Ternyata, Aku Bukan Istri Pertama.

Ternyata, Aku Bukan Istri Pertama.
Tanpa Karena.


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Hari berlalu, hujan lebat berserta petir membuat Ameena hanya bisa meringkuk diatas ranjang seorang diri dalam rumah karna Sarah tak kunjung pulang dari pasar. Ia yang takut tak berani meski hanya sekedar meraih ponsel di atas nakas.


Ameena memang takut dengan petir, ia selalu ingat teman masa kecilnya yang tewas karna hal itu dan rasa traumanya ternyata berlangsung sampai ia dewasa.


Ia yang menyembunyikan wajah di bawah bantal tersentak kaget saat ponselnya berbunyi, dari nada dering yang ia dengar itu adalah panggilan dari suaminya.


Takut, ia tentu masih merasakan itu tapi ia juga tak mau membuat Leo khawatir.


"Ha--hallo, Kak," jawab Ameena dengan tangan bergetar.


"Sayang, kamu gak apa-apa?" tanya Leo panik.


Ia menelepon Ameena sambil berjalan keluar dari ruangannya berniat untuk pulang setelah Sarah mengabari jika ia sedang terjebak hujan, macet dan banjir didekat pasar.


"Aku--, aku takut, Kak." tangis yang tadi hanya isakan kecil kini pecah saat mendengar suara suaminya.


Leo yang takut terjadi sesuatu pada Ameena yang dirumah sendirian sampai berlari menuju mobil yang terparkir di depan Resto. Ia tahu bagaimana wanita itu jika ada hujan beserta petir.

__ADS_1


Selama perjalanan, Leo tak mematikan panggilan teleponnya ia terus menenangkan Ameena agar berhenti menangis karna takut sampai tak sadarkan diri. Dengan kecepetan tinggi akhirnya Leo sampai di rumah. Ia langsung masuk kedalam kamar untuk mencari keberadaan istrinya.


Braaaaak


Pintu di buka dengan sangat kencang sampai Ameena yang masih meringkuk pun terlonjak kaget.


Leo yang langsung naik keatas ranjang tentu langsung memeluk istri pertamanya.


"Aku takut, aku bener-bener takut," lirih nya sedih di sela isak tangis.


"Jangan nangis ya, aku disini."


.


.


.


Hingga sampai sore, justru kedua bangun dari tidur bersama masih dengan posisi saling memeluk, menghangatkan tubuh di tengah derasnya hujan di luar yang kini tersisa gerimis kecil.

__ADS_1


"Kak, aku kita mimpi," ujar Ameena dengan suara serak khas bangun tidur.


"Hem, aku tak akan meninggalkanmu dalam keadaan apapun, Sayang," jawab Leo.


"Boleh ku pegang ucapanmu?" tanya Ameena dengan wajah mendongak agar tatapan mereka saling bertemu.


"Tentu, aku tak akan ingkar. Cukup sekali aku membohongimu," ucap pria itu yang malah mengeratkan pelukan.


Beberapa saat Ameena diam menikmati pelukan hangat seorang suami yang kini tak sepenuhnya jadi miliknya. Ia harus terus ikhlas berbagi dan menahan pikiran buruknya saat malam pria itu sedang tak pulang ke rumahnya.


Leo yang juga sibuk dengan segudang pekerjaan selalu menyempatkan diri untuk datang kapapun itu, entah hanya satu atau dua jam setiap siang atau malam jadi mereka tetap bertemu setiap hari. Ameena masih bersyukur akan hal itu ditengah posisi madunya yang lebih dari segalanya.


"Hidupku sangat bergantung padamu, aku tak punya pegangan lagi jika bukan denganmu. Sedangkan dia punya segalanya, dia lebih cantik, baik, solehah dan pastinya kaya raya. Dia juga di sayang keluarga terutama Ibu yang sama sekali tak pernah menoleh padaku. Jelas kami sangat berbeda bagai langit dan bumi, aku tak sehebat istri keduamu. Lantas, apa yang membuatmu tetap mempertahankan posisiku dalam hati dan hidupmu?" tanya Ameena.


.


.


Aku mencintaimu tanpa KARENA, jika kamu tanya alasannya, tentu aku pun tak tahu.

__ADS_1


__ADS_2