Ternyata, Aku Bukan Istri Pertama.

Ternyata, Aku Bukan Istri Pertama.
Pamitnya Sang pemilik hati.


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Tidurlah, sini aku peluk," jawab Leo sambil membawa tubuh istri pertamanya itu kedalam dekapannya.


Ini adalah malam pertama bagi mereka setelah banyak melewati berbagai keadaan, di iringi rasa sabar dan air mata akhirnya semua kembali bahagia.


"Aku tak apa jika kakak ingin, akan ku layani sebaik mungkin," kata Ameena yang hanya di jawab senyuman kecil.


Leo menggelengkan kepalanya, ia hanya mencium kening Ameena sekilas namun penuh perasaan. Bukan tak bernapsu, hanya saja ia memang tak ingin melakukannya, karena....


Triiing


*Ola


[ Hanya dua hari, setelah iyu aku pulang. Tak apa ya, nikmati harimu bersama Ameena,]


Leo membaca pesan dari Aurora dengan perasaan kesal, ia yang merindu malah harus rela ditinggalkan dua hari ke luar kota oleh istri keduanya.


*Leo


[ Tapi aku ingin bertemu denganmu, La. Aku kangen, ]


Leo sedikit mendesah, dan itu membuat Ameena sedikit bertanya-tanya ada apa dengan suaminya.


"Ada masalah dengan Resto?"


"Gak ada, ayo tidur."

__ADS_1


Ameena hanya mengangguk, ia tak mau membantah apalagi berdebat. Ini adalah malam yang sangat ia harapkan meski jauh dari apa yang sudah ia impikan.


.


.


.


Pagi hari Ameena sudah bangun, kepalanya yang sedikit sakit malah membuatnya nekat untuk membersihkan diri. Sedang Leo yang masih terlelap semakin mengeratkan pelukan pada bantal guling di balik selimut. Ia yang sudah rapih dengan menggunakan dress diatas lutut entah kenapa menghentikan langkahnya tepat didepan nakas ranjang.


Ponsel Sang suami yang tergeletak begitu saja kali ini membuatnya penasaran, padahal semenjak bersama Ameena tak pernah sama sekali menyentuh barang pribadi suaminya tersebut.


"Tumben pake kunci PIN," gumam Ameena saat ia memegang benda pipih milik pujaan hatinya.


Hatinya berdesir lagi ketika melihat wallpaper layar ponsel Leo, memang tak ada yang aneh hanya seperti gambar dua tangan saling menggengam tapi seolah Ameena tahu siapa tangan salah satunya.



Rumah yang selalu nampak sepi itu memang sejak dulu hanya di tinggali berdua saja. Ameena bukan wanita manja yang ingin di layani dengan adanya ART meski berkali-kali Leo menawarkan.


Ia yang juga masih bekerja di Resto tak terlalu pusing memikirkan masalah rumah, mau kerjakan jika tak mau tak akan memaksa.


Langkahnya kini masuk kedalam dapur, sepertinya Leo sudah menyiapkan segalanya sebelum mereka pulang karna ini sama seperti terakhir saat ditinggalkan. Semua serba ada tanpa kekurangan, bahan makanan pun terasa begitu lengkap di lemari pendingin.


Lain di dapur, lain juga di kamar. Leo bergeliat saat wangi masakan menggoda indera penciumannya sepagi ini.


"La--," gumamnya, tapi ia terlonjak saat ingat sesuatu. .

__ADS_1


"Ya ampun!"


Leo menoleh kearah nakas, niat hati ingin melihat jam ia justru membaca satu pesan berisi kalimat pamit dari istrinya.


*Ola


[ Aku pergi ya, Mas. Kita bertemu lagi lusa itupun jika kamu merindukanku,]


*Leo.


[ Cepat kembali, jangan siksa aku terlalu lama ]


Leo meletakkan lagi ponselnya, ia bangun dan berjalan kearah dimana Ameena kini berasa.


"Sepagi ini sudah masak? apa kamu yakin sudah sehat?" tanya Leo yang masih khawatir dengan keadaan istru sirinya.


"Jangan tanya keadaanku, bukankah sesakit apapun istri ia akan tetap bisa melayani suami?" jawab Ameena sambil tersenyum kecil.


"Jangan dipaksa, Sayang."


Ameena menggelengkan kepalanya, hal seperti ini sungguh sangat ia rindukan dimana bisa duduk berdua lagi untuk menceritakan banyak hal.


"Kak, apa rencana kita setelah ini?"


"Rencana?" Leo balik bertanya yang di jawab anggukan kepala.


.

__ADS_1


.


Aku ingin program hamil, Kak..


__ADS_2