Ternyata, Aku Bukan Istri Pertama.

Ternyata, Aku Bukan Istri Pertama.
Panggilan..


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Sudah rapih?" tanya Leo sambil memeluk Aurora dari belakang, ia ciumi pundak dan pipi wanita itu yang sudah berlalut pakaian rapih dan sangat tertutup.


"Sudah, Mas. Ayo."


Leo bukan melepas pelukannya, ia justru memutar tubuh Aurora agar berhadapan dengannya sampai wanita itu bingung dengan apa yang akan dilakukan suaminya.


"Terimakasih, cantikmu selama ini hanya aku yang tahu," bisik Leo yang kemudian memeluk Aurora.


"Sama-sama, Mas. Itu sudah menjadi kewajibanku sebagai istrimu. Semua ku berikan padamu semoga kamu mampu menerima baik burukku dan kurang lebih ku selama ini," balas Aurora yang membalas pelukan suaminya.


Rasa nyaman kembali mereka rasakan, pasangan yang dulu sama-sama berjuang meski berbeda tujuan itu kini semakin menyatu mana kala ada seorang makhluk kecil di antara mereka.


Doa dan sabar Aurora berbuah manis saat cintanya tak lagi bertepuk sebelah tangan. Perlahan Leo menerima dan membalas perasaannya. Hanya itu yang di inginkan Aurora karna satu atap berbeda perasaan adalah kenyataan yang menyakitkan. Ia lebih memilih berbagai dibanding harus bertepuk sebelah tangan.


Leo mengurai pelukannya, ia tangkup wajah Aurora dengan kedua tangannya kemudian mendaratkan bibirnya di kening wanita itu.


.


.

__ADS_1


.


Siapa sangka seoranh cucu dari pasangan Reza Rahardian Wijaya dan Melisa akan meminta suaminya ke pasar malam hanya demi sebuah gulali, Leo sampai meyakinkan dirinya sendiri karna takut salah dengar dengan apa yang ia dengar.


"Tapi aku mau warna Biru, gak mau yang merah muda," pinta Aurora saat keduanya masih berada di dalam mobil.


Leo menggaruk kepalanya yang tak gatal, dimana ia harus mencari pasar malam yang bukan ada di akhir pekan.


"Memang rasanya beda?" tanya Leo karna ia sendiri tak pernah memakannya semenjak ia besar dan dewasa.


"Enggak sih, Sama-sama manis cuma suka warna Biru aja," sahuy Aurora.


"Anak kita laki-laki mungkin ya?"


"Apa saja, laki-laki atau perempuan bagiku sama saja, Mas."


"Hem, tapi kalau bisa anak pertama kita laki-laki ya, biar bisa menjadi sulung yang kuat fan bertanggung jawab untuk adiknya nanti," ucap Leo sekilas mengusap perut istrinya.


"Mas Leo mau punya anak banyak?"


"Se dikasihnya, La.".

__ADS_1


"Ameena program hamil juga? dia pernah cerita sama aku," lirih Aurora sambil menunduk.


"Maunya, tapi dokter belum izinin karna di masih masa pemulihan. Ameena masih minum obat yang tidak di anjurkan untuk ibu hamil. Kita fokus ke kamu dulu ya, "


"Tapi aku kok ngerasa gak enak. Dia istri pertama tapi aku yang hamil duluan, kesannya aku gak sopan ya?"


Leo tertawa, ia gemas dengan apa yang di ucapkan istrinya barusan, mana mungkin Aurora punya pikiran seperti tentang adab hamil dalam pernikahan poligami.


"Kok ketawa?" tanya Aurora kesal.


"Kamu lucu, mana ada begitu. Kita udah udah usaha, dan ternyata Tuhan kasihnya ke kamu dulu untuk memberiku keturunan. Bukan masalah siapa yang lebih dulu ku nikahi. Tapi siapa yang lebih dulu diberikan rejeki dan kepercayaan," jawab Leo.


"Aku doakan dia cepat hamil juga, dia layak dan pantas menjadi seorang Ibu."


"Aamiin, terimakasih do'anya ya. Kamu yang terbaik," sajut Leo yang merasa semakin kagum dengan kelapangan hati istrinya.


"Mas--," panggil Aurora.


.


.

__ADS_1


Yaa Zawjatii.... ( Ya, istriku)


__ADS_2