
Sampia tiba-tiba Al, yang berada di dalam karena melihat Mamanya tidak kunjung masuk jadi dirinya segera keluar, dan ketika melihat Justin, Al segera datang dan ingin memeluknya.
"Papa? Papa datang! Al sangat merindukan Papa!"
Justin lalu segera mengalihkan tatapannya pada si kecil, putranya yang paling lucu dan imut.
dan sekarang ketika melihat putranya masih begitu ceria seperti itu, Jutsin hidungnya bisa merasa lega ketika mengingat tujuannya datang ke situ.
Justin segera memeluk Al dengan erat.
Alice kali ini tidak mengatakan apa-apa ketika dua orang itu saling berpelukan.
Justin juga melihat bagaimana Alice terlihat udah tidak marah lagi padanya.
Atau ini hanya karena Al saja?
Al lalu melihat bagaimana Papa dan Mamanya itu, saling menatap dalam canggung.
Al lupakan anak yang cerdik jadi tentu saja dirinya segera membaca situasi.
Al melepaskan pelukan Papanya itu dan segera berkata,
"Emm, Al pikir... Papa dan Mama butuh untuk berbicara berdua? Baiklah, Al akan masuk? Oke? Al baik-baik saja, jelaskan berbicara berdua lalu panggil Al ketika sudah selesai,"
Al yang datang itu segera mengedipkan matanya pada Justin, seolah-olah sedang memberi kode.
Justin merasa entah bagaimana sedikit tidak mengerti dengan kode dari Putra nya itu.
Ya, hanya sepertinya, Al masih memberikan respon positif jika dirinya bisa memiliki hubungan dengan Mamanya.
Namun Alice berpelukan dengan Dokter itu, apakah itu artinya mereka berdua memiliki sebuah hubungan?
Kalau dilihat-lihat interaksi akrab antara mereka berdua, belum lagi mereka berdua yang selama ini terlihat pergi ke mana-mana bersama-sama.
Semakin Justin memikirkannya, perasaanya menjadi cukup rumit, ya dirinya jelas merasa sangat cemburu ketika Alice bersama orang lain.
Dan sekarang hanya ada mereka berdua di sana.
Keduanya lagi-lagi saling bertatapan dalam diam, masih bingung untuk mengatakan apa.
Namun segera, Justin membuka percakapan lebih dulu.
"Aku sebenarnya ke sini karena khawatir tentang keadaan Al, aku dengar dia jatuh sakit,"
Alice segera menjawab pertanyaan itu,
"Al baru saja keluar dari rumah sakit dan saat ini keadaannya benar-benar sehat sudah tidak apa-apa lagi kamu tidak perlu khawatir,"
Lalu segera ada keheningan lagi.
Justin mulai menarik nafasnya dan menenangkan dirinya untuk bersiap mengatakan tentang hal-hal yang terjadi hari itu.
"Alice, aku juga ingin minta maaf padamu. Karena aku yang ceroboh dan tidak bisa mengatur bawahanku sehingga indisen itu bisa meimpa Al, namun sungguh bukan maksudku untuk membawa Al ke Laboratorium, ini hanya ulah salah satu bawahanku yang menentangku. Namun aku juga tidak bisa menyalahkan mereka lagi pula akulah yang awalnya bertanggung jawab atas penelitian ini,"
"Ya, aku sudah dengar dari Al sebelumnya," kata Alice dengan tenang.
"Namun tetap saja ini sebagian adalah salahku. Alice, sejujurnya aku ingin minta maaf padamu atau kepada Al soal apa yang telah aku lakukan selama ini yaitu tentang melakukan penelitian diam-diam kepada Al, aku yang memanfaatkan kebaikan kalian berdua dan memanfaatkan kepolosan anak itu untuk mengambil keuntungan demi diriku sendiri. Aku tahu kamu marah jadi yang bisa aku lakukan adalah untuk menerimanya namun sekali lagi aku ingin minta maaf, juga kamu harus yakin aku benar-benar sudah menghapus seluruh data penelitian itu dan akan membatalkan penelitian itu dan akan kupastikan juga tidak akan ada orang yang akan mengungkit-ngungkit soal dan penelitian itu,"
Justin mengatakan itu dengan nada bersalah, terlihat jelas ada rasa penyesalan tentang hal-hal yang telah dia lakukan sebelumnya namu Justin masih melanjutkan kata-katanya,
"Kamu mungkin akan marah padaku dan tidak memaafkanku namun satu hal yang aku minta padamu, setidaknya biarkan Aku tetap bisa bertemu dengan Al, saat ini aku sungguh-sungguh menyayanginya, dia adalah sesuatu yang sangat berharga untukku,"
Alice yang mendengar pengakuan Justin, Alice merasa cukup terkejut, dirinya jelas sudah mendengar sebelumnya dari Al, namun ketika kata-kata itu keluar dari mulut pria yang ada di depannya jelas semuanya terasa berbeda.
Dari kata-katanya dirinya juga bisa melihat ada ketulusan di sana.
Sebuah ketulusan bahwa pria yang ada di depannya itu sebenarnya benar-benar sangat menyayangi putranya Al, menganggap hal sebagai sesuatu yang sangat berharga.
Alice sejujurnya merasa sangat terharu perasaannya menjadi hangat ketika pria yang ada di depannya itu mengatakan itu.
Dirinya juga tidak ingin menjadi begitu keras kepala dan egois, yang mengingkari apa yang hatinya inginkan.
Jadi, Alice segera berkata,
"Ya, aku akan memaafkanmu, kamu selalu boleh bertemu dengan Al, Mari lupakan saja semua kejadian di masa lalu dan mulai membuka lembaran baru,"
Justin sebenarnya merasa sangat terkejut ketika mendengar kata-kata itu keluar dari mulut wanita yang ada di depannya padahal dirinya pikir setelah dirinya mengakui kesalahannya setidaknya dirinya akan kena marah atau minimal kena tampar.
Namun ternyata wanita yang ada di hadapannya itu tidak menuntut penjelasan apapun bahkan sudah tidak lagi menunjukkan kemarahan kemarahan seperti hari-hari yang lalu dan hanya memaafkannya begitu saja.
Justin tiba-tiba merasa begitu gembira dan tanpa sadar segera memeluk Alice.
Alice jelas merasa cukup kaget ketika mendapatkan pelukan yang tiba-tiba itu, rasanya jantungnya berdebar sangat keras, pelukan ini benar-benar terasa sangat berbeda dari pelukan Dokter Kevin, tentukan tinggi benda-benda terasa sangat hangat dan membuat dirinya terasa sangat senang ya bagaimanapun juga ini adalah pelukan dari seorang pria yang sangat dirinya sukai.
Pelukan ini benar-benar mengkonfirmasi perasaan Alice, dan membuat Alice merasa malu sendiri.
Justin yang menyadari tindakannya yang memalukan memeluk Alice itu, segera melepaskan pelukannya, lalu ketika tatapan mereka bertemu keduanya merasa canggung satu sama lain.
"Aku... Aku minta maaf. Aku hanya merasa sangat senang ketika kamu memaafkanku dan mengizinkan Aku bertemu dengan Al, Aku tahu aku lancang memelukmu yang sudah milik orang lain itu,"
Alice yang mendengar itu jelas merasa bingung.
"Milik orang lain apa?"
"Bukankah kamu Kekasih Dokter Kevin?"
Alice yang mendengar itu segera tertawa dan berkata,
"Apa? Aku tidak memiliki hubungan semacam itu dengan Dokter Kevin, kami hanya sebatas teman tidak lebih,"
__ADS_1
"Lalu tadi aku lihat kalian berpelukan,"
Alice yang mendengar itu, cukup terkejut karena pria yang ada di depannya ini tadi sempat melihatnya.
"Ah, itu sebenarnya adalah sebuah pelukan perpisahan, setelah semua Aku baru saja menolak Dokter Kevin,"
Justin yang mendengar itu entah kenapa menjadi sangat gembira.
"Kamu... Kamu benar-benar menolaknya? Dan tidak memiliki hubungan semacam itu dengannya?"
"Ya, Aku bukan milik siapa-siapa,"
Justin terlalu senang hingga dirinya tiba-tiba berbicara secara refleks.
"Lalu, maukah kamu menjadi milikku?"
Alice yang mendengar kata-kata itu segera menjadi kaget.
Justin juga menyadari kata-katanya barusan itu yang benar-benar sangat tidak masuk akal.
Memang benar dirinya ingin mengungkapkan perasaannya namun mulutnya ini benar-benar tidak bisa dijaga Kenapa harus mengatakannya di saat seperti ini?
Bukankah sebaiknya harus ada acara romantis di sebuah restoran mewah atau sesuatu?
Justin merasa sangat malu namun hal-hal ini sudah terlanjur dikatakan.
Alice sendiri tidak tahu bagaimana cara menjawabnya, ini sungguh terlalu tiba-tiba.
Tatapan mereka sekali lagi bertemu.
Justin menatap wanita yang ada di depannya itu dengan interes.
Lalu mulai berkata lagi,
"Aku akan menciummu, Jika kamu membencinya kamu bisa menolakku dan mendorongku atau bahkan menamparku,"
Lagi-lagi Ini adalah sebuah tindakan imklusif.
Justin mulai segera mendekatkan wajahnya, tidak ada penolakan bahkan sampai bibir mereka bertemu.
Melihat tidak ada penolakan itu yang berarti jawabannya Iya membuat Justin merasa sangat senang.
Mungkin karena terbawa suasana, keduanya mulai berciuman dengan lebih agresif.
Mereka berciuman, sekolah dunia benar-benar hanya milik berdua.
Sampai, keduanya hampir kehabisan nafas barulah ciuman itu dilepaskan.
Sekarang keduanya segera saling bertatapan.
Justin yang paling pertama mengatakan ini,
"Apakah ini artinya, kamu ingin menjadi milikku?"
Alice tidak pernah menggila jika bukannya dinyatakan cinta dengan romantis namun dirinya malah langsung tiba-tiba dicium seperti itu.
Justin benar-benar gila!
Namun begitulah dirinya, Alice sadar jika dirinya memang sudah terlanjur terjerat dalam pesona Ilmuwan Tampan itu, yang juga sedikit gila dan tidak masuk akal.
Ya?
Mau bagaimana lagi, dirinya benar-benar tidak bisa keluar dari jeratan ilmuwan tampan gila yang ada di depannya itu.
Terlalu memukau untuk ditinggalkan.
"Bukankah kamu seharusnya mengatakan sesuatu yang paling penting dulu sebelum menunggu jawabanku?" Kata Alice lagi.
Justin lalu segera berkata dengan pasti,
"Alice, Aku sangat mencintaimu, Aku ingin kamu menjadi milikku. Maukah kamu bersamaku selamanya? Nanti kita akan membuat adik untuk Al, kamu tahu, bahkan dengan cara manual, Aku yakin kita berdua akan bisa membuat adik yang lucu dan jenius seperti Al, Aku yakin Al menjadi pintar dan lucu seperti itu, karena dia memiliki gen dariku, Gen ku memang memiliki kualitas yang sangat baik setelah semua,"
Alice yang mendengar kata-kata itu jelas merasa sangat terkejut dan juga syok namun dirinya juga segera tertawa.
Ya, inilah Justin Crownely yang dirinya suka.
Sang Ilmuwan Tampan yang agak Gila, dan begitulah cara dia mengungkapkan perasaannya benar-benar sangat cocok dengan reputasinya.
Wajah Tampan dan kepintaran yang di sia-siakan karena sifat gilanya.
Namun, Alice merasa semakin menyukai pria yang ada di depannya itu.
Dirinya sudah terjerat terlalu dalam pada pesona pria itu.
"Aku juga mencintaimu, Justin. Aku mau menjadi milikmu. Dan lagi Bukankah terlalu buru-buru untuk membuat adik untuk Al? Kenapa kamu itu mengenakan hal omong kosong seperti itu? Setidaknya kita harus menikah dulu,"
Alice jelas merasa sangat malu dan wajahnya menjadi sangat merah ketika mengatakan semua itu.
Namun itu juga karena Justin, Bagaimana bisa dia menyatakan cintanya dan bahkan langsung meminta membuat adik untuk Al?
Justin melihat wanita yang ada di depannya itu terlihat sangat manis dan membuat dirinya gemas ingin menciumnya sekali lagi.
"Bolehkah Aku menciummu?"
"Ke... Kenapa kamu sangat suka mencium?"
"Apa? Ini sebenarnya adalah ciuman pertamaku, Aku tahu kamu mungkin tidak mempercayainya,"
"Ini... Ini sebenarnya adalah ciuman pertamaku," kata Alice lagi.
__ADS_1
Justin lalu segera tertawa,
"Ah? Kamu bahkan sudah memiliki seorang anak, namun belum pernah berciuman?"
Alice jelas merasa marah dan memukuli Justin.
"Kamu bodoh!"
Namun keduanya, tetap segera langsung berciuman, itu adalah ciuman yang cukup panas.
Ciuman penuh cinta satu sama lainnya.
Alice mulai melingkarkan tangannya di leher Justin, terbawa dalam irama ciuman itu.
Mereka berciuman berkali-kali, lagi dan lagi.
Ketika ciuman terlepas, Alice akan menatap Pria didepannya ini, yang saat ini masih mengenakan Jas Laboratorium, terlihat sangat keren dan tampan.
Dan sekarang Pria itu menjadi miliknya...
Ini adalah sebuah kebahagiaan.
Keduanya, terlalu tenggelam dalam kesenangan mereka.
Sampai Al, yang ada di dalam merasa tidak sabar karena menunggu dua orang itu tidak kunjung masuk.
Al menjadi terkejut ketika melihat Mama dan Papanya itu sekarang saling berpelukan dan saling tatap satu sama lain terlihat mesra itu.
Al secara respon berkata,
"Ah? Apakah Mama dan Papa akhirnya berbaikan?"
Al terlihat sangat ceria ketika mengatakan itu benar-benar merasa senang melihat dua orang itu akhirnya memiliki hubungan yang baik.
Alice dan Justin segera menatap ke arah Al, dan kemudian merasa cukup malu karena tindakan mereka barusan yang terlalu agresif.
Alice segera melepaskan tangannya dari leher Justin.
Justin segera mendatagi, Al dan berkata,
"Benar, sekarang Papa dan Mama Al, sudah baikan dan kita bertiga akan menjadi sebuah keluarga Setelah ini,"
"Benarkah Papa?"
Justin segera tersenyum dan berkata lagi,
"Tentu saja, kita akan menjadi keluarga yang lengkap dan di masa depan Al akan bisa tinggal bersama Papa dan Mama, dan bahkan Al akan memiliki seorang adik,"
Al jelas merasa sangat gembira bahkan dirinya tidak pernah memikirkan untuk bisa memiliki seorang adik!
Jelas, Al akan sangat senang jika bisa memiliki seorang adik.
"Al akan memiliki seorang adik? Benar?"
Alice rasanya ingin memukul Justin karena telah berbicara omong kosong kepada putranya itu!
Sungguh!
Adik apa!
Dasar Gila!
Akhhh....
Alice bahkan terlalu malu untuk memikirkannya saja.
"Benar, Al. Kita akan segera menjadi keluarga lengkap nantikan saja, Mari sekarang kita masuk ke dalam,"
Justin lalu segera mengedipkan mata kearah Alice.
Ya, Ini adalah sebuah awal dari kebahagiaan baru untuk keluarga kecil itu.
Walaupun ini baru awal sebuah hubungan, namun dua orang itu sepertinya cukup percaya pada perasaan mereka bahwa kedepannya semuanya akan berjalan dengan baik, dan mereka akan bisa menikah tanpa hambatan.
Lalu mereka akan bisa untuk tinggal bersama sebagai sebuah keluarga lengkap, sebuah Keluarga adalah sesuatu yang sangat berharga lebih dari apapun.
Tidak bisa dibandingkan jika hanya dengan sebuah hasil penelitian.
Justin telah menemukan harta berharga miliknya, orang yang dia cintai, juga Putranya yang dia sayangi.
Sesuatu yang lebih berharga daripada semua penelitian yang pernah dia lakukan.
Justin, merasa keputusannya tidak buruk dengan ini dirinya akan mendapatkan kebahagiaan bersama dengan Alice dan Al.
Sebuah kebahagiaan yang tidak akan pernah dirinya kira sebelumnya.
Ya, siapa yang mengira dirinya yang masih perjaka ini sudah memiliki anak sebentar Al?
Begitulah awal kehidupan bahagia mereka bertiga.
...*****...
...TAMAT...
...*****...
Catatan Penulis: Terimakasih atas dukungannya selama ini, terima kasih juga telah membaca sejauh ini. Sangat lega akhirnya bisa menamatkan cerita ini, 🤣🤣🤣
Pokoknya, terima kasih semuanya, para pembaca sekalian, nantikan ceritaku berikutnya, jangan lupa tinggalkan jejak, 😊😊
__ADS_1
Cek Profilku untuk melihat Cerita-cerita lainnya.
Terimakasih 😊😊😊