Ternyata, Aku Bukan Istri Pertama.

Ternyata, Aku Bukan Istri Pertama.
Demi keturunanku.


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Skala Barata Rahardian Wijaya.


Lahir dengan panjang 50cm dan berat 3900gram langsung mencuri perhatian semua keluarga yang datang menjenguknya. Ia begitu tampan dengan pipi bulat menggemaskan, alhasil tubuh montoknya itu tak pernah ada di kasur, karena ada saja yang menggendong makhluk menggemaskan tersebut.


Amma yang begitu bahagia karna mendapatkan cicit laki-laki tak lepas memberi senyum, ia senang karna di umurnya yang sekarang masih bisa melihat para keturunannya yang lahir sehat dan sempurna.


"Ganteng ya, Mas," ujar Nyonya besar Rahardian pada Suaminya.


"Iya, mana kaya banget kecil begini juga," kekeh Appa yang sudah jauh-jauh hari menyiapkan warisan untuk cicit laki-laki pertamanya, tepatnya saat Aurora dinyatakan hamil.


Dan sore ini, Aurora memang sudah diizinkan pulang oleh dokter, tak ada yang perlu di khawatirkan oleh wanita itu sejak selesai melahirkan. Semua baik termasuk ASI nya yang melimpah untuk Sang putra.


.


.


.

__ADS_1


Sesuai Rencana, Ia dan suami akan pulang ke kediaman Rahardian. itu keputusan tepat agar lebih mudah Ummi dan Ibu mengurus Aurora an bayinya meski harus mengorbankan Ameena yang pastinya akan kecewa karna kesepian. Ia tak berani datang ke rumah mertua suaminya karna malu dan tak enak hati sebab keluarga Rahardian tahu tentangnya.


Tak ada yang membenci sosok Ameena, hanya ibu yang memang sejak dulu menentang hubungannya dengan Sang Putra karna alasan bibit bebet dan bobot. Leo pantas mendapat wanita yang sepadan, baik dan Solehah, itulah yang Ibu harapkan selama ini hingga ia membuat perjodohan dengan keluarga Rahardian yang sudah cukup di kenalnya secara baik.


Aurora yang satu mobil dengan suami dan mertuanya duduk di belakang dengan Ibu, ia mendekap hangat buah hatinya yang tiga hari lalu di lahirkannya dengan bertaruh nyawa karna nikmatnya sungguh luar biasa. Tapi semua hilang saat mendengar Skala menangis dengan kencangnya.


"Senyumnya mirip denganmu, Nak," ujar Ibu yang bahagia sekali. Ada nama keturunan Konglomerat di belakang nama cucu laki-laki pertamanya itu.


"Iya kah? Aku sayang dia, Bu. Sangat." lirih Aurora dengan mata berkaca-kaca karna masih tak percaya jika kini ia sudah menjadi seorang Ibu.


"Kami semua menyayanginya, Nak."


"Kalian istirahat ya," pesan Ummi saat meletakkan Skala di box bayinya.


Rencana untuk tinggal di Kediaman Rahardian membuat Aurora dan Leo tak membeli apapun untuk di Apartemen melainkan semua di taruh di kamar Sang ibu.


"Iya, Ummi, terimakasih banyak," jawab Aurora yang kini sudah duduk di tepi ranjang.


Kini tinggal ia, Skala dan Leo yang berada di kamar. Ramainya ruang inap di rumah sakit karna yang menjenguk dan menemani terus silih berganti membuat pasangan itu tak punya waktu berdua meski hanya sekedar mengobrol saja.

__ADS_1


Dan sekarang waktunya Leo mencurahkan isi hatinya pada wanita yang kini tak hanya menjadi istrinya, tapi Ibu dari putra sulungnya.


.


.


Ya zawjatii.. terimakasih untuk segalanya, semua yang terbaik sudah kamu berikan untukku. Bahkan nyawa pun sudah kamu pertaruhkan demi keturunanku..


***************


Kalo ada yang bilang ini kisah anaknya dulu baru orang tuanya, SALAH besar ya, karna novel ini pertama kali up tanggal 18 juli, sedangkan Skala itu dari Oktober. cuma karna ini pindahan dari rumah lain, jadi kesannya mundur.


Tak ada Asap kalau tak ada Api.


Yuk, introspeksi jarinya, saya gak akan nyubit kalo gk di cubit duluan, begitupun buat bales komen.


#Haturnuhun


#SemogaTetapBahagia.

__ADS_1


__ADS_2