Ternyata, Aku Bukan Istri Pertama.

Ternyata, Aku Bukan Istri Pertama.
Wanita hebat.


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Bisakah aku dan dia mempertahankanmu, Kak?"


Ameena semakin mengeratkan pelukan, bayangan bahagia seakan terkikis sedikit demi sedikit dalam benaknya saat ini. Belum hilang sakit di duakan kini justru di hadapan lagi dengan kenyataan yang lebih menyakitkan.


"Jika aku bisa, aku tak akan melepas kalian, bukan karna aku egois tapi diantara kamu dan dia jelas berbeda," jawab Leo.


"Siapa yang kakak lebih cinta?" tanya Ameena, meski ia takut mendengar jawabannya tapi rasa penasaran tak bisa lagi ia pendam.


"Jangan tanyakan hal itu, kan sudah ku bilang, kamu dan dia berbeda. Kalian punya tempat tersendiri. Jangan khawatir, kamu tetap aku cintai, Sayang." Leo mencium kening Ameena lembut dan lama, ia memang cinta wanita itu, sangat dan tak pernah berkuranh seujung kuku pun terlebih ia punya dosa besar yaitu pernah membuat Ameena koma dalam waktu yang panjang.


"Kalian akan punya anak, sedang aku bagaiamana?"


"kamu juga akan punya, sabar ya, nanti kita usaha lagi. Sekarang kamu tidur dulu. Besok aku ada meeting pagi," ucap Leo yang baru ingat satu hal tentang pekerjaannya yang kini sedikit ia abaikan semenjak Ameena sembuh dan Aurora berubah.


.

__ADS_1


.


Lain dirumah, lain juga di Apartemen. Si calon ibu itu kini berbaring sendiri di tengah ranjang, rasa kantuk yang sering menyerangnya secara tiba-tiba sangat memudahkannya terbuai mimpi tak perduli ada dimana, apalagi jika sudah melihat bantal seolah benda itu selalu melambai padanya ingin di peluk.


Pagi menjelang, Aurora yang sudah selesai dengan kewajibannya langsung menoleh saat mendengar pintu terbuka, seorang pria yang memiliki dua surga itu berjalan kearahnya.


"Aku bawa sarapan, kita sarapan dulu ya," ajak Leo setelah mencium kening Aurora yang sekian detik kemudian menggelengkan kepalanya.


"Kenapa, aku bau?" tanya Leo yang sudah menggenggam tangan istrinya siap keluar dari dalam kamar.


"Kamu belum sarapan, Mas?"


"Aku gak bisa bayangin di sini nanti ramai sama suara tangis juga tawa bayi, aku jadi gak sabar, La." Leo mendudukkan istrinya di kursi dan setelahnya mengusap perut yang masih terlihat rata.


"Aku mau pulang kerumah Ummi, Mas."


"Kenapa?" tanya pria itu.

__ADS_1


"Aku takut, aku sering tidur tiba-tiba sedangkan aku sendirian," jawab Aurora, ia tentu mengkhawatirkan dirinya sendiri.


"Enggak, aku gak izinin untuk hal ini, aku akan minta ART buat temenin kamu. Kan sudah ku bilang, aku akan luangkan waktu untukmu," tolak Leo dengan permintaan istrinya tersebut.


Aurora mendesah kesal, ia tentu tak berani membantah jika itu sudah keputusan suaminya.


"Tegur aku bila aku salah atau kurang peka padamu ya, La. Tapi jangan menghindar. Tuhan sudah menitipkan kita buah hati untuk merekatkan hubungan kita agar jauh lebih baik lagi. Jangan pernah pergi," mohon Leo yang akhirnya di iyakan juga oleh Aurora.


Keduanya makan bersama dengan Leo menyuapi Sang istri langsung dari tangannya, ini bukan permintaan Aurora tapi keinginan pria itu sendiri yang selama ini tak pernah ia lakukan bersama dengan Ameena.


Keduanya memiliki tempat dan cinta yang berbeda, Aurora dengan sabar dan dewasanya sedang Ameena dengan kemanjaanya. Mereka bisa memberikan warna lain dalam hidup Leo dengan rasa nyaman sesuai yang di butuhkan.


.


.


.

__ADS_1


Kamu, sudah membuat ku banyak bersyukur karna aku telah memiliki wanita hebat sepertimu.


__ADS_2