
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Kak," panggil Ameena setelah beberapa menit suami mereka keluar dari kamar.
"Hem, apa?" sahut Aurora.
"Kak Olla mau tidur?"
"Iya, kamu bukannya udah ngantuk?" Aurora jelas melihat jika kedua mata madunya itu tadi sudah terpejam.
"Belum, boleh aku bertanya sesuatu?"
Aurora hanya mengangguk, ia mencoba menarik napas lalu di buangnya pelan agar lebih rileks saat menjawab apa yang akan di tanyakan Ameena padanya.
"Kenapa Kak Olla mencintainya? padahal jelas jika dia mencintaiku?" tanya Ameena.
"Aku hanya mencintai pria yang menikahiku, karna itu sudah kewajibanku sebagai istri untuk memberikan hati dan cinta pada suaminya, tak lebih dari itu," sahut Aurora karna ia memang tak punya alasan lain untuk hal tersebut.
"Dia baik padamu?"
"Tentu,"
__ADS_1
"Kami berpacaran cukup lama, ia sangat memanjakanku sampai aku merasa sangat bergantung padanya. Hingga menikah dan mengalami kecelakaan, semua kulewati berdua dengannya. Hingga Kak Olla hadir diantara kami," lirih Ameena.
"Andai aku tahu, aku pun tak ingin seperti ini," balas Aurora.
"Aku yang salah, demi aku kalian harus terjebak dalam sebuah perjodohan hingga menikah."
"Sudahlah, tak ada yang salah. Semua sudah takdirnya. Aku maupun kamu adalah makmum dari satu imam yang sama, tugas kita hanya berbakti dan mengurusnya dengan baik. Aku tak punya pikiran apapun termasuk bersaing denganmu karna itu hanya akan menimbulkan penyakit hati." Aurora menepuk punggung tangan Ameena yang sedari tadi mengengamnya.
"Jangan minta aku mundur ya, aku tak punya siapapun lagi kecuali suamiku, ku mohon," pinta Ameena dengan mata berkaca-kaca.
"Hey, kamu bicara apa? aku tak sejahat itu. Justru jika aku bisa, aku yang ingin mundur tapi sayangnya aku terlalu mencintai suamimu itu," kata Aurora sambil terkekeh.
"Hah, mimpi apa aku, bisa berbagi suami seperti ini?"
Tak ada keadilan nyata yang bisa di lakukan suami saat berumah tangga dengan jalur poligami. Entah itu adil dari segi waktu, kasih sayang, cinta maupun materi karna Adil kadang tak harus sama rata, tapi siapa yang lebih membutuhkan.
Malam yang semakin larut membuat dua wanita itu terlelap tapi tidak dengan Leo yang ternyata masih di ruang tengah, matanya sulit terpejam karna tak ada yang bisa ia peluk malam ini meski jauh dari dalam hatinya berharap salah satunya keluar. Tapi, bayangan itu segera di tepis sebelum mendapat sumpah serapah lagi dari emak-emak dunia nyata.
.
.
__ADS_1
Pagi menjelang, Ameena yang tak berniat menginap tentu tak membawa baju ganti. Ia yang bingung sendiri akhirnya di pinjamkan satu baju gamis oleh Aurora.
"Kebesaran, Kak," ucap Ameena yang memang memiliki tubuh lebih imut dari madunya itu.
"Gak apa-apa, itu yang paling kecil loh," kata Aurora yang justru senang melihat wanita muda itu memakai pakaiannya.
"Kak Olla gak punya kaos sama celana panjang aja gitu?"
Aurora pun langsung menggeleng kan kepalanya, semua bajunya tertutup dan panjang ia tak pernah berani memperlihatkan lekuk tubuhnya kecuali pada suaminya kini.
"Udahlah, ini cantik banget, yuk keluar, kita cari sarapan," ajak Aurora yang justru tak sabar ingin memperlihatkan tampilan Ameena yang lebih rapih pada Leo.
Dan benar saja, ponsel yang di pegang pria itu sampai jatuh ke lantai saat Aurora dan Ameena kini berdiri tepat di depannya.
.
.
.
Ya Ampun! jangan sampai aku salah sebut nama kalo peluk dari belakang.
__ADS_1