Ternyata, Aku Bukan Istri Pertama.

Ternyata, Aku Bukan Istri Pertama.
Sosok yang di Puja.


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Ini manisannya mau diketekin dulu gak biar makin asem?" goda Sam sambil tertawa yang langsung mendapat cubitan dari Amma yang terus saja meledek Aurora, karna wanita cantik yang terlihat pucat itu sudah sangat ingin menikmatinya.


"Jorok, ih!"


Suapan demi suapan dilakukan oleh Samudera hingga satu cup manisan salak itu habis sampai ke airnya. Aurora nampak senang bagai menemukan harta karun.


"Enak? nanti beliin lagi ya," punya cucu Rahardian itu pada Samudera.


"Nanti biar aku yang belikan, La." selak Leo yang masih berdiri di dekat ranjang menikmati drama siap suapan istri dan sepupunya tersebut.


"Ini dekat kantor, Mas. Kalau dari kantor atau rumahmu cukup jauh," balas Aurora.


"Meski harus menempuh jarak hingga seumur hidup pun jika kamu yang minta ku usahakan," timpal Leo, ia sedang cemburu, sangat dan benar-benar cemburu.


"Aih, co cwit sampe mules, hahaha" Samudera tertawa sambil keluar dari kamar Aurora.


Begitupun dengan Amma dan Appa, mereka juga ikut keluar agar pasangan suami istri tersebut bisa menghabiskan waktu bersama.


"Aku cemburu," Lirih Leo.


Aurora yang sudah kembali berbaring tak memberikan eksperi berarti, wajahnya datar seolah tak perduli dengan kata cemburu yang di lontarkan suaminya.

__ADS_1


"Yuk pulang," ajak Leo lagi.


Aurora menggelengkan kepala dengan cepat.


"Aku takut sendiri," jawab Aurora.


Kalimat yang terucap dari bibir manis istrinya itu membuat Leo langsung memeluk tubuh yang hari ini terasa begitu aneh menurutnya.


"Sama aku La, aku gak bisa pulang kalau kaya gini," ucao Leo.


"Ameena sedang menunggumu, jangan pikirkan aku, Mas."


"Itu bisa ku atur, bukankah katamu aku bisa datang kapanpun itu jika sedang merindumu? dan rindu itu rasanya masih meluap dan menyesakan dadaku," ucap Leo sambil memegang dagu Aurora untuk diangkatnya agar mereka bisa saling menatap.


"Gak mau ih, kamu BAU BANGET!"


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Lain di kamar, lain juga di ruang tengah lantai dua yang kini ada Appa dan Amma juga Si Tutut Markentut yang langsung menempel pada Sang Gajah.


"Tadi Dede muter-muter nyari manisan, loh." adunya pada pasangan baya yang dengan sedang lembut mengusap kepalanya.


"Iyakah? katanya beli di tempat biasa," timpal Appa.

__ADS_1


"Manisannya Upet-upet Oey," sahutnya sambil tertawa.


Appa yang gemas, tak perduli pria itu sudah berbuntut langsung menciumnya hingga tergelak.


"Mas, Ola kelihatan lebih kurus ya, matanya sendu banget. Aku kok aneh sama badannya loh," ujar Amma pada suaminya yang sedang mengungkapkan rasa curiganya itu.


"Sama aja, apanya yang beda?" Appa balik bertanya.


"Entah, tapi menurutku beda banget."


Keduanya terus mengobrol sambil mencari solusi atas rumah tangga Aurora dan Leo. Meski tak ikut campur secara terang terangan tapi mereka tetap memantau dan menjaga satu-satunya cucu perempuan Rahardian Wijaya tersebut.


Apalagi ini bukan masalah biasa bagi mereka. Entah dosa apa yang pernah dilakukan para pendahulunya sampai karma istri kedua harus jatuh pada Aurora.


"Nanti biar ku bicarakan lagi padanya, Mas," ujar Amma yang keukeh tak terima sejak tahu apa yang sedang menimpa cucu kesayangannya.


.


.


.


Sudahlah, jangan menasehati orang yang sedang jatuh cinta. Matanya buta dan telinganya tuli. Semua hanya tertuju pada satu sosok yang sedang ia PUJA saat ini. Biarkan saja dulu, sampai akhirnya ia sakit karna terlalu dalamnya mencintai.

__ADS_1


__ADS_2