
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Jangan begitu, Mas. karna istri kedua kadang masih bisa menerima istri pertama. Tapi tidak dengan istri pertama sebab tak semua bisa menerima kehadiran yang kedua."
"Aku tahu, La." jawab Leo yang masih menikmati makanannya.
"Lalu?"
"Kamu yakin mau memintaku bicara padanya tentang pernikahan kita secepat ini?" tanya Leo memastikan.
"Lebih cepat lebih baik, jangan bohongi dirinya terus menerus. Cukup sakit sekali, jangan berkali-kali. Aku pernah ada diposisinya dan itu menyakitkan, Mas. Dan aku berharap dia bisa menerimaku," tegas Aurora yang sudah tak ingin bermain kucing-kucingan terlalu lama.
"Bagaimana jika ia tak menerimamu?"
"Aku paham, dan sangat mengerti jika itu keputusanya. Disana ia harus ikhlas berbagi sedang aku aku Terima di bagi. Tak ada yang beruntung untuk kami, dua istrimu."
Leo meletakkan sendok ke sisi piringnya yang sudah kosong, biasanya ia akan kesal jika membahas hal berat jika sedang makan. Tapi tidak kali ini yang nampak santai karna fokus pada perutnya yang sedang diisi.
"Hem, hanya aku yang beruntung disini, haha" Leo yang tertawa ternyata memancing tanduk seorang Aurora keluar secara tiba-tiba.
Plaaak.
__ADS_1
"Sakit, La."
"Katakan sekali lagi?" tantangnya kesal.
"Ampun, La. Kamu kenapa sih? Aku lagi kangen loh sama kamu, udah ya jangan bahas Ameena lagi. Aku mohon." kali ini Leo benar-benar ingin bersama istri keduanya. Ia sudah banyak memberi waktu pada Ameena beberapa waktu kemarin, jadi sangat wajar jika ia ingin hanya Aurora dimatanya kali ini.
"Aku benci kamu, Mas. Ngeselin!"
Leo sampai membulatkan kedua matanya tak percaya, seorang wanita cantik, anggun, sopan dan penuh kelembutan justru setengah hari ini bersikap aneh dan sedikit menyebalkan karna ketusnya saat bicara.
"Apa ini akhir dari rasa sabarmu?"
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
"Ya sudah, kamu istrahat ya, jangan lupa minum obatnya. Akan ku kabari nanti jika pulang," ucap Leo sebelum menutup teleponnya.
"Hem, baiklah. Jangan lupakan aku ya, Kak."
"Mana mungkin, Sayang," balas Leo yang ia yakin Ameena sedang tersenyum disana.
Setelah mengakhiri teleponnya, Leo bergegas masuk kedalam kamar. Sudah lebih satu jam ia meninggalka Aurora demi Ameena.
__ADS_1
Cek lek
Leo membuka dan menutup benda bercat coklat itu dengan pelan karna takut istrinya sudah terlelap, sebab salah satu bidadari dunianya sudah meringkuk di balik selimut tebal.
"La, Cantiknya aku lagi kenapa sih ini? kaya kurang sesajen marah-marah terus," tanya Leo, ikatan cinta yang semakin kuat pada wanita itu membuat ia hubungan mereka semakin baik.
Apapun kini sudah bisa diceritakan oleh Leo karna rasa nyaman yang diberikan Aurora membuatnya kini semakin tak bisa jauh dan lepas.
"Tidur, Mas. Aku ngantuk," ujar Aurora masih memejamkan matanya, ia biarkan pipinya di usap lembut berkali-kali oleh pria yang kini juga berbaring menyamping di hadapannya.
"Aku belum ngantuk, La. Yuk," ajak Leo yang dipahami oleh Aurora.
"Aku ngantuk."
"Aku enggak," balas leo yang sentuhannya kini sudag turun dari pipi ke leher.
Dan, belum juga Leo mendaratkan bibirnya, Aurora justru membuka mata sambil menutup bibir dan hidungnya.
.
.
__ADS_1
Mas, kok bau sih? tidur di luar sana!!!