Ternyata, Aku Bukan Istri Pertama.

Ternyata, Aku Bukan Istri Pertama.
Ada dan Siaga


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Kedatangan Ibu yang mendadak membawa hawa tak enak memang juga di Apartemen, wanita baya itu terus bersama Aurora tanpa memikirkan Perasaan Ameena.


Semua terasa canggung karna harus berhati-hati dalam bersikap dan berbicara sampai akhirnya Ibu pulang di antar oleh Leo.


Selama di dalam mobil tak banyak yang mereka bincangkan kecuali tentang kesiapan Auora dalam melahirkan kurang lebih dua bulan lagi. Dan selama itu juga Ibu memohon pada putranya untuk tetap bersama Aurora.


"Dia lebih membutuhkanmu!" tegas Ibu.


"Dua-duanya membutuhkan ku, Bu. Berhenti membandingkan mereka. Aku yang tahu ke kurang dan lebih istri-istriku. Ameena tak seburuk yang Ibu pikir," balas Leo.


Leo yang sudah jatuh cinta sejak pandangan pertama dan Ibu yang sudah tak suka sejak awal membuat keduanya selalu berdebat dan itu yang kadang membuat Ameena terpuruk dan merasa bersalah. Tapi, beruntunglah dia yang kini ada Aurora bersamanya, setidaknya wanita itu punya pegangan lain selain Sang suami pastinya.


"Ibun harap ia tak sering sering menemani Olla di Apartemen, Ibu tak ingin terjadi sesuatu pada cucu Ibu, paham kamu ArchiLeo Barata?!"


Leo hanya mengangguk, semakin sulit rasanya mengambil hati Ibu untuk bisa menerima Ameena maski kini ia sama dengan Aurora. Sudah satu minggu ini Leo memang meminta istri pertamanya itu menemani Si calon Ibu karna ia harus pergi pagi dan pulang hingga larut malam, Aurora bisa saja pulang ke rumahnya atau ke rumah utama tapi Ameena yang sangat antusias malah ingin selalu dekat dengan madunya.

__ADS_1


.


.


.


Usai mangantar Ibu kini saatnya Leo mengantar Ameena kerumah, hari ini sungguh benar-benar di luar rencana dan dugaan. Sampai Aurora rasanya begitu lelah dan tidur lebih awal tanpa tahu jika suaminya kembali lagi padanya.


"Mas," panggil Aurora saat ia mengerjap di jam satu malam.


"Ya, Zawjati," sahut Leo yang memang tidur dengan posisi menyamping juga, jadilah sebenarnya mereka sedari tadi tidur berhadapan.


"Ada sarah, gak apa-apa." Leo mengusap perut istri keduanya itu dengan lembut, tak pernah ada pergerakan jika ia sedang menyentuhnya, itulah yang kadang membuat Leo kesal pada calon anaknya itu.


"Aku lapar, Mas."


Mendengar permintaan dari Aurora, tentu membuat Leo langsung bangun dari baringnya.

__ADS_1


"Mau makan apa?" aku panaskan yang tadi Ibu bawa ya," tawar Leo.


"Enggak, aku mau goreng telor aja kasih irisan bawang yang banyak," pinta Si Ibu hamil yang memang sering lapar di tengah malam, ini juga yang kadang dipikirkan oleh Leo.


Jadilah ia sering pulang tengah malam dari rumah Ameena karna tak tenang meninggalkan AuroraAurora meski ada ART yang menemani.


Leo yang keluar lebih dulu dari kamar ternyata di susul oleh Aurora, ia duduk di kursi meja makan menuggu apa yang ia mau matang di sajikan oleh suami tercinta.


"Biar ku suapi," ucap Leo yang akan melakukannya langsung dari tangan tanpa sendok.


Aurora pun mengangguk karna ia pun senang di perlakuan seperti itu karna Leo hanya melakukannya pada Aurora saja selama ini.


"Terimakasih, meski tak selalu ada setidaknya kamu selalu siaga," ujar Aurora saat tiga suapan sudah masuk kedalam mulutnya.


"Cuma ini yang bisa berikan, ku harap kamu mengerti," balasnya sambil tersenyum kecil.


.

__ADS_1


.


Tentu, meski terkadang kita terlalu berlebihan dalam memikirkan sesuatu yang sebenarnya sudah Tuhan atur padahal hanya cukup diyakini dan di jalani bahwa rencana dan Ketetapannya adalah yang Terbaik.


__ADS_2