
🍂🍂🍂🍂🍂
Semua berjalan begitu saja, menyibukkan diri masing-masing adalah cara untuk menekan rindu agar tak meluap. Berbulan-bulan berpisah dan hanya satu minggu sekali bertemu setidaknya lebih dari cukup dibanding tak sama sekali, seperti hari ini, Leo akan datang ke kediaman Mertuanya untuk mengajak pulang Sang istri ke Apartemen. Abi dan Ummi tak bisa lagi protes karna anak dan menantunya selalu terlihat baik-baik saja di depan mata mereka.
"Assalamu'alaikum," sapa Leo saat masuk kedalam kamar istrinya.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, Mas. Alhamdulillah sudah sampai," jawab Aurora sambil meraih punggung tangan suaminya untuk di cium secara takzim.
Keduanya tersenyum lalu berpelukan, Leo terus menciumi pucuk kepala istrinya yang tak berhijab berkali-kali agar rasa sesak dalam dadanya berkurang.
"Aku merindukanmu, La."
Aurora hanya mengangguk dalam dekapan suaminya yang begitu menenangkan.
"Rumah sepi banget, pada kemana?"
"Kerumah kak Gala, istrinya sakit," jawab Aurora sambil mengurai pelukan.
"Mau pulang sekarang?" tawar Leo yang di iyakan langsung oleh istrinya.
__ADS_1
Aurora merapihkan dirinya sebentar, ia menerima uluran tangan Leo untuk keluar dari kamar menuju lantai bawah. Setiap Leo pulang mereka akan menghabiskan waktu di Apartemen meski hanya sekedar bertukar cerita tentang satu minggu yang terlewat begitu saja tanpa bersama.
.
.
.
Sampai di tempat tinggal mereka, Aurora langsung membuka pakaiannya, mengganti yang lebih simpel karna ia akan berperang di dapur. Gamis rumahan biasa kini sudah membalut tubuh tinggi sesampainya dengan rambut yang di ikat asal membuat leher jenjangnya terlihat sempurna.
"Akunya yang udah laper banget atau masakan kamu yang selalu menggugah selera sih?" bisik Leo saat tangannya sudah melingkar di perut rata Sang istri dengan dagu yang ia letakkan juga di bahu.
"Masakanku biasa aja, Mas."
"Di makannya pakai Cinta juga gak?" Aurora balik bertanya, dan Leo justru semakin mengeratkan pelukannya dari belakang.
"Pakai dong, meski setengah untukmu dan setengah lagi untuk dia."
Aurora malah terkekeh, ia tak pernah marah atau cemburu berlebihan, sadar diri memang suami yang sedang bersamanya itu bukan miliknya seutuhnya.
__ADS_1
"Kok ketawa?" tanya Leo sambil membalikkan tubuh bidadari dunianya.
"Curang! aku kasih semua tapi kamu cuma kasih setengah," jawab Aurora sambil mencubit dada Leo.
Di balas dengan candaan jauh lebih baik di banding harus merajuk yang akan memperumit masalah, setidaknya Aurora hanya ingin menjaga kewarasannya di tengah konflik berbagi suami yang sedang ia jalani.
Leo kembali ke meja makan, sedang Aurora meneruskan masakannya hingga tak lama berselang semua ter hidang dan siap untuk di makan.
Apartemen yang hanya diisi satu minggu sekali kini terasa hangat dengan obrolan sepasang suami istri yang sedang berjuang untuk bahagia dengan cara mereka sendiri. Semakin banyak yang meminta mereka berpisah justru malah menguatkan tali pernikahan mereka.
"Kita yang jalanin, mereka gak paham karna gak ada di posisi kita," kata Aurora saat Leo menceritakan tentang Ibu yang masih tak ingin bicara dengan putra semata wayangnya tersebut.
"Tapi aku bingung harus gimana lagi buat kasih pengertian buat Ibu, kamu aja bisa terima kenapa Ibu enggak, La?"
"Semua butuh proses, kamu sabar ya. Pelan-pelan nanti kita bicara lagi sama Ibu." Aurora mengusap punggung tangan suaminya agar tenang.
"Sekitar satu minggu lagi Ameena di perbolehkan untuk pulang, aku akan mengajaknya kemari sesuai keinginannya," terang Leo yang membuat hati Aurora terasa sedikit tercubit.
.
__ADS_1
.
Jika hari itu tiba, jangan beri jatah yang adil untuk kami ya, karna aku ingin kamu datang padaku saat kamu rindu padaku. Bukan tentang kamu datang di hari apa dan sampai hari apa.