
Pada akhirnya, pendaftaran hari itu berjalan dengan lancar, Al berkeliling sekolah dengan Alice dan Justin dengan perasaan senang.
Bagaimanapun juga, Al untuk pertama kalinya merasakan memiliki orang tua yang lengkap.
Namun, Al jelas tahu gak itu semua hanya sebuah kebohongan, Al kecil diam-diam menatap dua orang dewasa yang saat ini terlihat mengabaikan satu sama lain.
Al paham betul jika sepertinya, Papa dan Mamanya memiliki hubungan yang buruk, namun itu tidak hanya buruk namun sangat buruk.
Ketika Al mulai memikirkan hubungan mereka, Al merasa pusing, sepertinya akan menjadi sebuah perjalanan panjang untuk melihat mereka berdua bisa bersama-sama.
Mari, pasang tampang lucu untuk membujuk mereka sekarang.
"Papa, Papa... Al ingin untuk digendong,"
Justin yang mendengar permintaan manja itu hanya mengangguk, dan segera mengendong Al.
Alice yang melihat putranya itu menjadi sangat dekat dengan Justin jelas saja merasa sangat kesal.
Kenapa bisa putranya langsung begitu dekat dengan Justin sih?
Dan mereka berdua bahkan lebih akrab daripada yang dirinya kira!
Padahal mereka baru bertemu untuk kedua kalinya.
Hah, dan Al semakin lengket padanya.
Ini jelas tidak bisa dibiarkan.
"Mama, jangan melamun di situ, Aku ingin Mama mengegam tangan Papa,"
Alice menatap putranya dengan ekspresi kaget.
"Apa-apaan permintaan mu itu?"
"Emm, kalau begitu genggam tangan Al?"
Al kecil terasa permintaannya barusan juga terlalu berlebihan, mungkin ini masih terlalu cepat untuk membuat mereka berdua bergandengan tangan?
Mari mengunakan langkah-langkah kecil dulu.
Alice menata putranya itu dengan ekspresi aneh, dan hanya mengengam tangan kecil itu.
Justin menatap wanita yang ada di sebelahnya itu, sangat jelas dari tadi memberikan tatapan kemarahan padanya yang membuat dirinya tidak nyaman.
Belum lagi sejak tadi, Alice selalu mencoba membuat masalah dengannya, ketika membeli minum, Alice bahkan sampai menumpahkan sudah di bajunya agar membuat dirinya segera pulang karena alasan baju basah, untung dirinya ada satu tangan yang bisa memberikan kekacauan itu.
Dan entah nanti halo konyol apa yang direncanakan oleh wanita itu.
__ADS_1
Hah, gadis bernama Alice ini memang sangat menyebalkan.
Keduanya, saat ini sudah selesai berkeliling sekolah, dan mulai keluar dari sekolah itu setelah berpamitan kepada kepala sekolah, dan mulai memutuskan bahwa Al akan di sekolah kan di tempat itu.
Sebenarnya, Justin merasa sepertinya cukup salah untuk menempatkan Al di Taman kanak-kanak biasa seperti ini, hal-hal ini jelas tidak ada manfaatnya untuk Al, Al pasti akan bosan karena tidak bisa belajar hal-hal yang harusnya sudah dipelajari.
Al lebih pintar dari anak lainnya, kan sudah bisa membaca dan menulis dengan baik, jika di masukan ke TK semacam ini, bukankah ini akan memperlambat pertumbuhan Al?
Tepat ketika mereka keluar dari sana, ada penjual Es Krim di dekat sekolah, Al terlihat sangat antusias ketika melihat penjual es krim itu, segera meminta ijin Mamanya untuk membeli es krim.
Dan sekarang hanya ada mereka berdua di sana.
Alice yang pertama kali angkat bicara,
"Urusan soal pendaftaran sekolah Al sudah beres, bukankah saat ini waktunya kamu pulang?"
Justin yang mendengar kata-kata sinis itu, jelas saja merasa kesal dan segera berkata,
"Kenapa kamu dari tadi sangat memaksa ingin menyuruhku pulang dan mengusir ku?"
Alice lalu menunjukkan sebuah senyumannya dan berkata dengan penuh keyakinan,
"Bukankah alasannya sudah jelas? Itu karena aku membencimu, aku tidak suka kamu dekat-dekat denganku ataupun Al,"
"Atas dasar apa kamu membenciku?"
Justin yang mendengar jawaban tidak jelas itu jelas merasa kesal.
"Alasan tidak masuk akal macam apa itu?"
"Sudahlah, sebaiknya kamu segera pulang saja sana, apalagi yang ingin kamu lakukan sekarang?"
"Tidak, sebenarnya aku ingin protes tentang beberapa hal,"
"Protes apa? Kamu itu tidak memiliki tempat untuk protes,"
Justin mulai mengabaikan kata-kata sinis itu, langsung to the point tentang apa yang ingin dirinya bicarakan.
"Aku pikir kamu salah untuk memasukan Al ke Taman Kanak-kanak biasa semacam ini,"
"Salah Apa? Tempat ini cukup bagus apa yang salah dengan itu?"
"Kamu bukankah juga tahu, jika Al itu, tiket lebih pintar di atas rata-rata daripada anak-anak lainnya, dia bahkan sudah bisa membaca dan menulis dengan baik, ika dia ditempatkan di Taman Kanak-kanak biasa ini, jelas ini hanya akan hambat pertumbuhan dan perkembangannya,"
"Kamu itu tidak tahu apa-apa sebaiknya kamu tidak perlu bicara omong kosong,"
"Alice, apa kamu itu begitu menyebalkan? Aku hanya memberikan saran yang bagus, alangkah lebih baik jika Al mendapatkan pendidikan khusus yang cocok dengan kemampuannya, dia tidak cocok di sekolah biasa semacam ini, mau setidaknya kamu harus memberikan beberapa les dan kelas tambahan untuknya, itu semua cukup baik untuk meningkatkan kecerdasan dan perkembangan Al, Al jelas akan bosan jika dia berada di sekolah biasa macam itu, yang tidak akan memberikan dia tambahan pengajaran atau ilmu apapun,"
__ADS_1
Semakin Alice mendegar kata-kata Justin, jelas menjadi semakin kesal, dan berkata,
"Cukup! Al adalah anak yang normal jadi dia harus berada di sekolah biasa semacam ini,"
Justin hanya bisa menghela nafas dan berkata lagi,
"Kenapa kamu terlihat berpura-pura butuh dengan kemampuan Putramu sendiri? Al itu, tuh sekolah yang lebih bagus untuk meningkatkan kemampuannya, ya tidak bisa dibiarkan seperti ini saja, kamu tidak mengerti? Kapan kamu ingin berpura-pura membuat Al seperti anak biasa? Dia bukan sekedar anak biasa,"
"Dia adalah anakku, dia anak biasa! Kamu tidak bisa mengatur itu!Terserah aku mau memasukkan dia di mana! Dia itu baru anak berusia 5 tahun, ini masih lah saat dia bermain-main, dan menikmati masa kecilnya,"
"Tapi, Alice kamu itu tidak memperhatikan perkembangan pikiran anak itu? Aku percaya, selain kecerdasan nya, pikirannya juga mungkin sudah lebih daripada anak seusianya, jangan kamu memperlakukan dia seperti benar-benar anak lima tahun,"
"Itulah kenapa aku sangat membencimu, kamu benar-benar menyebalkan! Kamu benar-benar tidak tahu apapun!"
"Alice! Kamu itu yang tidak tahu apapun! Kamu tidak bisa memilih hal yang bagus untuk mengembangkan potensi putra mu sendiri,"
"Diam!"
Alice jelas menjadi emosi, dan mendorong Justin.
Alice sudah mengira, kicau orang lain tahu soal kemampuan putranya mereka pasti akan memikirkan jika lebih baik membiarkan Al pergi ke sekolah percepatan atau hal semacam itu, namun dirinya tidak mau, dirinya hanya ingin putranya bisa menikmati masa kecilnya seperti anak-anak lainnya.
"Alice! Kamu itu! Tolong dengarkan aku aku hanya mengatakan ini untuk kebaikan, Al!"
"Cukup! Kamu sudah melebihi batas!"
Justin lama-lama juga tidak tahan, jadi Justin segera memutuskan untuk pergi dari situ.
Tentu saja, setelah berpamitan dengan Al.
"Papa sudah ingin pergi?"
"Hmm, mari kali kita pergi keluar bersama oke?"
"Tentu saja, Papa!"
Mereka berdua lalu saling berpelukan, dan tidak lupa, Justin memberikan kartu nama yang berisi nomornya itu kepada Al.
Al yang menatap kartu nama itu, segera mengerti apa maksudnya.
Itu harus di rahasia dari Mamanya?
Tentu saja tidak masalah.
Dan akhirnya, mereka benar-benar berbeda dengan Justin.
Alice penasaran itu pergi hanya bisa berharap untuk tidak bertemu dengan pria menyebalkan itu.
__ADS_1