulu berjalan dengan ceria memasuki rumah yang dia rindukan itu.
Lalu, Alice berkata pada Dokter Kevin,
"Dokter Kevin, terima kasih untuk membantuku dan Al selama ini, dan bahkan repot-repot untuk mengantarkan kami pulang, Dokter benar-benar sangat baik,"
"Tentu saja tidak masalah sama sekali, kamu tidak perlu merasa merepotkan seperti itu,"
Dokter Kevin menunjukan senyumannya pada Alice.
Namun Alice yang menatap senyuman itu segera merasa sedikit tidak enak.
Apalagi mengingat fakta jika pria yang ada di depannya itu sebetulnya memiliki perasaan yang lebih padanya.
Alice tentu saja sudah memikirkannya juga selama beberapa hari ini.
Dirinya jelas tidak ingin mengecewakan pria yang ada di depannya seseorang yang selalu tulus dan baik hati padanya.
Namun dirinya juga tidak ingin terlalu memberikan harapan pada pria yang ada di depannya, karena untuk dirinya, Dokter Kevin lebih seperti seorang Kakak, dan sahabat yang baik untuk dirinya, dirinya tidak pernah memikirkan memiliki perasaan lebih atau hubungan yang lebih dengan Dokter Kevin.
Apalagi, saat ini sejujurnya di hatinya ada orang lain walaupun perasaan itu masih samar...
Yang jelas, sekarang adalah saatnya dirinya memberikan sebuah kejelasan.
"Dokter Kevin, aku sebenarnya ingin membicarakan hal yang penting,"
"Apa yang ingin kamu bicarakan?"
__ADS_1
Alice segera menarik nafas dalam-dalam mencoba memikirkan soal apa yang ingin dirinya katakan.
"Dokter Kevin, sebenarnya aku sudah memikirkan ini sejak beberapa hari lalu soal sesuatu yang Dokter katakan tempo hari, aku merasa, sebaiknya aku segera menegaskan hal ini, Aku benar-benar minta maaf, namun Aku tidak bisa menerima Dokter, aku benar-benar tidak memiliki perasaan seperti itu kepada dokter, dokter sudah aku angkat seperti kak kak dan sahabat baik ku aku benar-benar tidak bisa membalas perasaan yang dokter miliki padaku, Aku benar-benar minta maaf,"
Alice jelas merasa tidak nyaman ketika mengatakan hal hal itu karena mungkin hal itu akan menyakiti pria yang ada di depannya itu namun daripada memberikan sebuah harapan yang tidak ada artinya bukankah lebih baik mengatakan sebuah kejujuran sekarang?
Dokter Kevin jelas tidak menduga tentang hal-hal yang dikatakan oleh Alice itu.
Namun entah kenapa dirinya juga sudah membayangkan soal jawaban yang Alice akan berikan padanya.
Jadi begitu, wanita yang ada di hadapannya ini benar-benar menolaknya.
Hatinya terasa sakit, namun entah kenapa sedikit lega setelah mendengarnya.
Setidaknya perasaan yang dirinya pendam sudah diungkapkan walaupun jawabannya mengecewakan.
"Apakah kamu memiliki orang yang kamu sukai?" Tanya Kevin dengan nada penasaran.
Alice yang ditanya itu, cukup bingung harus menjawab bagaimana namun setidaknya dirinya ingin jujur.
"Ya, Aku memiliki orang yang aku sukai,"
Kevin yang mendengar jawaban itu segera mengangguk.
"Jadi begitu. Aku mengerti sekarang cinta memang tidak bisa dipaksakan, apakah dia yang kamu sukai?"
Alice yang ditanya itu jelas tahu siapa yang dimaksud namun tidak menjawab dan hanya tersenyum.
Kevin buka memilih untuk tidak terlalu banyak bertanya.
Hanya saja...
"Bolehkah Aku setidaknya memelukmu? Yah, angkat saja ini sebuah perpisahan dan agar aku bisa lebih cepat move on,"
Alice yang mendengar permintaan tiba-tiba itu jelas merasa cukup terkejut.
Namun demi menghargai Pria yang ada dihadapannya itu, Alice segera mengaguk setuju.
Dokter Kevin lalu segera memeluk Alice.
Itu hanya sebuah pelukan sederhana, itu juga tidak berlangsung terlalu lama.
Namun sayangnya, ada seseorang yang menatap pemandangan itu.
Justin yang ada di mobilnya, tentu tidak tahu apa yang dibicarakan oleh dua orang itu, namun dirinya melihat bagaimana dua orang itu berpelukan dengan mesra seperti itu.
Sekarang, ketika Jutsin melihat hal ini hatinya terasa sakit.
Ya, Justin paham, ini adalah sebuah rasa cemburu.
Apakah dirinya sudah terlambat?
Apakah Alice ternyata sudah menjadi milik orang lain?
Apakah ini karena dirinya yang bodoh dan terlalu lamban dalam menyadari perasaannya sendiri?
Justin benar-benar merasa cukup frustasi ketika memikirkan semua itu.
Namun jelas, ini bukan saatnya untuk dirinya merasa frustasi.
Bagaimanapun juga dirinya berada di sini untuk bertemu dengan Al.
Bagaimanapun hubungan antara dirinya dan Alice, mereka tetap memiliki Al sebagai Putra mereka, itu adalah sebuah fakta yang tidak akan pernah berubah.
Justin mencoba untuk menguatkan dirinya, lalu keluar dari mobilnya.
Dan disana, dirinya bertemu dengan Dokter Kevin yang sudah hendak pergi.
Tidak ada pertukaran kata-kata ketika mereka berdua bertemu, dan Kevin segera memilih pergi dari tempat itu.
Hanya Alice menjadi sangat terkejut ketika melihat kedatangan Justin.
Sosok wajah, yang sebenarnya sangat dirinya rindukan.
Namun sekarang ketika berhadapan dengannya, Alice menjadi bingung harus bersikap seperti apa.
Ketika mereka saling tatap, ada keheningan sejenak di sana.
Masing-masing memiliki pemikirannya sendiri.
__ADS_1