
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Mas, kok bau sih? tidur di luar sana," titah Aurora pada suaminya yang sudah sangat ingin di layani.
Kesempatan seperti ini tak pernah di sia-siakan oleh Leo semenjak ia sudah menikmati manisnya madu surgawi Sang istri. Mereka yang jarang bertemu sejak Ameena dinyatakan sembuh biasanya akan menghabiskan malam dengan sangat indah, tapi rasanya tidak untuk saat ini, sikap Aurora yang aneh sejak pulang membuat banyak tanya dalam benak Leo.
"Mana ada aku bau, La." protes Leo sambil mencium ketiaknya sendiri karna ia sudah melepas baju atasannya, terbukti pria itu hanya memakai celana piyama panjang.
"Badan sendiri ya pasti gak ke cium lah," ledek Aurora yang menyembunyikan wajahnya di balik bantal.
"Tapi emang gak bau, La," ujar Leo lagi memastikan.
Aurora yang benar-benar mengantuk langsung tertidur tak perduli lagi dengan ocehah suaminya.
Leo yang tak bisa memejamkan mata sesekali terus melirik kearah Aurora berharap wanita cantik alami itu mau membuka mata. Tapi sayang, hingga sepertiga malam ia baru bergeliat dan menunaikan kewajibannya.
Disaat seperti ini biasanya Aurora tak pernah kembali terlelap, namun entah kenapa rasa kantuk kembali menyerangnya. Ia seolah tak ada kenyangnya untuk mengarungi mimpi.
"Loh, Mas!" pekiknya kaget saat justru berada diatas ranjang karna seingatnya Aurora sedang menunggu subuh datang.
"Kamu ketiduran, makanya ku pindah," jawab Leo. yang paham dengan pertanyaan yang ada di otak wanita halalnya.
__ADS_1
"Badanku sakit, Mas. Pinggang ku juga," adu Aurora yang merasa tubuhnya terasa lain.
"Ke dokter yuk, kita periksa ya. Kamu juga tidur terus loh, apa kemarin kemarin kamu kurang istirahat?" tanya Leo.
"Enggak, aku kaya biasanya kok, Mas."
"Siap-siap ya, kita kerumah sakit," ajak Leo lagi yang dibalas gelengan kepala oleh Aurora.
"Aku gak apa-apa, aku siapkan sarapan dulu ya, kamu mau pulang kan? jangan sampai datang kerumah istrimu dengan perut yang kosong," kata Aurora sambil merapihkan dirinya lagi, rambut panjang yang mulanya ingin di ikat pun ditarik lagi oleh suaminya.
"Apa kamu juga akan membiarkanku pulang dengan hasrat yang---"
"Apa?" potong Aurora dengan kedua tangan berada di pinggang rampungnya.
"Yuk, sarapan dulu, nanti abis makan ya. Kalau sekarang kamu pasti lemes," rayu Aurora.
Leo mengembangkan senyumnya, ia mengangguk dan menurut saja saat tangannya di bawa keluar dari kamar menuju dapur tepatnya ruang makan.
Aurora hanya masak seadanya untuk mereka berdua karna dipikirnya siang nanti Leo akan pulang pada istrinya yang pertama.
Tak adanya jatah harian yang ia dapat, membuat Aurora hanya bisa menunggu kapan suaminya datang berkunjung.
__ADS_1
"Nanti sebelum kamu pulang, antar aku kerumah utama ya," pinta wanita bergamis hitam itu.
"Ngapain?"
"Gak ngapa ngapain," jawab Aurora santai sambil tetap melayani suaminya.
Leo makan apa yang di suguhkan istrinya, matanya tak lepas menatap kecantikan Aurora yang tentu hanya dia yang bisa menikmatinya sebagai suami. Wanita itu sudah benar-benar menjadi miliknya yang tak akan ia lepas.
"Mas, kenapa?"
"Jangan pergi ya, janji tetap denganku apapun yang terjadi padaku, kamu dan dia," mohon Leo penuh harap.
"Sudah berapa kali ku bilang, tugasku hanya mempertahankan pernikahan, dan aku akan pulang jika kamu yang mengembalikan."
"Aku tak akan melakuan itu," sahut Leo meyakinkan wanita yang kini tersenyum simpul padanya.
.
.
.
__ADS_1
Iya kah? terus yakin kan aku bahwa kamu tak mencintaiku layaknya sebuah detik jam, yang kamu lihat saat di perlukan saja...