
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Program hamil?" tanya Leo memastikan jika ia tak salah dengar dengan apa yang diucapkan Ameena.
"Iya, Kak.".
"Kamu belum sembuh total, itu bisa kita pikirkan nanti ya. Fokus saja dulu pada kesehatanmu karna itu jauh lebih baik," ucap Leo sambil mengacak rambut panjang istri pertamanya yang mengingatkan ia pada Aurora.
"Hari ini kakak gak kemana-mana 'kan?"
Leo diam sejenak, sebenarnya ada banyak yang harus ia lakukan tapi ia bingung karena ini adalah hari pertama Ameena pulang dan kembalinya mereka menjadi sepasang suami istri meski pernikahan keduanya dibawah tangan dan hanya sah menurut agama.
Dulu, Leo bertekad akan memperjuangkan rumah tangga mereka sampai resmi dan mendapat restu. Tapi, entah apa bisa ia melakukan hal itu mengingat statusnya kini juga menjadi suami sah wanita lain yang lebih berhak atasnya.
Dan sialnya, keluarga mertuanya bukan orang biasa. Ia akan habis dalam waktu sekejap jika berhasil mempermalukan keluarga Rahardian Wijaya dengan terungkapnya ada pernikahan lain antara Leo dan Ola.
Itulah alasan orang tuanya kini sangat murka karna malu dengan kelakuan Sang putra, bagaimanapun keluarga Barata tak pernah tahu hal tersebut, sebab jika mereka tahu, pernikahan ini tak mungkin terjadi. Ayah Arman dan Ibu Salma jelas meminta putri bungsu Bumi serta Khayangan itu dengan baik-baik.
__ADS_1
"Kita lihat nanti ya, aku tak bisa menjanjikan apapun padamu hari ini, tapi semoga mereka bisa meng-handle semua pekerjaan tanpaku."
.
.
.
Lain Leo lain juga dengan Aurora, karna ia kini ada didalam kamar seorang gadis cantik yang dulu begitu mencintai kakak kembarnya, Aish.
"Kupikir kamu datang dengan suamimu, La."
"Dia sibuk," jawab Aurora yang matanya tak lepas dari tangan Aish yang sedang di hias Hena.
"Dengan madumu? benar ia sudah sembuh lalu bagimana dengan pernikahan kalian?" Aish langsung memberondong banyak pertanyaan.
"Iya, mereka sedang pulang kerumah mereka, alhamdulillah Ameena sudah sedikit jauh lebih baik meski belum sembuh total dan pernikahan ku baik-baik saja. Jangan khawatir," jawab Aurora santai tak ada raut sedih sama sekali diwajah cantik alaminya, mungkin karna Ikhlas adalah kunci utama bisa tersenyum dengan baik.
__ADS_1
"Dan kamu yakin masih mau bertahan? menikah itu ibadah panjang, buat apa kamu gunakan sisa hidupmu dengan pilihan seperti ini. Kamu bisa mendapatkan yang lebih baik, La." sebagai sahabat wajar jika Aish mengatakan hal tersebut tapi rasanya ia justru akan menjadi salah satu yang gagal juga membujuk cucu kesayangan Amma tersebut.
"Meninggalkanya memang mudah, melepasnya juga mudah tapi melupakan kenangan saat bersamanya itu yang sulit, terbiasa tanpanya yang justru membuatku akan jauh lebih membutuhkan waktu lama untuk pulih kembali, dan belum tentu aku bisa menerima orang lain untuk menggantinya, iya kan?" ada saja jawaban Aurora yang membuat si pemberi saran atau pertanyaan langsung bungkam.
"Aku ingin kamu bahagia, La. Aku tahu kamu sedang menekan rasa cemburu dan kecewamu bahkan jika aku boleh jujur aku tak ingin ada di posisimu saat ini. Aku tak akan memafkan yang namanya pengkhianatan!" tegas Aish menggebu-gebu.
"Pengkhianatan apa yang kamu maksud? aku tak merasa suamiku berkhianat karna ia tak selingkuh dariku. Apa salah jika aku ingin berjalan beriringan bersama? jika aku di anggap menyakiti maduku, bukankah aku juga disini terluka? mungkin sudah jodohnya suamiku beristri dua, karna itu adalah rahasiaNya."
Aish membuang napas kasar, benar kata Ummi jika sahabatnya itu kini begitu keras kepala ingin tetap mempertahankan rumah tangganya selagi bukan Sang suami yang memulangkan nya secara baik-baik kerumah orangtuanya.
Aurora sudah melangkah dan bertahan sejauh ini rasanya tak mungkin menyerah begitu saja karena ia yakin jika...
.
.
Saat Tuhan memberimu luka, itu bukan semata ingin menghancurkanmu , tapi justru ia memintamu semakin kuat. Semua pernikahan pasti akan bertemu dengan masalahnya sendiri karna di dalamnya terdapat dua kepala manusia yang jauh dari kata Sempurna.
__ADS_1