Terjerat Pesona Ilmuwan Tampan (Gila)

Terjerat Pesona Ilmuwan Tampan (Gila)
Episode 30: Kelicikan


__ADS_3

Justin menatap kearah wanita yang ada di depannya ini dengan ekspresi heran, karena Alice terlihat bersikap aneh, wajahnya entah kenapa terlihat sedikit memerah.


Apakah dia sakit demam?


Dirinya sudah dengar dari Al sebelumnya, bagaimana Alice terkadang akan pulang dari tempat dia mengajar saat hujan.


Cuaca akhir-akhir ini memang cukup buruk jadi wajar jika itu bisa mempengaruhi kesehatan seseorang.


Memikiran Alice sakit, Justin merasa tidak nyaman.


Lalu tangan Justin segera diletakkan di dahi Alice.


Alice jelas saja merasa gerakan yang terlalu agresif itu membuat wajahnya semakin merah, Alice jam terkejut itu segera mundur ke belakang satu meter menjauh dari Justin.


"Kamu itu apa-apa menyentuh ku seperti itu!"


Justin mendengar pertanyaan itu segera merasa heran dan bertanya lagi,


"Aku hanya ingin memastikan apakah kamu sedang demam atau tidak, karena wajahmu sedikit memerah,"


Alice yang tahu jika Justin menyadari wajahnya memerah itu, jelas segera memalingkan wajahnya dan menatap kearah Al dibawah, dan menyapa putranya itu.


"Mama tidak sakit, benar bukan Al?" Tanya Alice meletakkan tangan putranya itu di pipinya.


Al tidak mengerti itu hanya menjawab seadanya.


"Mama tidak panas, Pa,"


Justin lalu segera menatap Alice, yang jelas dari tadi menghindari untuk bertatapan dengannya.


Ekpersi Alice yang sedikit memerah itu entah kenapa terlihat lucu dan menggemaskan.


Dari sini, Justin menjadi semakin menyadari soal keputusannya sendiri.


Mungkin, dirinya bisa dengan tegas untuk tidak melanjutkan penelitian soal Rekayasa Genetika itu juga karena Alice.


Ya, dirinya jelas tahu jika dirinya melanjutkan penelitian untuk, Alice akan sangat marah padanya.


Dirinya tidak suka jika Alice marah dan benci padanya, memikirkannya saja sudah membuat hatinya terasa tidak nyaman.


Dirinya tidak pernah jatuh cinta sebelumnya jadi dirinya tidak benar-benar tahun tentang perasaan yang dirinya alami ini.


Hanya saja, yang paling dirinya pahami adalah hanya ingin bersama dengan Alice, dan ditatap boleh wanita itu.


Kenyamanan saat mereka berdua sedang bersama-sama, film lucky ekspresi dari wanita itu yang benar-benar membuat dirinya merasa senang entah kenapa.


Ada rasa, ingin sedikit menggoda nya.


"Lalu kenapa wajahmu memerah? Apakah itu karena kamu terpesona setelah menatap wajahku?"


Alice yang mendengar perkataan penuh percaya diri itu segera berkata dengan gugup,


"A... Apaan, siapa yang menatap wajah jelekmu itu? Hanya melihat wajahmu saja sudah membuatku sangat muak,"


Justin, tetap bisa melihat Alice yang masih berasa malu itu, mencoba berbicara omong kosong.


Dirinya tidak tersinggung dengan kata-kata itu.


"Kamu itu jangan bicara omong kosong!! Ini adalah wajah yang tampan,"


"Sungguh, kenapa kamu sangat percaya diri benar-benar Pria gila,"


Justin berasa jika berdebat akan menjadi hal yang tidak berguna, Justin kera menatap kearah dan tangannya mencoba berpikir mungkin ini adalah saatnya dirinya segera kembali ke Laboratorium.


Karena dirinya berencana untuk membatalkan proses penelitian itu artinya dirinya harus memulai penelitian baru tentang hal lainnya dan jelas ini bukanlah hal yang cukup mudah.

__ADS_1


"Baiklah, lain kali saja kita berbicara pertama aku harus segera pergi kembali ke Laboratorium. Al, kamu baik-baik ya di rumah besok Papa akan menjemputmu lagi," kata Justin dengan ramah.


Alice yang melihat pria itu ingin segera pergi entah kenapa perasaannya menjadi cukup sedih.


Ya, ada perasaan jika dirinya masih ingin menatap wajah itu sedikit lebih lama namun dia pergi terlalu cepat.


Dan jelas dirinya tidak bisa mencoba untuk menghalangi pria itu.


Jadi, Alice hanya bisa menatap kepergian Justin ke mobilnya.


####


Hari-hari segera berlalu dengan cukup cepat, Alice dan Justin belakangan memiliki hubungan yang cukup baik walaupun masih belum ada perkembangan soal perasaan mereka satu sama lain karena keduanya masih cukup keras kepala untuk mengakui perasaannya.


Al yang melihat Papa dan Mamanya belakangan ini menjadi kompak jelas aja merasa senang.


Apalagi, Papanya kadang-kadang akan menjemput atau mengantar nya ke sekolah hal ini jelas merupakan pengalaman yang sangat membahagiakan.


Sudah sejak lama, dirinya ingin diantar jemput oleh Papanya seperti ini dan sekarang keinginan itu terwujud.


Jika saja, Papa dan Mamanya tinggal di rumah yang sama mungkin kebahagiaan yang dirinya memiliki akan lengkap.


Tapi, Al juga tahu, itu setidaknya tidak mungkin untuk sekarang mari lakukan pelan-pelan.


Saat ini, Al yang baru saja selesai sekolah itu keluar dari gerbang sekolahnya.


Didepan gerbang itu, Al kemudian melihat sosok yang familiar.


"Apa kabar Al," kata orang itu dengan ramah.


Al tentu saja mengenali wanita yang menyapa nya itu, kalau tidak salah itu adalah rekan kerja Papanya, dan dia juga adalah seorang yang sangat baik, aku hari pernah membelikan dirinya sebuah permen.


Kenapa tante itu datang ke sini?


Lisa segera menunjukkan senyumannya, dan berkata,


"Tante Lisa hari ini datang untuk menjemputmu, menggantikan Papamu,"


Al yang mendengar itu jelas segera merasa heran dan bertanya,


"Tapi Papa tidak pernah bilang akan menjemputku hari ini?"


"Ya, tentu saat ini Papamu belum tahu, karena sebenarnya Tante Lisa dan beberapa teman kerja Papamu, sedang menyiapkan sebuah pesta kejutan rahasia untuk Ulang Tahun Papamu,"


Al jelas baru pertama kali mendengar ini.


Namun dirinya juga terlihat cukup antusias ketika mendengarnya.


"Apa? Papa Al ultah tahun?"


"Itu benar itulah kenapa tante datang ke sini ingin menjemputmu dan mengajakmu ke tempat Papamu bekerja, lalu membuat kejutan untuknya dia pasti akan sangat senang,"


Al yang mendengar itu, jelas tidak merasa curiga karena fokus dan pikirannya masih tentang memikirkan soal Papanya yang akan berulang tahun.


Ini jelas sebuah momen yang tidak bisa dilewatkan.


"Mari kita pulang dulu dan mengajak Mama!"


Lisa hanya bisa menahan senyum palsu nya, karena sepertinya cukup sulit untuk menipu anak ini.


Sekarang alasan apalagi yang harus dirinya buat?


"Mamamu tentu saja sudah dijemput oleh teman yang lainnya, nanti kita akan bertemu di tempat kerja Papamu,"


Al lihat berpikir sebentar lalu bertanya lagi,

__ADS_1


"Benarkah itu?"


"Tentu, mari ikut Tante saja, Kamu udah pernah diberitahu oleh Papamu jika dia bekerja di Laboratorium bukan?"


"Ya, Al tahu Papa bekerja di Laboratorium, kalau tidak salah namanya, New C. Lab,"


Lisa yang mendengar itu segera tersenyum senang, setidaknya anak ini tidak akan curiga jika akan dirinya bahwa ke Laboratorium.


Ya, tujuan dirinya ingin membawa anak ini, tidak lebih karena ingin melakukan pemeriksaan pada anak ini, melanjutkan penelitian atasannya Justin.


Jelas saja Penelitian besar semacam itu tidak bisa dibiarkan tidak selesai begitu saja apalagi objek penelitian nya terlihat jelas dan hanya membutuhkan beberapa data tambahan untuk melengkapi semua data penelitian.


Hal ini jelas merupakan hal yang sangat penting.


Dirinya akan melanjutkan penelitian ini diam-diam dan pastilah nanti atasannya itu juga akan senang dengan hasilnya jika diberi tahu.


Lagipula, dirinya tidak menculik anak ini untuk hal-hal aneh ini hanya untuk melakukan pemeriksaan untuk pengambilan data yang penting.


"Jadi, mari ikut Tante,"


Al lalu segera mengikuti Lisa menuju ke arah mobilnya tanpa curiga sedikitpun.


Selama perjalanan, Lisa jelas mencoba mencari cela untuk mematikan jam tangan anak itu, untuk mencegah agar anak itu di hubungi dan di lacak.


Tidak lupa, dirinya sudah mengirimkan pesan palsu pada Mama anak itu, jika Al akan di bawa Justin jalan-jalan.


Dan soal Justin, jika Ibu anak itu nanti akan mencoba menghubungi Justin, jelas akan gagal karena, hari ini dirinya sudah memblokir nomor Ibu anak itu dari ponsel atasannya itu.


Benar sekali dirinya sudah merencanakan semua ini dengan tepat toh ini semua memang demi kebaikan Tuan Mudanya itu.


Hal-hal ini jelas tidak boleh gagal.


Perjalanan itu, pada akhirnya berjalan cukup lancar sampai, Al dan Lisa di sebuah Laboratorium besar.


Al menatap laboratorium itu dengan cukup kaget.


Ini adalah gedung C. Laboratorium yang sudah di perbarui, tempat Justin bekerja dan melakukan penelitian itu sejak awal.


Malah Laboratorium tempat Alice pertama kali terlibat kekacauan Penelitian ini.


Namun, Al tentu saja tidak tahu apa-apa karena Ini pertama kalinya dirinya datang ke tempat itu.


"Woah, ini sangat besar sekali. Papa bekerja disini?"


Lisa yang ada di samping anak itu lalu segera tersenyum,


"Itu benar, Papa mu ada didalam,"


"Al ingin segera bertemu Papa!"


"Nanti dulu, kan Tante tadi bilang, jika kita akan membuat kejutan, persiapan di dalam belum selesai jadi nanti kita menunggu dulu di salah satu ruangan di sana, Apakah kamu mengerti?"


Al lalu segera mengangguk.


Namun dirinya segera teringat sesuatu.


"Emm, kata Tante Mama akan datang?"


Lisa mencoba untuk tetap memasang senyumannya sial, anak ini ternyata benar-benar teliti, jadi Lisa hanya bisa berkata,


"Tentu saja, nanti Mamamu akan menyusul, dia saat ini sedang dalam perjalanan, kamu tenang saja mari kita masuk dulu,"


Lisa segera mengendong Al, dan membawa anak itu masuk sambil sedikit menutupi wajah anak itu.


Ya, setidaknya, orang-orang belum bisa melihat wajah anak ini dulu karena penelitian ini masih bersifat rahasia dan hanya beberapa orang yang boleh tahu.

__ADS_1


__ADS_2