Ternyata, Aku Bukan Istri Pertama.

Ternyata, Aku Bukan Istri Pertama.
Seperti Hujan


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Kamu?! sedang apa disini?" tanya Ibu saat di depan pintu Apartemen putranya.


Wanita itu sangat terkejut saat melihat Ameena yang membuka benda bercat coklat terus.


"Bu--, apa kabar?" sapa Ameena sopan sambil meraih punggung tangan Ibu mertuanya.


"Mau apa kamu disini? mau mencelakakan menantuku, iya?!" sentak Ibu yang tuduhannya begitu menusuk jantung Ameena.


Mendengar ada sedikit keributan, Aurora yang baru saja mengerjakan kewajiban keduanya langsung bergegas keluar kamar, ia kaget karna ada Ibu mertuanya datang tanpa memberi kabar dan ini tentu diluar kebiasaan wanita paruh baya tersebut.


"Assalamu'alaikum, Bu." Aurora dengan cepat meraih punggung tangan Ibu untuk di ciumnya secara takzim.


"Waalaikumsalam, Nak. Kamu sehat? bagaimana bayimu?" tanya Ibu sambil mengelus perut besar Aurora yang kini sudah memasuki bulan ke tujuh.


"Alhamdulillah, sehat. Ibu gimana? kok tumben gak bilang mau kesini, ayo masuk," ajak Aurora sambil menuntun Surga suaminya ke ruang tengah.


"Ibu baik, Ibu kemari bawa makanan untukmu, kamu sudah makan?"


"Belum, Bu. Tadinya nunggu Mas Leo, katanya sebentar lagi mau pulang," sahit Aurora, ia memang melihat Ibu mertuanya membawa satu wadah besar yang entah apa isinya.


Ameena yang masuk dapur hanya duduk di kursi meja makan, ia meminun air putih yang justru rasanya bagai ribuan duri yang masuk kerongkongannya.

__ADS_1


"Aku bereskan ini dulu ya, Bu. Nanti kita makan sama-sama," ujar Aurora sambil bangun dari duduknya.


Ibu hanya mengangguk, ia menoleh kearah belakang untuk mencari keberadaan istri siri puteranya.


Baru juga Aurora masuk kedalam dapur ternyata Leo datang dengan membawa makanan dari Resto sesuai dengan keinginan dua istrinya. Ia yang sama kagetnya sampai menghentikan langkah.


"Ibu," panggilnya yang langsung duduk di sebelah wanita yang sudah melahirkannya puluhan tahun tersebut.


"Hem," sahut Ibu dengan deheman kecil.


Leo lalu melirik kearah Aurora yang memberikan senyum terbaiknya menandakan semua baik-baik saja.


.


.


Aurora meminta Ameena untuk melayani Leo, ia ingin Ibu mertuanya tahu jika selama ini wanita itupun mengurus anaknya dengan sangat baik. Awalnya Ameena menggeleng pelan karna ia takut saat Ibu memberinya sorot mata tajam mematikan.


"Kak Meena, bisa tolong ambilkan Mas Leo ikan pedasnya? aku gak bisa bangun," pinta Aurora pada madunya agar cepat melayani suaminya didepan Ibu mertua.


"I--iya, Kak."


Leo memijit pelipisnya, biasanya ruang makan tak akan se canggung ini jika hanya ada mereka bertiga. Leo membiarkan Aurora dan Ameena melayani sesuka hati mereka.

__ADS_1


"Kak Meena tadi pagi aku minta kesini buat temenin aku senam hamil, Bu. Dia nemenin aku rujakan juga loh," ujar Aurora yang tahu jika sebenarnya ada banyak tanya di benak wanita paruh baya tersebut.


"Kamu bisa hubungi Ibu jika butuh teman, La."


"Tak apa, Bu. Ibu harusnya kan banyak istirahat," sahut Aurora meyakinkan jika satu mantunya itupun layak ia akui.


Hanya Aurora dan Ibu yang mengobrol saat makan hingga selesai bahkan Leo tak angkat bicara sama sekali karna memilih menekan egonya, sekali ia terpancing sudah pasti akan ada pertengkaran di depan dua istrinya.


Ia tak ingin Aurora akan stress jika mendengar ia berdebat dengan Ibu, begitu pun dengan Ameena yang pasti akan semakin sedih karna alasannya lagi dan lagi karna dirinya.


Usai makan, Ibu berlalu ke ruang tengah yang di susul oleh Leo. Sedang di ruang makan tinggalah Ameena dan Aurora.


"Terimakasih, Kak. Tapi rasanya aku tak akan pernah baik di mata ibu," lirih Ameena sedih.


.


.


Jangan bicara seperti itu, Baikmu harus seperti Hujan yang tak perduli jatuh kemana tapi tetap bermanfaat.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Ntar di omelin PapAy loh La, Mimoy nya di bawa2 🤣

__ADS_1


Yang nanya novel #Secret Love itu novel Skala belum nikah ya, masih diem2 cinta sama Qia 🙈..


__ADS_2