Terjerat Pesona Ilmuwan Tampan (Gila)

Terjerat Pesona Ilmuwan Tampan (Gila)
Episode 21: Pemeriksaan


__ADS_3

Hari-hari segera berlalu sejak pertemuan Alice dengan Dokter Kevin.


Dan sekarang, Alice tengah berada di rumah sakit tempat Dokter Kevin bekerja, jelas alasan Alice berada di sini karena dirinya ingin melakukan pemeriksaan kepada Putranya Al.


Jika ini Dokter Kevin, Alice akan percaya padanya, lagipula selama ini ketika dirinya berada di Desa, Dokter Kevin yang selalu menolongnya.


Pertama kali mereka bertemu itu saat Alice baru saja hamil muda, dan malah terpeleset jatuh setelah selesai mengajar di sekolah.


Hari itu, jika tidak ada Dokter Kevin yang menolongnya, Alice sejujurnya tidak tahu bagaimana nasibnya.


Dan setelah hari itu, Dokter Kevin akan selalu baik padanya, dan akan menyapanya jika mereka bertemu, karena klinik tempat Dokter Kevin bekerja kebetulan tidak tahu dari sekolah tempat Alice mengajar, jadi ketika Alice pergi berangkat bekerja atau pulang bekerja dirinya mungkin akan berpapasan dengan dokter itu.


Tidak hanya saat itu, ketika Alice hamil tua, dirinya sempat terlibat beberapa kecelakaan juga yang hampir merenggut nyawa dirinya dan bayinya, namun untungnya ada Dokter Kevin yang saat itu menolongnya.


Dan mulai hari itu hubungan mereka menjadi sangat baik dan berubah menjadi teman yang cukup baik.


Dokter itu juga yang memperkenalkan Airin pada Dokter Kandungan yang hebat, bahkan sampai memberikan uang pinjaman padanya saat melahirkan Al, yang saat itu lahir Prematur dan butuh Inkubator, tentu saja semua biayanya tidak murah.


Jauh dari anggaran yang Alice miliki.


Dan waktu begitu cepat berlalu, ketika Al sudah tumbuh, karena hutangnya, Alice juga jadi sering bertemu dengan Dokter Kevin, begitu pula Al, karena kondisi Al saat masih kecil tidak stabil, Alice juga akan sering periksa kesehatan Al di tempat Dokter Kevin yang memang spesialis anak.


"Mama, kenapa kita pergi ke Rumah Sakit? Al kan tidak sakit,"


Mendengar pertanyaan Putranya itu Alice lalu segera tersenyum dan menjawab,


"Kita pergi ke Rumah Sakit tidak hanya karena sakit, Mama hanya ingin melakukan beberapa pemeriksaan padamu,"


Ketika dengar kata pemeriksaan, jelas Al menjadi sedikit takut, terutama karena Al sangat benci jarum suntik.


"Apakah... Al akan di suntik?"


Alice juga tahu tentang putranya yang sangat benci disuntik itu.


"Tidak apa-apa ini hanya pemeriksaan kecil dan tidak akan sakit,"


Al kera menunjukkan ekspresi cemberut dan berkata,


"Al tidak ingin disuntik!!" Kata Al yang saat ini masih menunjukkan ekspresi tidak senang.


"Al, kamu jangan seperti itu,"


"Tapi ketika Al masih kecil, Al sangat sering disuntik dan melakukan pemeriksaan, sekarang Al udah tidak mau lagi diperiksa karena Al sudah sehat,"


Mendengar kata-kata dari putranya itu, Alice jelas merasa cukup sedih.


Dirinya sedang berpikir tentang bagaimana cara meyakinkan putranya itu.


"Nanti Dokter Kevin yang akan memeriksa, bukankah biasanya tidak apa-apa dengan Dokter Kevin?"


Al saat ini masih tetap menunjukkan wajah cemberut dan berkata,


"Al memang suka Dokter Kevin untuk diajak bermain, namun Al tidak suka jika harus diperiksa oleh Dokter dan di Suntik!"


"Al sayang, kamu tidak bisa seperti ini,"


Mendengar Mamanya itu bersikeras ingin membawa Al masuk Al jelas protes.


"Tidak Mau! Tidak Mau! Al tidak mau di suntik!" Kata Al terlihat memberontak dan mencoba melepaskan genggaman tangan Alice.


Jika seperti itu, Al benar-benar terlihat seperti anak seumurannya.


"Al, percayalah nanti tidak sakit,"

__ADS_1


"Mama jangan mencoba untuk membohongiku, Al tahu jika itu sakit!"


"Hah, ini hanya seperti digigit semut,"


"Tapi di gigit semut juga sakit,"


"Ini hanya rasa sakit sebentar. Begini saja, nanti telah melakukan pemeriksaan, Mama akan memberikanmu permen kapas dan es krim?"


Al masih menunjukkan ekspresi wajah cemberut dan berkata lagi,


"Hpmh, Mama jangan mencoba menunjukku seperti itu seperti anak lain, Al tetap tidak akan tertipu, Al tetap tidak mau di suntik, bahkan walaupun diberikan permen atau es krim,"


"Al, sungguh jangan seperti ini menurut lah sebentar pada Mama,"


Alice tetap mencoba menyeret putranya itu masuk namun putranya masih keras kepala dan sekarang karena Alice sedikit lengah, genggaman tangannya lepas dari Al.


Al jelas lari melarikan diri.


"Al, tunggu! Kamu jangan pergi jauh-jauh seperti itu!"


Saat ini mereka ada di parkiran dalam dan untungnya tempat itu cukup sepi.


Al berlari agak jauh dari Alice lalu segera berkata dari jauh,


"Al pokoknya kita ingin pemeriksaan dan tidak ingin disuntik titik! Al akan bersembunyi jika Mama masih memaksa Al!"


Alice mencoba mengejar Putaranya itu, yang saat ini malah berputar-putar di tempat parkir, membuat Alice merasa kewalahan untuk mengejar anak itu.


Putranya Al benar-benar sangat energik, dan lari begitu cepat.


"Aleyster Ellison!! Kamu jangan seperti ini! Ah! Awas Al!"


Sampai Al ternyata tidak memperhatikan jalan, hampir saja Al terserempet mobil yang hendak parkir di sana.


Namun tetap saja, Al yang kaget malah terjatuh.


Alice segera mendatangi putranya itu.


Al tentu tidak mengais, hanya merasa cukup kesal karena dirinya tertangkap.


Sang pemilik mobil segera keluar dari sana, cukup terkejut juga ketika melihat siapa yang hampir dirinya tabrak itu.


Begitu pula dengan Alice yang tidak akan pernah mengira bisa bertemu dengan pria itu di tempat ini.


Ada dua orang yang keluar dari mobil, itu adalah Justin dan seorang wanita.


"Kenapa kamu disini? Jangan bilang kamu disini untuk memata-matain Aku dan Al?" Tanya Alice dengan ekspresi penuh kecurigaan.


Justin yang mendengar tuduhan itu jelas langsung menunjukkan ekspresi kesal,


"Menurutmu aku ini orang yang cukup kurang kerjaan sampai-sampai memata-mataimu? Aku hanya kebetulan ada urusan di Rumah Sakit ini, lihat Aku datang dengan Asistenku, Lisa. Benar bukan aku di sini sedang ada urusan?"


Seorang wanita yang dari tadi diam itu segera berkata,


"Benar, Tuan Muda Justin memang saat ini ada urusan di Rumah Sakit ini, dan lagi, kamu jangan sembarang menuduh Tuan Muda, apakah kamu pikir kamu layak untuk diikuti oleh Tuan Muda Justin?" Kata Lisa dengan nada yang cukup sinis.


"Hpmh, Tuan Mudamu itu memang seorang Stalker, tanya saja pada orangnya!"


Lisa yang mendengar atasannya itu baru saja dihina, jelas menjadi marah.


"Apa barusan kamu bilang? Kamu itu sungguh tidak sopan!"


Justin selalu melihat tentang bagaimana kedua wanita itu malah bertengkar.

__ADS_1


"Lisa, udah jangan lagi kamu banyak berbicara kembalilah masuk ke dalam mobil biar aku yang mengurus dua orang ini," kata Justin segera mencoba membantu Al yang jatuh itu.


Lisa terlihat tidak suka setelah mendengar kata atasannya itu.


Kenapa malah dirinya yang dimarahi?


Bukannya wanita di depannya ini?


Siapa sebenarnya wanita itu!


Yang dirinya tahu, atasannya ini tidak pernah memiliki hubungan dengan wanita manapun.


Dan sekarang, dia malah terlihat membela seorang wanita?


Bagaimana ini bisa terjadi?


"Papa, sudah tidak apa-apa," kata Al yang dibantu Justin untuk berdiri itu.


Dan baru sekarang, Lisa melihat wajah anak kecil itu dengan jelas.


Wajah seorang anak kecil yang cukup mirip dengan atasannya.


Astaga...


Jadi ini ojek penelitian yang atasannya cari?


Jadi begitu, alasan kenapa atasannya ini baik kepada mereka berdua karena ini semua demi kelancaran Penelitiannya?


Namun, Lisa mulai merasa jika pendekatan dari Atasannya itu terlalu lambat.


"Lisa, aku sudah bilang kamu sebaiknya masuk ke dalam mobil,"


Lisa yang mendengar itu, tidak mau segera masuk ke dalam mobil dan hanya bisa menatap kesal kepada sepasang Ibu dan Anak itu.


Kalian berdua boleh saja sekarang senang, lihat saja ketika semua penelitian ini akhirnya selesai, paling-paling sepasang Ibu dan anak itu tidak akan lagi diperhatikan oleh Tuan Muda Justin.


Setelah Lisa masuk, Alice lalu segera berkata dengan marah pada Justin,


"Sudahlah kamu sekarang kembali saja ke mobil, cepat selesaikan urusan ungu aku juga memiliki urusan di sini,"


Al jelas melihat bagaimana Mamanya ingin mengusir Papanya itu, merasa tidak senang.


Dan lagi, Al ingat tentang bagaimana Mamanya ingin melakukan pemeriksaan dan suntikan.


Ini tidak bisa dibiarkan!


Mengambil kesempatan ini, karena kebetulan Papanya ada disini, Al segera berkata,


"Papa... Biarkan Al ikut Papa, Mama barunya ingin mengajak Al periksa kesehatan dan di suntik, Al tidak mau disuntik,"


Justin jelas cukup kaget ketika mendengar putranya itu akan diperiksa, segera bertanya dengan cemas ke arah Alice.


"Apa Al sakit? Kenapa kamu tidak memberitahuku astaga, sakit apa dia?"


Jelas Justin menjadi cukup panik dan cemas ketika mendengar itu.


Alice sejujurnya merasa cukup heran dan kakek melihat respon pria di depannya itu yang terlihat sekali menunjukkan kepedulian kepada Al.


Bukankah Al hanya objek penelitian mu?


Kenapa seolah-olah kamu benar-benar terlihat peduli?


Apakah itu hanya sebuah akting?

__ADS_1


__ADS_2