Ternyata, Aku Bukan Istri Pertama.

Ternyata, Aku Bukan Istri Pertama.
Sayang dan Zaujatii


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Kak.. pokonya aku mau yang kaya gitu juga ya???" rengek manja Ameena dengan tetesan air mata.


"Iya, ntar kita bikin," jawab Leo, ia tentu sedang fokus juga pada calon anaknya yang di periksa oleh dokter saat ini.


Aurora yang tersenyum kecil saat memaklumi apa yang terjadi antara Leo dan Ameena, tak ingin berpikiran macam-macam, ia memilih kembali mendengarkan apa yang di katakan oleh dokter.


"Semuanya bagus, detak jantungnya juga, apa ada keluhan?"


"Enggak ada dokter. Aku gak pernah mual dari awal cuma cepet capek sama kantuk terus," jawab Aurora mengatakan apa yang ia rasa.


"Ya sudah tapi masih harus di paksain untuk gerak ya," pesan dokter yang di iyakan oleh Aurora.


Selesai pemeriksaan, mereka pun keluar dari rumah sakit menuju mobil. Ameena yang tiba-tiba ingin makan sesuatu tentu langsung di setujui oleh Leo dan Aurora karna kebetulan satu arah pulang menuju Apartemen mereka.


"Pesen tiga ya?" ucap Leo pada salah satu pelayan.


"Kak, udah gerak belum sih? tadi kenapa balum kelihatan jenis kelaminnya?" tanya Ameena sambi mengelus perut yang terlihat sedikit buncit , tapi karna pakaian Aurora selalu longgar penampakan itu tak terlalu terlihat.


"Belum, nanti mungkin 5 atau 6 bulan baru bisa lihat itupun kalau gak ngumpet ya," jawab Aurora.


Obrolan seputar bayi dan kehamilan pun berlangsung hingga makanan yang mereka pesan kini habis. Setelah kenyang ketiganya pun memilih untuk pulang.

__ADS_1


Namun, hujan besar berserta petir serta langit yang begitu gelap membuat Ameena bersembunyi di balik punggung suaminya.


"Aku takut, Kak."


"Gak apa-apa, yuk pulang," sahut Leo.


"Kak Meena pulang ke Apartemen aja dulu ya, kalau kerumah jauh lagi," kata Aurora.


Leo dan Ameena pun saling pandang untuk sesaat. Aurora tahu jika orang yang menemani madunya itu memang sedang tak bersama Ameena sejak kemarin.


Ameena pun mengangguk meski Leo masih ragu dengan ajakan Aurora.


Ketiganya pun langsung masuk kedalam mobil menuju tempat tinggal Leo dan Aurora.


.


.


"Tinggalah disini selagi Sarah tak ada, aku juga sendiri jika Mas Leo tak ada," tawar Aurora.


"Tak apa, Sarah besok pulang kok," jawab Ameena tak enak hati, ia takut besar hatinya justru berubah jadi besar marah mengingat emosinya masih labil.


"Ya sudah, aku tak memaksa."

__ADS_1


Obrolan keduanya pun terhenti saat Leo keluar meminta Aurora untuk membersihkan diri, begitupun dengan Ameena.


Kedua istrinya itupun menurut dengan memakai kamar yang berbeda karna Ameena masuk kedalam kamar tamu yang dulu di awal pernikahan di tempati oleh Aurora.


Selesai membersihkan diri, mereka makan bersama dan setelahnya Leo pamit sebentar ke bawah karna ada seseorang yang akan ia temui di lobby Apartemen.


Semua nampak normal karna tak ada rasa canggung yang terjadi pada Ameena dan Aurora, hanya saja Leo yang sangat berhati-hati dalam bersikap agar tak kebablasan.


Dan setelah hampir satu jam, pria itu pun kembali ke Unit Apartemennya. Ia bingung karna tak ada siapapun di ruang tamu dan tengah. Langkah Leo pun langsung menuju ke kamar tamu, tapi sosok Ameena tak ia temukan disana.


...Cek lek...


Leo mengernyitkan dahi dan berhenti di ambang pintu saat melihat Aurora dan Ameena justru sedang berbaring di ranjang bersama.


"Aku kira kalian kemana," ucap Leo yang berjalan masuk lalu duduk di tepi ranjang.


"Sayang, kamu udah minum obat?" tanya Leo pada Ameena sambil mengelus pipinya, ia mirip sekali dengan anak kucing jika sedang meringkuk.


"Udah, Kak." sahut Ameena.


"Ya zawjatii, vitaminmu sudah diminum juga belum?" kini pertanyaan Leo lontarkan pada Aurora yang di jawab anggukan kepala karna ia merasa geli jika Leo mengelus perutnya.


.

__ADS_1


.


Ya sudah, kalian istirahat ya, aku tidur di kamar tamu.


__ADS_2