Ternyata, Aku Bukan Istri Pertama.

Ternyata, Aku Bukan Istri Pertama.
Bertepuk sebelah tangan.


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Respon yang berbeda jelas terlihat pada Ameena, jika Aurora begitu tenang dalam mengambil sikap, tentu tidak dengan wanita yang sedang berjuang untuk sembuh total tersebut. Ia marah dan begitu sulit di tenangkan meski Leo terus memeluknya dengan sangat erat. Hati pria itu ikut sakit karna bagaimana pun rasa cintanya pada Ameena tak pernah berkurang meski Aurora sudah memiliki tempat lain di hatinya.


"Maaf, Sayang. Maafkan aku." hanya kalimat itu yang terus terucap dari bibir Leo untuk istri pertamanya.


"Kakak jahat, menikah lagi saat aku tak berdaya diantara hidup dan mati, mana cintamu padaku?"


"Justru karna aku mencintaimu, ibu tak akan curiga lagi dan berhenti mencarimu jika aku bisa meyakinkannya dengan cara menikahi wanita lain," jelas Leo, andai Ameena mau sedikit saja paham, tapi Leo tetap sabar karna ia pasti sangat kaget dengan kenyataan yang ada.


"Lebih baik aku di caci maki oleh Ibu daripada harus tahu kamu menikah lagi, Kak. Jika sudah begini aku harus apa? bertahan luka melepas tak bisa," lirih Ameena yang perlahan sedikit tenang dalam dekapan suaminya, ia tak lagi meronta seperti di awal.


"Jangan minta aku memilih, Sayang. Ku mohon."


Deg...


Dari permintaan itu saja ia sudah bisa menebak jika pernikahan kedua suaminya pasti sudah membuahkan rasa lain dalam hati pria tersebut, yang awalnya terpaksa, kini justru sudah mencinta.


.


.


Esoknya, Leo mengajak Ameena datang ke Apartemen Sang madu tanpa memberitahu Aurora lebih dulu. Entah kenapa wanita keduanya itu kini sulit sekali di hubungi dan jarang mau mengangkat teleponnya dengan hanya satu alasan tak masuk akal.

__ADS_1


Ameena tak melepas sama sekali genggaman tangannya saat memasuki gedung pencakar langit yang begitu mewah menurutnya.


"Apa dia ada?" tanya Ameena. Leo tak banyak menceritakan apapun tentang Aurora, ia tak ingin lebih menyakiti hati Ameena jika tahu lebihnya Sang madu.


"Aku harap ada," jawab Leo ragu. Aurora benar-benar tak bisa di hubungi sejak pagi membuat kepala pria itu ingin meledak rasanya.


Cek lek


Leo masuk lebih dulu, sedang Ameena ada satu langkah di belakang suaminya.


"Duduklah, aku panggil dia dulu," titah Leo di ruang tamu.


Ameena mengedarkan pandangan, ini jelas sebuah Unit Apartemen mewah dan rasa cemburu itu pun kembali mengusik hatinya.


"La, kamu baik-baik saja kan? kenapa telepon ku tak di angkat?" tanya Leo setelah ia mencium kening istri keduanya tersebut.


"MALES!"


Leo menarik napas lalu membuangnya perlahan, selalu satu kata itu yang terlontar dari bibir manis Aurora saat ia bertanya kenapa dan ada apa.


"Ada Ameena, ia ingin bertemu denganmu," ujarnya yang sontak membuat Aurora menoleh.


"Dimana?"

__ADS_1


"Ruang tamu, kemarin sudah ku ceritakan semuanya. Dan ia ingin bertemu, tak apa ya, dia baik, La." rayu Leo agar isterinya itu mau keluar dari kamar menemui madunya yang sudah datang.


"Apa dia mau bilang, kalau suaminya ini hanya cinta padanya saja?" sindir wanita bergamis coklat tua tersebut.


"Aku juga mencintaimu, La." tegas Leo.


Aurora yang malas akhirnya bangun, ia memang sudah mempersiapkan hari ini datang tapi tak menyangka secepat ini di tengah rasa kurang sehatnya juga.


"Jangan pegang-pegang," tolak nya saat Leo ingin meraih tangan istrinya sebelum keluar kamar.


Tak ada Ameena saja ia sering uring-uringan tak jelas apalagi ini adanya Sang Madu dan Leo tentu langsung mend esah kesal, beberapa kali bertemu, tak pernah sekalipun ia di izinkan untuk sekedar bercumbu padahal hasrat sudah jelas berada di ubun-ubun kepalanya.


Kini dua wanita dan satu pria sudah duduk di ruang tamu, Leo sengaja duduk di sofa single karna tak ingin memihak pada siapapun meski yakin keduanya pasti akan menitikan air mata.


Tak ada basa basi, semua Aurora ceritakan dari awal hingga akhir, mulai dari perjodohan, menikah hingga sampai saat ini.


"Jika kamu menganggapku bodoh, aku terima hal itu, karna aku hanya mencintai orang yang sudah menikahiku, tak lebih." ujar Aurora mengenai perasaannya. karna ia memang wajib mencintai suaminya.


"Dan jika kamu menuduhku merebutnya, mohon maaf aku hanya mempertahankan saja," tambahnya lagi. Belum ada sepatah kata pun terlontar dari bibir Ameena yang masih tertutup rapat meski buliran air mata sudah membasahi pipi mulusnya.


.


.

__ADS_1


Tidak, aku tak sekejam itu mengatakan kamu seorang Pelakor. Kamu tak salah mencintai suamiku hingga pada akhirnya cintamu itu tak lagi bertepuk sebelah tangan padanya. Sampai disini aku paham jika aku bukan lagi satu-satunya tapi hanya salah satunya.


__ADS_2