
Abraham Crownely menatap kearah Lisa yang hendak akan memberikan suatu obat tertentu dari jarum suntik ke arah anak kecil hasil dari Percobaan itu.
Dirinya juga mendengar tentang bagaimana salah satu ilmuwan lain mengatakan bahwa obat yang akan disuntikkan kali ini memiliki efek sampingnya mungkin cukup buruk.
Hal ini jelas membuat dirinya sedikit khawatir dan cemas.
"Tunggu, Lisa. Kamu jangan suntikan obat itu,"
Lisa yang hampir saja menyuntik Al, the last menjadi kaget dan heran ketika mendengar Ayah Justin mencegah dirinya untuk menyuntikkan obat anak ini.
Jangan bilang, karena wajah anak ini mirip dengan Tuan Muda Justin, Tuan Abraham juga terpengaruh oleh nya sama seperti Putranya itu pengaruh dengan anak kecil ini?
Sungguh, hasil macam itu tidak boleh diijinkan.
"Tapi Tuan, ini cukup penting untuk menguji kekebalan dari anak ini,"
Abraham yang mendengar itu hanya menghela nafas lalu berkata,
"Aku tahu itu penting, namun anak itu adalah objek penelitian yang sangat berharga, bagaimana jika terjadi kesalahan sampai membahayakan nyawa anak itu? Bukankah itu artinya semua percobaan ini akan sia-sia? Semua percobaan tanpa hasil dan bukti konkrit, tidak ada artinya, bukti dari percobaan ini adalah anak ini sendiri, jika sampai terjadi sesuatu padanya, hasil dari semua penelitian dan laporan laporan kita itu, hanya menjadi sebuah lembar kertas kosong yang tidak ada artinya dan tidak ada maknanya, jadi menurutku sangat sial sial mengambil resiko yang terlalu besar untuk memberikan obat itu."
Lisa yang mendengarkan itu cukup terkejut karena apa yang dikatakan oleh Tuan Abraham itu memang ada benarnya.
Anak ini sendiri adalah suatu objek penelitian yang penting pasti bahwa penelitian itu sukses karena jika tidak ada anak ini bahkan semua hadits penelitian yang mereka kumpulkan hijau ini tidak akan ada makanannya
Lisa segara memberikan jarum suntik tangannya ke salah satu peneliti untuk disimpan, memutuskan untuk membatalkan soal pemberian obat ini.
Mari sebisa mungkin hindari yang memiliki efek samping.
Anak ini masih begitu kecil dan juga wajah jika kekebalan nya atau tubuhnya belum tumbuh dengan baik, sangat rawan terjadi sebuah kecelakaan dengan tubuh sekecil itu.
Tubuh yang saat ini masih sangat rapuh.
"Tuan ada benarnya juga." Kata Lisa dengan tenang kepada atasannya itu.
Lalu dirinya menatap kearah anak buahnya, dan berkata lagi,
"Baiklah aku rasa untuk hari ini, cukup cek dulu saja soal kesehatan dan informasi apapun soal tubuhnya yang bisa diambil dari anak itu, tidak perlu memberikan obat-obatan yang memiliki resiko tinggi, apa kalian paham?"
Para peneliti lainnya itu segera mengangguk setuju atas keputusan itu.
Setelah, alat pendeteksi detak jantung, segera dilepas dari tubuh kecil itu, lalu itu segera dibawa ke mesin pemeriksaan lainnya.
Abraham masih menatap soal bagaimana pengambilan informasi itu berlanjut.
Jam sudah menunjukan pukul satu siang, sebenarnya baru satu jam lebih sedikit ketika pemeriksaan itu di mulai.
Saat ini, semua orang juga cukup lelah.
"Baiklah, aku rasa sebaiknya kita beristirahat dulu. Letakan Al di tempat yang aman, jangan sampai dia ditemukan oleh Tuan Muda Justin, apa kalian mengerti?"
Abraham cukup heran ketika Lisa memberikan perintah itu, jadi dirinya secara bertanya,
"Apa maksudmu soal putra aku tidak tahu?"
Lisa yang ditanya itu menjadi sedikit bingung.
"Tidak, benar-benar tidak ada maksud apa-apa hanya saja, saat ini Tuan Muda dan sibuk dengan penelitian lainnya jadi dia memberikan tugas ini kepada kami dan kami tidak boleh mengganggu Tuan Muda dengan penelitian barunya."
"Apa? Bukankah penelitian ini sangat penting?"
"Ini memang penting namun, Tuan Muda memang seperti itu."
"Baiklah, Aku mengerti." Kata Abraham terlihat mengerti dengan situasi.
"Apakah anda akan menunggu atau..."
"Aku akan di sini sampai nanti sore, bentar aku akan menuju ke ruang istirahat untuk makan siang,"
"Baik Tuan,"
Dengan itu para peneliti segera dibubarkan, dan Al yang saat ini masih kehilangan kesadaran dibiarkan untuk berada dalam ruangan itu.
Namum tentu saja kunci menuju pintu ruangan itu sudah diamankan bahkan dijaga dengan baik untuk memastikan anak itu tidak keluar.
__ADS_1
Sayangnya, Al yang ada didalam dan ditinggal pergi oleh semua orang itu akhirnya membuka matanya.
Hal pertama yang dirinya cari adalah di mana jang tangannya berada agar dirinya setidaknya bisa menghubungi orang.
Sangat beruntung, jam tangannya segera ditemukan setelah itu.
Namun sayang sekali tidak ditemukan sinyal.
Al dengan putus asa mencoba mencari sinyal.
Samapi dirinya tiba di ujung ruangan, dan menerima sinyal wifi.
Tepat setelah itu, Al dengan takut segera menghubungi Mamanya dengan panggilan suara.
Di tempat lainnya, saat ini Alice masih berada di salah satu restoran sedang menikmati makan siangnya dengan Dokter Kevin.
Itu adalah saat jam makan siang jadi wajar jika restoran itu cukup penuh, dan mengantri cukup lama hingga makanan-makanan yang Alice pesan datang cukup terlambat.
"Makanan di sini ternyata enak, ampun andriannya agak lama,"
Kevin yang mendengar itu lalu segera tersenyum dan berkata,
"Ya, aku dan teman-temanku sering pergi ke sini inilah kenapa aku merekomendasikan pergi ke tempat ini menu di sini sangat lengkap dan juga enak,"
Dua orang itu benar-benar terlihat sangat menikmati percakapan mereka, juga menikmati berbagai hidangan yang ada di depan mereka.
Sampai Alice tiba-tiba menerima sebuah telepon, itu dari Al.
Alice jelas langsung mengangkat telepon itu mungkin saja putranya itu sudah akan pulang?
Namun apa yang di dengarnya sangat mengejutkan.
Itu adalah suara menangis dari Putranya.
"Mama... Al takut..."
Alice bisa mendengar suara tangis tersedu-sedu itu, jelas menjadi panik dan kaget.
"Mama... Aku ... Aku ada di Laboratorium C... Tempat Papa bekerja, tapi orang-orang disini melakukan hal aneh padaku, Aku takut... Mama..."
Namun telepon itu segera terputus, karena sinyal yang Al dapatkan segera hilang.
Hal ini, jelas membuat Alice yang berada di restoran menjadi semakin cemas.
Kevin last melihat ekspresi wanita yang ada di depannya itu segera menjadi cemas dan khawatir.
"Ada apa?"
Alice dengan panik segera berkata,
"Al ... Saat ini dia berada dalam situasi kurang baik, hah Justin itu... Dia benar-benar tidak bisa dipercaya sampah gila itu berani beraninya dia membawa Al ke Laboratorium."
Kevin jelas merasa bingung tentang apa yang terjadi.
"Apa maksudmu?"
"Dokter, aku tidak memiliki waktu untuk menjelaskannya namun jika bisa apakah Dokter bisa menemaniku ke suatu tempat?"
Kevin segera mengangguk dan berkata,
"Tentu saja aku akan mengantar mau kemana saja."
Setelahnya mereka segera membayar dan keluar dari restoran itu menuju ke arah mobil Kevin.
Ketika sampai di mobil, Kevin negara bertanya pada wanita yang ada di sampingnya itu.
"Sebenarnya kita ke mana?"
"C New Laboratorium,"
Kevin yang mendengar itu segera kaget.
"Huh? Kenapa pergi ke tempat itu?"
__ADS_1
"Al disana, itu adalah Laboratorium milik Justin. Sial, aku tidak pernah mengira jika pria itu bisa begitu tega, sial ... path bahwa aku ke sana aku benar-benar tidak dalam mood untuk menjelaskan semua ini,"
Alice benar-benar merasa marah dan penuh dengan kecemasan.
Dirinya tidak mengira soal kepercayaan yang dirinya berikan kepada Justin, akan dikhianati seperti ini.
Dirinya bisa mendengar dari suara putranya yang menangis dan ketakutan tadi.
Pasti para Ilmuwan Gila itu, saat ini sedang melakukan percobaan pada putranya itu.
Orang-orang yang tidak memiliki hati bahan kepada anak kecil.
Al biasanya jarang menangis namun sampai putranya menangis seperti itu hal hal itu mungkin lebih buruk daripada yang dirinya kira.
Semakin Alice memikirkannya dirinya menjadi semakin sedih, hatinya begitu hancur, orang yang dirinya sangat percaya i bisa menghianati nya seperti itu...
Dan kenapa bisa dirinya bisa-bisanya menyukai si penghianat gila itu?
Alice benar-benar sangat menyesal.
Dirinya tidak pernah mengira jika selama ini dirinya benar-benar tertipu dan terjerat dengan pesona Ilmuwan Tampan Gila itu.
Pesona yang mematikan yang penuh dengan tipu muslihat...
Dan sekarang, Al harus mengalami hal buruk karena dirinya yang pali plan.
Al....
Semoga kamu baik-baik saja...
####
Di dalam Laboratorium itu, Al yang kehilangan sinyal itu jelas aja menjadi panik.
Namun, berapa kali pun dirinya mencoba mencari sinyal hasilnya tidak ada.
Lalu Al ingat jika Papanya tadi suatu tempat di Gedung ini.
Al memiliki ingatan yang cukup baik.
Kalau tidak salah tadi salah satu peneliti bilang jika, Papanya ada di lantai 15.
Ya!
Papanya sepertinya tidak tahu soal ini semua, soal hal-hal apa yang dilakukan oleh anak buahnya!
Namun, apa yang dikatakan oleh Tante Lisa tadi soal penelitian...
Al yang cemas itu segera menatap ke arah komputer yang ada di ruangan itu, oh sepertinya tempat dimana semua data ada.
Al sebenarnya cukup andai mengunakan hal-hal semacam itu namun memang dirinya tidak pernah menunjukkan nya kepada orang-orang.
Degan teliti, Al mencoba mencari data yang ada di komputer itu.
Mengetik namanya, di dalam dalam data base.
isi dari hal itu jelas tidak bisa dipercayai.
'Ojek Penelitian 014, Aleyster Ellison. Penelitian Rekayasa Genetika. Ini di mulai Tahun.. 2XXX,'
Ini...
Tujuh tahun lalu...
Al mulai membaca data penelitian itu dan benar-benar tidak mempercayai hal yang dirinya temukan....
Tidak...
Tidak...
Ini tidak mungkin...
Dirinya hanya hasil dari penelitian?
__ADS_1