Terjerat Pesona Ilmuwan Tampan (Gila)

Terjerat Pesona Ilmuwan Tampan (Gila)
Episode 34: Apakah Kamu Papaku?


__ADS_3

Al yang masih kecil itu, jelas merasa sangat seketika dirinya membaca hasil penelitian yang ada di komputer.


Dirinya benar-benar tidak mempercayai jika dirinya ingin hanyalah hasil dari percobaan.


Lihat apakah itu artinya dirinya bukan Putra dari Mamanya dan Papanya?


Atau apakah dirinya benar-benar memiliki Papa dan Mama?


Percobaan apa?


Sebenarnya dirinya itu apa?


Dirinya memang menyadari sejak dirinya masih lebih mudah jika dirinya kini berbeda dari anak-anak lain.


Bahkan sekarang, untuk anak seumuran nya harusnya tidak mungkin untuk bisa melakukan hal-hal semacam ini, namun dirinya sudah bisa melakukan hal-hal semacam ini.


Bahkan mulai sedikit memahami tentang hal-hal yang tidak masuk akal yang dirinya baca.


Ternyata ini semua tidak lebih dari sebuah penelitian.


Jadi, apakah Papanya selama ini hanya berbohong padanya?


Semakin Al memikirkan semua ini hatinya menjadi begitu sedih.


Dirinya jelas harus bertanya langsung kepada orang yang bersangkutan.


Dirinya harus segera mencari cara untuk melarikan diri dari tempat ini.


Namun bagaimana caranya?


Al lalu segera memeriksa lagi ke arah komputer, mencoba mencari peta atau sesuatu yang ada di sana, peta tempat ini misalnya?


Namun sayangnya tidak ada apa-apa di sana selain data penelitian itu.


Al lalu segera mengecek arah pintu keluar.


Hanya ada satu pintu di ruangan ini, yoga tidak ada jendela.


Pintu jelas dijaga dengan ketat.


Namun sekarang bagaimana cara dirinya pergi dari sini?


Al lalu mulai menatap kearah ruangan itu.


Tidak ada apa-apa di sana kecuali alat pemeriksaan, dan ada beberapa jarum suntik.


Al mendatangi meja yang saat ini berisi aneka macam obat.


Hmm, diantara obat-obatan itu, sepertinya ada jarum suntik yang berisi obat bius.


Itu sepertinya obat bius yang sama yang diberikan pada dirinya sebelumnya.


Al sendiri tidak tahu apa yang dilakukan pada tubuhnya ketika dirinya tidak sadar.


Namun jelas sekarang dirinya masih merasakan jika tubuhnya ini terasa tidak nyaman.


Tidak.


Dirinya jelas tidak boleh sampai kehilangan kesadaran lagi.


Al segera mencoba memfokuskan pikiran nya, juga mencoba mencari cara untuk melarikan diri.


Al segera mengambil jarum suntik itu.


Setelahnya, Al mulai berbaring kembali ketempat tidur.


Namun sebelum itu...


Al mulai mencoba berteriak keras, seperti terjadi sesuatu.

__ADS_1


Lalu segera Al pura-pura untuk kembali berbaring.


Dan benar saja, begitu mendengar teriakan yang itu keras dari dalam ruangan, suatu orang yang menjaga tempat itu segera membuka pintu untuk memeriksa apa yang ada di dalam.


Dirinya diberitahukan bahwa hal-hal yang harus dirinya jaga adalah objek yang penting, kak boleh sampai ada apapun yang bisa melukai anak itu.


Jadi, ketika mendengar teriakan jelas dirinya dengan mana tahu itu merupakan efek samping dari penelitian dan pemeriksaan sebelumnya?


Jadi dirinya segera masuk.


Namum ketika dirinya masuk dirinya masih melihat anak itu berbaring di tempat tidur.


Apakah itu berbicara sambil tidur?


Atau sebenarnya terjadi kontraksi atau sesuatu di dalam tubuh anak itu?


Pejaga itu, segera mendekati ke arah Al yang ada di tempat tidur.


Ingin mencoba memeriksa keadaan anak itu takut takut terjadi hal yang buruk.


Namun yang terjadi, ketika Pria itu mulai menyentuh Al, tangannya tiba-tiba mendapatkan sebuah suntikan.


Al segera menjadi bangun dan setelah menyuntik kan obat yang ada di tangannya, dirinya mencoba lari dari penjaga itu.


Beruntung yang menjaga pintu hanyalah satu orang.


Sang penjaga jelas tidak langsung kehilangan kesadaran nya hanya berteriak marah dan mulai mencoba menangkap Al.


Al jelas memberontak ketika ditangkap bahkan menggigit tangan Pria itu, yang mencoba mencegahnya pergi.


Al memberontak cukup lama sampai akhirnya obat itu bereaksi, dan penjaga itu, akhirnya kehilangan kesadaran.


Dari sini, Al akhirnya merasa sangat langka jadi dirinya segera buru-buru keluar dari pintu.


Al dengan hati-hati menelusuri lorong sepi sampai mencari sebuah lift.


Namun dirinya juga merasa tidak aman untuk naik lift.


Yang jelas saat ini dirinya harus menuju ke lantai 15, tempat Papanya berada.


Dirinya jelas harus mendengar sendiri hal hal ini dari mulut Papanya, setidaknya seseorang yang dirinya anggap sebagai Papanya.


Atau...


Dirinya juga tidak tahu sekarang harus seperti apa.


Al segera mengecek ini lantai berapa, sangat beruntung ini sebenarnya hanya lantai 12.


Itu artinya, hanya tinggal naik tangga 3 lantai sampai menuju ke tempat Papanya.


Disisi lainnya, saat ini Justin sedang berada di laboratorium lantai 15, sedang melakukan beberapa percobaan baru.


Percobaan ini ya hanyalah beberapa percobaan yang cukup simpel.


Ya, ini percobaan sedikit berkaitan dengan genetika manusia, yaitu untuk memperlambat perkembangan penuaan gen.


Ini jelas menjadi suatu penelitian yang sangat bagus, yang mungkin memiliki hasil yang lebih baik daripada soal penelitian anak jenius.


Di dunia ini, siapa yang tidak ingin untuk awet muda?


Hal-hal itu memiliki beberapa kemungkinan, untuk memperlambat sel-sel tubuh manusia menjadi lebih tua.


Hal ini memang menjadi sesuatu yang sangat rumit, jadi dirinya membutuhkan banyak fokus untuk bahkan hanya untuk menemukan idenya saja.


Sekarang, dirinya masih belum menemukan petunjuk untuk melakukannya.


Hah.


Dirinya hanya mencoba menggunakan dna-dna yang ada di laboratorium untuk melihat perkembangannya.

__ADS_1


Owh, sungguh ini sudah bukan lagi melihat perkembangan embio lagi oke?


Dirinya sudah inginnya di bermain-main dengan rekayasa genetika semacam itu.


Jadi ketika Justin sedang fokus untuk memikirkan cara penelitiannya itu, tiba-tiba pintu ke ruangannya diketuk oleh seorang.


Justin jelas merasa kesal ketika mendengar ketukan pintu.


Padahal dirinya sudah bilang dengan jelas jika saat ini dirinya tidak bisa diganggu karena itu bisa membiarkan konsentrasi nya untuk mencoba menemukan cara penelitian terbarunya ini.


"Cepatlah masuk itu tidak dikunci," kata Justin dengan ekspresi kesal.


Namun ketika pintu itu dibuka, Justin melihat sosok anak yang familiar yang saat ini mengenalkan baju serba putih, dan memiliki penampilan yang cukup berantakan.


"Al? Kenapa kamu bisa disini?" Kata Justin dengan cemas lalu langsung memeluk anak itu.


Namun Al yang mendapatkan pelukan itu, tidak bersikap seperti biasanya dan malah mencoba untuk lepas dari pelukan itu.


Hal ini, jelas membuat Justin merasa binggung.


"Al? Ada apa denganmu?"


Al segera menatap pria yang ada di hadapannya itu dan segera bertanya,


"Tolong jawab aku dengan jujur!"


Justin ines merasa heran ketika putranya itu mulai bertanya jadi dirinya hanya bisa berkata,


"Apa yang ingin kamu tahu, Al? Jika Aku tahu, Aku akan menjawabnya,"


"Kamu.... Apakah kamu benar-benar Papaku?"


Justin menjadi semakin bingung ketika ditanya itu.


"Apa? Kamu itu jelas merupakan putraku! Siapa yang bilang jika kamu bukan putraku?"


"Aku... Bukankah aku hanya sebuah objek penelitian?"


Justin yang mendengar itu jelas aja langsung menjadi panik.


"Al! Apa yang kamu katakan!"


"Aku... Aku sudah tahu segalanya! Tadi orang-orang dari Laboratorium Papa, yang mengatakan itu padaku! Bahwa aku tidak lebih dari sebuah objek penelitian yang mereka teliti! Bahwa, aku tidak lebih hasil dari penelitian rekayasa genetika yang Papa buat! Ya dijawab aku dengan benar! Sebenarnya aku ini apa?"


Terdengar nada kesedihan penuh rasa frustasi ketika Al mengatakannya.


Hal ini, jelas membuat Justin menjadi semakin bingung dan ikut merasa sedih juga frustasi.


Bagaimana bisa Al tahu soal semua ini?


Jelas ini bukan saat yang tepat untuk memikirkan itu.


Anak ini, sebenarnya lebih pintar daripada yang semua orang kira.


Dirinya mungkin tidak bisa lagi berbohong lebih banyak di depan anak ini.


Namun yang pasti...


"Al, apapun yang orang lain katakan kamu adalah Putraku, ada DNA ku padamu, bagian dari darah daginku, kan walaupun kamu tidak terlahir secara normal, seperti kebanyakannya anak, namun kamu adalah putraku, kamu bukan objek penelitianku lagi. Kamu adalah seorang anak bernama Aleyster Ellison, Putra dari Alice Ellison, juga Putra dari Justin Crownely. Kan walaupun kamu sedikit berbeda kamu tetaplah putra kami, itulah yang kamu harus yakini... Aku adalah Papamu, itu adalah hal yang tidak akan pernah bisa kamu pungkiri,"


Al yang mendengar kata-kata hangat itu segera menjadi menangis, lalu menatap ke arah pria yang ada di depannya itu, dan memeluknya dengan erat.


"Aku... Aku Putramu?"


"Ya, bahkan jika caranya sedikit berbeda... Kamu tetap Putraku yang berharga, kamu adalah Putraku, jadi kamu jangan menangis lagi oke? Sekarang ceritakan padaku tentang apa yang terjadi,"


Al sendiri masih menangis dalam pelukan Justin, masih bingung untuk memulai cerita ini dari mana.


Hanya...

__ADS_1


Ketika dirinya mendegar, jika Pria ini adalah Papanya, perasaannya menjadi begitu hangat.


__ADS_2