Ternyata, Aku Bukan Istri Pertama.

Ternyata, Aku Bukan Istri Pertama.
Takdir Tuhan


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Kabar kehamilan Aurora disambut bahagia dan baik oleh dua keluarga, terutama Amma dan ibu mertuanya. Aurora sampai menitikkan air mata saat wanita yang menjadi Surga suaminya itu berkali-kali mengucapkan terimakasih kasih di tengah rasa hari. Ya begitu senang sampai terus menciumi wajah Aurora layaknya putri sendiri.


"Ibu bagai mimpi, Nak. Kamu sudah mengabulkan apa mau Ibu, terimakasih banyak dan Ibu mohon jaga kandunganmu," ucap Ibu sembari membelai sayang menantunya.


"Iya, Bu. Doakan aku dan bayi ini sehat selalu," balas Aurora.


Pelukan hangat pun didapat dari Ummi, Amma dan kakak iparnya yang kini semua telah berkumpul di Apartemen. Aurora begitu di manja dan selalu di tanya apa inginnya. Wanita itu hanya tersenyum simpul karna sejak awal tak pernah ngidam yang aneh-aneh seperti ibu hamil umumnya, hanya satu inginnya dulu yaitu sebungkus manisan salak yang dibeli oleh Samudera.


"Satu keturunanku kini ada dirahim istrimu, jaga ia sebagai mana mestinya," pesan Appa pada cucu mantu Laki-lakinya tersebut.


"Iya, Appa. Akan ku jaga sebaik mungkin," jawab Leo.


Ia yang baru datang kurang lebih satu jam lalu, tak lepas menyunggingkan senyum. Si jabang bayi hasil kerja kerasnya ternyata dambaan semua keluarga apalagi ibunya yang jelas terlihat begitu antusias dan meminta Aurora untuk tinggal bersamanya selama hamil ini.


"Olla akan tetap disini, Bu," jawab Leo saat mereka bicara berdua.

__ADS_1


"Lalu bagaimana dengan gadis itu?" tanya Ibu langsung ketus dan membuang muka.


"Ameena punya nama, dia juga sama menantu Ibu."


"Ibu tak pernah menginginkannya, Aurora sudah hamil anakmu jadi buat apa kamu masih dengannya?"


"Apa ada alasan aku untuk meninggalkannya? dia menerima pernikahanku dengan Olla, Bu. Wanita sebaik dan setulus dia tak pantas Ibu benci," kata Leo sambil menekan sabar dan emosinya.


Ibu yang tak pernah bisa menerima Ameena memang selalu memancing kemarahan putra semata wayangnya itu. Leo yang terus membela istrinya membuat ibu seringkali murka dan melampiaskannya langsung pada menantunya tersebut.


"Ibu salah besar, ia bahkan tak pernah minta uang dari ku sepesepun, ibu tahu kan ia masih bekerja sebagai pelayan meski sudah ku nikahi?" sindir Leo, ingin rasanya ia membuka mata wanita tersebut agar melihat sisi baik wanita yang ia cintai itu.


"Ia tetap tak pantas meski kamu sudah menikahinya. Kamu harus ingat, pernikahan kalian tak akan mendapat restu dari Ibu dan Ayah!"


Leo diam, untuk kali ini ia tak bisa membantah karna memang sepertinya Ameena tak bisa mengambil hati ibu apalagi kini Aurora sudah mengandung cucunya yang sudah lama di nanti.


Aurora yang sedikit mendengar perdebatan antara suami dan mertuanya pun langsung menghampiri. Ia tahu betul jika wanita paruh baya itu tak pernah merestui pernikahan pertama suaminya selama ini.

__ADS_1


"Bu, bisakah bersikap baik padanya juga, ku mohon."


Leo langsung menoleh dan meraih tangan Aurora untuk ia letakan diatas pahanya.


"Tapi dia--,"


"Kami semua menantumu, istri dari anakmu, Bu," tegas Aurora.


"Apa kamu sanggup berbagi suami?" tanya Ibu.


.


.


.


Jika aku tak sanggup menjalani takdir yang sudah ku lihat saat masih di rahim Ummi, mungkin aku tak akan lahir kedunia, Bu.

__ADS_1


__ADS_2