
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂.
Sesuai permintaan Aurora, ia diantar oleh suaminya kerumah utama. Keduanya tentu disambut baik oleh keluarga termasuk Amma yang begitu merindukan Sang cucu, sudah lebih dari seminggu ini Aurora tak datang menemuinya karna terlalu sibuk dengan segala aktivitas yang di lakukan wanita bercadar tersebut.
Aurora yang lemas langsung dibawa ke kamar oleh Leo, pria yang kini duduk di tepi ranjang pun tak henti mengusap kepala bidadari dunianya.
"Pulanglah, ini sudah sangat siang, Mas."
"Mana mungkin aku meninggalkan mu yang sedang tak sehat begini, La."
"Ameena pasti menunggu, ia sudah meneleponmu berkali-kali, Mas." Aurora yang merasa pusing lagi hanya bisa berbaring dengan posisi menyamping.
"La, kita pulang lagi ya," ajak Leo. Di Apartemen rasanya jauh lebih baik dibanding dirumah utama.
"Aku gak mau di sana sendiri," jawab Aurora.
"Denganku, La. Aku bersamamu, Ok." Leo meyakinkan istrinya jika ia mau menemani wanita itu dalam keadaan apapun.
Aurora tetap menggeleng kan kepalanya, hingga suara ketukan pintu mengalihkan fokus mereka.
"Aku buka pintunya dulu sebentar ya," ucap Leo yang kemudian mencium sekilas kening Aurora sebelum ia beranjak bangun.
__ADS_1
Cek lek
Leo tersenyum simpul saat melihat Nyonya dan Tuan besar Rahardian lah yang datang ke kamar. Leo menepikan posisnya agar pasangan baya itu bisa masuk.
"Sayang, kamu sakit?" tanya Amma yang tampak yang begitu khawatir.
"Hanya pusing, Amma."
"Pusing mikirin apa sih, La?" Appa punya racun tikus atau ampuh nih," kata Appa sambil terkekeh
Plaaak
"Cucuku lagi sakit, Mas," sentak Sang Khumairah.
"Amma, panggil dokter ya, biar kamu diberikam obat. Jangan dibiarkan, apa yang membuatmu sakit harus cepat dibasmi," ujar Amma dengan Antusias.
Leo hanya bisa mengusap Tengkuknya, semua keluarga besar Aurora tahu jika ia adalah pria beristri dua. Tapi, semua perlakuan yang ia dapat masih sama meski sesekali sindiran terdengar dengan jelas.
"Dede datang, Oey."
Suara Samudera diambang pintu membuat empat orang yang ada di dalam kamar menoleh bersama, ia datang dengan satu bungkus plastik ditangannya.
__ADS_1
"Bawa apa, Tut?" tanya Appa yang penasaran dengan apa yang diletakkan cucu kesayangannya.
"Appa mau tau aja apa mau tahu banget?" tanya Sam menggoda. Tingkahnya begitu menggemaskan sampai Sang Gajah langsung memencet hidung mancungnya.
Sam langsung membuka dan mengambil satu wadah di dalam plastik tersebut, ternyata ia membawa satu cup manisan buah Salak untuk Aurora.
"Nih, abisin ya," ucap Si tampan pada sepupu perempuannya tersebut.
"Makasih ya, Kak. Beli di tempat biasa 'kan?" tanya Aurora yang begitu senang.
Sam mengangguk, ia tentu tahu tempat yang dimaksud Aurora karna dulu saat mereka masing-masing belum menikah Sam sering diminta untuk mengantar Aurora berburu Manisan Buah yang cukup terkenal di ibu kota.
"Kamu pengen ini, La? kenapa gak bilang sama aku," kata Leo, entah apa yang dirasakan dalam hatinya kini.
"Kan ku pikir kamu mau pulang, Mas. makanya aku minta Kak, Sam yang belikan," jawab Aurora yang mencoba bangun dari baringnya, ia dibantu Appa dan Sam untuk bersandar di punggung ranjang.
"Mau dimakan sekarang? biar ku suapi ya," tawar Leo yang mulai menyiapkan.
.
.
__ADS_1
Gak perlu, Mas. kamu pulang saja, biar Kak Sam yang suapi aku.