
Alice coba untuk menghilangkan pikiran konyol tentangg dirinya yang terpesona pada Justin.
Ya, ini benar-benar salah dari wajah tampan untuk kenapa dirinya bisa seperti ini.
Hah, sungguh wajah tampan yang percuma, sayangnya otaknya gila.
Hari itu, tidak banyak hal lain yang terjadi, Alice juga tidak lagi memprotes tentang hal-hal yang Justin lakukan, ataupun mencegah Justin untuk bertemu dengan Al.
Sampai, hari berikutnya ini adalah sebuah pagi yang baru, dimana ketika Alice saat itu sedang bersiap-siap untuk pergi bekerja dan mendadani Al, pintu rumahnya tiba-tiba diketuk oleh seseorang.
Ketika pintu dibuka, Alice sudah dikejutkan oleh sesosok pemuda yang sangat tampan, yang saat ini mengenakan pakaian yang lebih rapi dari biasanya, dan rambutnya lebih rapi dari biasanya.
Alice hampir saja tidak bisa mengalihkan tatapannya dari, Justin yang saat ini benar-benar terlihat jauh lebih tampan dari biasanya.
"Apa yang kamu lihat dari tadi? Apakah kamu mengagumi wajah tampan ku?"
Kata-kata yang cukup percaya dirinya dari Justin itu segera membuyarkan lamunan Alice.
"Huh? Apa? gak ada yang berani dilihat dari wajah menyebalkan itu, dan lagi kenapa kamu ada di sini?"
Justin hanya tersenyum lalu segera berkata,
"Hari ini, Aku akan mengantarkan Al ke sekolahnya,"
"Aku rasa tidak perlu untuk mengantarkannya, aku bisa mengantarkan nya sendiri kamu tidak perlu repot-repot,"
"Alice, bukankah kamu sudah bilang jika tidak akan mencegah untuk bertemu dengan Al?"
"Aku memang tidak menjagamu hanya saja, tidak perlu untuk mu mengantar Al ke sekolah, aku bisa melakukannya sendiri,"
"Hah, kamu itu masih keras kepala saja aku juga ingin sesekali mengantarkannya ke Sekolah, lagipula Al bilang dia diantar ke sekolah olehku,"
Alice alasan itu akhirnya membiarkan Justin masuk, karena ini permintaan Al, jelas Alice tidak bisa menolak.
Jadi, Alice mau tidak mau ikut masuk kedalam mobil Justin, untuk mengantarkan Al ke sekolah.
Al sepertinya sangat ingin diantar ke sekolah oleh kedua orang tuanya.
Alice hanya menatap Putranya yang terlihat sangat senang itu.
Namun ketika ada disekolah, ada beberapa hal terjadi.
Misalnya saja tentang bagaimana mereka bertiga menjadi pusat perhatian di sana.
Ya, Alice sudah cukup mengenal beberapa Ibu muda disana, dan beberapa Ibu Muda itu, segera menyapa pasangan Alice dan Justin.
__ADS_1
"Astaga, Suami Ibu Alice benar-benar sangat perhatian sampai mengantarkan Putranya kesekolah,"
Alice yang mendengar itu, sebenarnya merasa cukup malu, apalagi ketika mendengar kata Suami.
Ya, semua orang jelas mengira dirinya dan Justin adalah sepasang Suami Istri, yah bagaimana lagi karena mereka memiliki Al, mereka harus berpura-pura menjadi suami istri, karena tidak ingin ada masalah yang mungkin terjadi pada Al.
Justin yang melihat itu, lalu segera merangkul Alice dengan mesra.
"Benar, aku ingin mengantarkan istri dan putraku, cara membuat mereka senang kebetulan aku memiliki waktu luang," kata Justin dengan senyumannya itu.
"Astaga, anda Suami yang sangat baik sekali sungguh beruntung Nyonya Alice memiliki Suami seperti anda," kata salah satu Ibu itu.
Justin yang mendengar itu jelas merasa cukup senang entah kenapa.
"Tentu saja, Alice sangat beruntung memiliki Suami sepertiku, kutu pula aku yang memiliki Istri secantik dia,"
Alice yang mendengar gombalan itu mau tidak mau merasa sedikit tersipu.
Memikiran jika Justin itu sangat pintar dalam membual.
Namun kenapa dirinya menjadi seperti ini?
Menjadi terbawa perasaan, padahal hanya mendengar omong kosong semacam itu.
"Buruan tersedia benar-benar sangat serasi dan sangat romantis,"
Dan setelah beberapa percakapan, Alice dan Justin segera mengantar Al masuk gerbang, kemudian keduanya kembali ke mobil.
Justin yang pertama kali bicara,
"Alice, masuklah aku akan mengantar mu,"
Alice yang mendengar itu segera berkata dengan yakin,
"Tidak perlu melakukannya aku akan pergi sendiri, toh tujuan kamu ke sini adalah mengantar Al, kamu sudah mengantar Al, aku tidak perlu repot-repot mengurusi ku,"
"Tapi aku juga ingin mengantarkan mu pergi ke tempatmu bekerja,"
"Sungguh kamu tidak perlu,"
"Ayolah, apa yang salah dengan itu? Lagipula, bukannya sekarang kamu harus mencari taksi segala jika ini berarti bekerja? Itu memerlukan biaya tambahan kenapa tidak menurut dan ikut aku saja? Aku sebenarnya cukup penasaran tentang dimana kamu bekerja,"
Alice yang merasa apa yang dikatakan Justin kok masuk akal itu segera mengaguk dan masuk kedalam mobil.
Memang benar sepertinya diantar ke sana, akan menghemat biaya.
__ADS_1
"Baiklah, tapi kamu jangan macam-macam dengan ku,"
"Ayolah apa sih yang kamu pikirkan tentangku? Sepertinya kamu menjadi sangat curiga tentang semua hal yang aku lakukan,"
"Tapi sudah sewajarnya aku curiga padamu, karena kamu itu Ilmuwan Gila!"
Justin tidak pernah mengira jika Alice memiliki pendapat semacam itu padanya.
"Hah, kenapa sih kamu itu selalu menuduhku buruk? Gila apa? Aku hanya Ilmuwan biasa,"
"Tapi kamu melakukan penelitian gila soal membuat anak jenius, apakah kamu berusaha untuk menentang takdir atau semacamnya?"
Mendengar itu, Justin segera menjadi terdiam.
"Ini tidak seperti yang kamu pikirkan,"
"Lalu apa? Sebutan untuk seseorang yang melakukan penelitian pada manusia? Aku pikir kamu sedikit tidak manusiawi,"
"Hal itu untuk kebaikan di masa depan,"
"Itu tentu hanya alasan untuk membenarkan tindakanmu,"
"Peneliti ini, dibuat memang untuk kepentingan kesehatan, bagaimana jika berhasil membuat anak yang kebal penyakit bawaan? Ini jelas, kan mengurangi lebih banyak anak dengan gen bawaan buruk dari orang tuanya, untuk mencegah penyakit-penyakit yang mungkin bisa diderita anak, ini sebenarnya memiliki tujuan yang baik,"
Alice yang mendengar itu cukup terkejut karena ini baru pertama kalinya dirinya mendengar soal ini.
Jadi soal hal yang ada di brosur itu benar?
Penelitian demi kesehatan manusia di masa depan?
Itu sebenarnya adalah sebuah tujuan yang cukup mulia.
Namun tetap saja ada kesalahan dalam hal itu, yang tidak bisa Alice terima.
"Namun tetap saja aku merasa jika penelitian mu itu sedikit tidak benar,"
Justin yang mendengar kata-kata dingin dari Alice, hanya bisa menghela nafas.
Memang susah untuk menjelaskan hal-hal semacam itu pada Alice, dari seseorang yang melarikan diri dari percobaan itu sejak enam tahun lalu.
Tanpa tahu jika keputusan itu bisa merugikan orang.
Ya, karena percobaan itu gagal dirinya harus menanggung begitu banyak rasa malu juga dirinya mendapatkan kesan buruk dari Ayahnya.
Hal-hal menjadi buruk, sejak hari itu.
__ADS_1
Dan sekarang adalah saat yang baik untuk membuktikan bahwa apa yang dirinya teliti itu berhasil namun sayangnya hal ini sepertinya memiliki hambatan.
Sungguh rumit jika memikirkan hal-hal ini.